Rabu, Mei 27, 2009

Nama : Hendri Unduh Nurmawan
( mahasiswa Stainu Kebumen)


BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Seiring dan seirama dengan perkembangan zaman serta di motori krisis multidimensi dari berbagai aspek kehidupan yang semakin mencekik aspek-aspek kehidupan masyarakat Indonesia.Hal semacam ini tidak lepas dari pengaruh dari iklim globalisasi yang semakin menjamur di dalam pribadi individu masyarakat Indonesia.Yang seakan–akan sebagai cerminan utama dalam mengaplikasikan segala intervensi – intervensi kehidupan yang sudah terprogram terencana maupun masih dalam bentuk apa adanya.Sehingga, segala bentuk pemikiran dan paradigma kehidupan mayoritas telah terkonsep secara pragmatisasi kehidupan laksana lingkungan yang membentuk pribadi bukan kita yang membentuk lingkungan.So, dari sinilah penulis berasumsi munculnya bibit–bibit unggul pemudaran nilai-nilai cultural Islam dengan pemicu kurangnya benteng nilai-nilai kepribadian (ibda’ binafsih) yang di gunakan untuk mengejewantahkan persepsi – persepsi yang masih mengendap di otak bawah sadar kita.
Selain itu (otherwise) di samping mahluk individualistic (egosentrik), manusia juga mahluk berbudaya yang hidup berproses di lingkungan masyarakat sekitar.Sehingga tidak dapat di pungkiri lagi bahwa segala bantuk aplikasi-aplikasi kehidupan juga tidak lepas dari ending pemahaman dari berbagai unsur-unsur kehidupan yang telah terkonsep dan di padukan diproses didalam otak manusia dan disimpulkan dalam bentuk tindakan-tindakan yang konkret dalam kehidupanya.Hal semacam ini merupakan bagian substansial dari gabungan berbagai unsur yang secara global di wujudkan dengan penilain globalisasi.
Tidak hanya itu, segala problematika yang dapat dikatakan masih tersembunyi di balik tangan (invisible hand) seakan begitu cepatnya muncul kepermukaan yang tidak di barengi kematangan berfikir dan bertindak.apa permasalahan utamanya?

Aspek sejarah
Untuk melihat manusia dan kebudayaannya, Islam tidaklah memandangnya dari satu sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. Ini sangat terlihat jelas di dalam firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “ ( Allah)-lah Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari saripati air yan hina ( air mani ). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya “.
Walaupun tidak secara konkret bahwa nilai –nilai budaya tidak begitu diturunkan dengan meniru konsep-konsep yang sudah tersirat dalam budaya islam.Hal ini dapat memastikan belum tentu anak Kyai menjadi kyai or sebaliknya..
Dari sinilah kita bisa sedikit mengaitkan mata rantai kehidupan dan perubahan-perubahanya yang terjadi dari tahun ke tahun sebagai tolak ukur pribadi kita.Seberapa jauh kita bertindak dan berbuat demi kelestarian adat budaya islam yang menjadi ciri khas identitas kita atau bahkan kita merapuhkan eksistensi dari keberadaan nilai –nilai cultural bangsa.
Tetapi, dibalik makna teoritis yang mendekati kesempurnaan yang bisa di pakai sabagai acuan landasan pemikiran seakan –akan bagaikan ruang intervensi yang hanya terkonsep dan tersembunyi di dalam otak bawah sadar kita.Dan hanya teoritis saja tanpa implementasi yang konkret.
Dari berbagai statement di atas telah memberi dampak tersendiri dengan memberi ruang kegelisahan ( anxiety space ) pada diri penulis.Dan dengan cara inilah penulis berbagi dengan audiensi untuk memecahkan problematika-problematika budaya islam di indonesia di lihat dari kaca mata antropologi.Dengan memegang jati diri bangsa dalam bentuk budaya islam.Tapi, tidak lepas pula diri kita untuk menyesuaikan budaya –budaya peradaban dunia guna untuk mencapai titik keseimbangan dan kesetaraan berbuat, berpikir dan beramal sholeh.

