Kamis, April 16, 2009

Transmutasi Kebablasan

baik disadari maupun tidak, secara perlahan-lahan adanya suatu bentuk transmutasi yang belum kita rasakan dampaknya secara konkret. Namun hal semacam ini akan muncul dengan sendirinya jika sudah mencapai titik puncaknya/kecemasan (anxiety). Namun seiring dengan segala perkembangan dalam dinamika sosial yang heterogen, hal semacam ini yang harus menjadi aset bangsa dan kondusif dalam kemajuan bangsa dengan menciptakan intelektual - intelektual muda yang menekuni masing-masing bidang keahlianya mulai terjerat dalam segala bentuk penyimpangan. Jika kita pandang secara global masyarakat indonesia adalah masyarakat yang unik dengan segala macam keanekaragaman yang patut di acungi jempol dan bukan hanya itu, masyarakat indonesia juga di beri anugrah oleh Yang Maha Kuasa berupa tanah yang luas, subur serta berkecukupan.Akan tapi mereka kadang terobsesi / terlena dengan pemberia-Nya yang dampaknya sedikit kebablasan, semisal banjir tanah longsor dan lain sebagainya.
Kalau kita lihat dari peradaban islam yaitu pada abad 14-an umat islam lebih unggul dibanding dengan yang lain dari semua aspek-aspek penunjang kehidupan. Bukan hal yang tabu lagi jika berbicara, bahwa zaman sekarang adalah zaman yang mutakhir (modern) dapat mengungguli dan menyaingi umat islam. Hal semacam ini perlu kita telusuri dan direnungkan kembali dari awal hingga sekarang ini, kenapa hal ini bisa terjadi? bahkan penulis pernah mendengarkan yang menggemparkan dan menguggah hati. Mengapa umat islam menjadi umat terpuruk dan terbelakang.Apakah ALLOH sudah tidak peduli islam?
Sungguh dahsyat, pertnayaan yang mudah tapi dapat menggemparkan hati. Perlu kita kaji ulang, sebenarnya kemunduran / keterbelakangan bukan terletak pada kesalahan agama.Tapi terletak pada diri tubuh kita yang mengaku beragama islam tepi banyak hal yang tidak mencerminkan atau kurang mengaplikasikan ajaran-ajaran islam dalam keseharian kkita.
Di era modernis ini, khususnya di negara yang terkorup ini. Diperlukan adanya transmutasi yang agrarian ke era modernis. Era statis ke era dinamis, era kepicikan beralih ke era kebebasan berpikir (freedom of think) atau kebebasan berbuat (freedom speak). Namun dalam me-mindset pola pikir kita dalam era modernis kurang sesuai dengan kebutuhan -kebutuhan yang perlu di optimalkan dalam aspek -aspek kehidupan bangsa. Sebagai contoh: suhu politik yang mulai memanas memasuki tahun pesta demokrasi di tahun 2009 sudah terasa. Hal semacam ini yang seharusnya di jadikan sebagai ajang mencari pemimpin rakyat dan saling melengkapi. Berbanding terbalik dengan harapan rakyat, sungguh ironis mantan-mantan pemimpin bangsa dan bagian dari perpol yang ikut dalam bagian ini. Tidak saling melengkapi kekurangan -kekurangan dari pihak lain tapi malahan menjelekan di depan publik dan saling menjatuhkan.
Dari berbagai fenomena di atas adalah bukti bahwa transmutasi yang kebablasan dalam kemajuan bangsa. Seakan-akan percaturan tingkat atas pemerintahanan tak pernah selesai sampai terpenuhinya nafsu tanpa memperdulikan nasib rakyat.
Dalam hal ini, siapa yang harus bertanggung jawab ?
Negara indonesia dapat dikatakan sudah terlambat dalam memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Tapi, apakah kita akan selalu duduk termenung, diam dan hanya mirsani nasib.Sungguh bodoh dan piciknya kita, jika hanya hal ini yang bisa kita lakukan.Semua tanggung jawab bukan terletak pada presiden, agama, perdana menteri, gibernur, bupati,perpol dan lain-lain. Tapi, semua itu tanggung jawab terletak pada tingkah laku kita untuk mengoptimalkan segala kemampuan dan bidang keahlian yang kita tekuni serta tetap dalam koridor agama. Supaya kita tidak kebablasan dalam bertingkah laku dan bertindak.Amien.

0 comment:

Posting Komentar