Rumusan masalah
Dari statement di atas maka kami mempunyai kebuntuan dalam berbuat, berpikir dan beramal sholeh.di antaranya:
1.bagaimana mensinkronasikan antara budaya islam ( modernis ) dengan budaya islam ( tradisional ).Tanpa menghilangkan nilai-nilai islam yang Ke-indonesiaan.
2.Konsep apa yang diperlukan dan mendasar untuk membentengi nilai –nilai kebudayaan islam totalis dan idealis?
3.Bagaimana pandangan antropologi budaya akan problematika ini dan apa ending-nya berdasarkan kacamata antropologi budaya islam yang ke- indonesiaan?

Pambatasan masalah
Berdasarkan ketentuan pihak Dosen.Kami hanya membahas antropologi yang dihubungkan dengan antropologi modern dan lebih khususnya tentang antropologi budaya islam.

Tujuan pembuatan makalah
a) Penulis
• Untuk memenuhi salah satu persyaratan tugas Antropologi pendidikan.
• Dapat melatih penulis dalam terjun di dunia tulis menulis.yang mungkin membutuhkan banyak refresensi dan korelasinya dengan disiplin ilmu yang lain.
b) Pembaca
• Dapat memperkaya suatu kajian keilmuan akan suatu problematika sosial dan budaya islam.
• Dapat digunakan sebagai refrensi tambahan dalam memahami atau dalam pembuatan makalah lainya yang adanya kesinambungan dan korelasi ilmu.
• Dapat di gunakan sebagai kajian bersama dengan mengangkat suatu permasalahan.


BAB II
LANDASAN TEORI

Latar Belangan Sejarah Antropologi
Ilmu Antropologi termasuk ilmu-ilmu social yang lain mempunyai sejarah tersendiri. Antropologi disebut ilmu yang baru atau muda karena perkembangan antropologi relatif baru,Disebut ilmu tua karena sejarahnya terutama bagian antropologi yang disebut dengan Etnografi
Walaupun Antropologi dikatakan ilmu yang relatif muda.Karena sebagai ilmu pengetahuan baru berkembang abad ke XX.Namun Antropologi telah ada sejak lama (terutama obyeknya, yaitu manusia), dengan menitik beratkan studinya pada kelompok kelompok manusia dan tergolong dalam ilmu sosial, maka sesungguhnya antropologi telah ada sejak manusia itu
Perkembangan Antropologi Di Indonesia
Fase pertama
Pada awal tahun 1800-an negara-negara Eropa Barat melakukkan kolonialisasi atas negara–negara Afrika, Asia dan Amerika. Menurut pandangan orang Eropa bangsa-bangsa yang dijajah masih primitif, buas dan sering dikatakan bangsa-bangsa yang masih asli, yang belum mengalami perubahan dan kemajuan.
Fase kedua
Pada fase ini pertengahan abad 19 banyak ditemukan tulisan mengenai aneka warna kebudayaan dan tingkat evolusinya.Deskripsi mengenai suku bangsa di luar Eropa merupakan kebudayaan yang masih tradisional dan merupakan sisa kebudayaan kuno.
Fase ketiga
Pada awal abad ke 20 ilmu Antropologi mengalami kemajuan, ilmu Antropologi dipergunakan oleh bangsa Eropa untuk mempelajari adat-istiadat dan keabiasaan bangsa yang terjajah.Dengan mengetahui data tentang kebiasaan itu dapat dipergunakan untuk mempertahankan kolonialismenya di negara yang dijajah tersebut

Fase keempat
Sesudah tahun 1930-an ilmu Antropologi mengalami perkembangan luar biasa, dipengaruhi oleh metode ilmiah dalam melakukan penelitian. Masyarakat terjajah mengalami perkembangan, maka Antropologi seakan mengalami kehilangan objek penelitian. Antropologi mengembangkan metode ilmiah terutama PT di Eropa dan Amerika, dan seluruh dunia.

Pengertian Antropologi
• Menurut etnologinya kata antropologi
berasal dari kata yunani “Antropo” yang berarti manusia dan “logy” atau “logos” berarti ilmu yang mempelajari tentang manusia
• Menurut Ralfh L Beals dan Harry Hoijen : 1954: 2
antropologi adalah ilmu yang mempelajarai manusia dan semua apa yang dikerjakannya.
Menurut Ralfh L Beals dan Harry Hoijen : 1954: 2
• antropologi adalah ilmu yang mempelajarai manusia dan semua apa yang dikerjakannya

Definisi Antropologi Sosial-Budaya

Antropologi Sosial-Budaya atau lebih sering disebut Antropologi Budaya berhubungan dengan apa yang sering disebut dengan Etnologi. Ilmu ini mempelajari tingkah-laku manusia, baik itu tingkah-laku individu atau tingkah laku kelompok. Tingkah-laku yang dipelajari disini bukan hanya kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, tetapi juga apa yang ada dalam pikiran mereka. Pada manusia, tingkah-laku ini tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang mereka lakukan adalah hasil dari proses belajar (You Are What You See And What You Read) yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah-laku ini dengan cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan social yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli Antropologi disebut dengan kebudayaan.

Sehingga islam mendefinisikan “Dalam kaidah fiqh disebutkan : “ al adatu muhakkamatun “ artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum.3 ushul fiqh alfaraidul bahiyah risalah Qawaid fiqh., hal.24.Drs moh adib bisri.penerbit menra kudus.kudus
Dari sinilah dapat dapat kita renungkan dan pahami.Bahwa adanya keterkaitan yang erat dan saling melengkapi satu sama lain ( simbiosis mutualisme) antara antropologi social, budaya ( adat ),serta nilai-nilai keislamanya.
Definisi Antropologi budaya modern
Sebenarnya definisi antropologi budaya itu sama baik dari sudut pandang klasikal maupun dari sudut pandang modern.Hanya saja kata modernis maupun klasikal sebagai pemicu perubahan dari individu sendiri untuk bertindak dan berbuat.
Telah kita mafhumi segala bentuk tingakah laku dan pola pikir manusia itu sendiri tidak lepas dari keterkaitan alam sekitar.Namun hal ini sebagai bentuk pernyataan mayoritas yang telah membumi dalam benak manusia.Walaupun ada statement
Ikan di air asin, ikan tidak Ikut asin.
Dengan adanya statement di atas hal ini membuktikan bahwa dorongan personal akan perubahan itu mempengaruhi juga segala perbuatan individu itu sendiri yang tidak hanya di dominasi oleh lingkungan sekitar.
Antropologi Budaya Mencakup:
1. Etnografi
• Ilmu ini mempelajari mengenai berbagai kebudayaan pada suatu masyarakat secara mendetail pada suatu kenyataan berupa aktivitas nyata masyarakat.
• Kenyataan diperoleh dari berbagai observasi yang biasanya dilakukan oleh Antropologi budaya.
• Sebenarnya beberapa tahun yang lalu para ahli tersebut hanya berpegang pada teori untuk memprideksi aktivitas dalam masyarakat, sekarang telah meninggalkan teori-teori itu dan langsung pergi ke lapangan, hidup dengan orang-orang primitif, makan, tinggal, dan ingin mengetahui nilai-nilai serta motivasi mereka.:
2. Etnologi
• Para ahli Antropologi menggunakan datadata etnografi dan teori-teori kemudian membandingkannya dengan berbagai kebudayaan untuk mempelajari tingkah laku manusia.

3 Antropologi Linguistik
• Ilmu ini mempelajari bahasa baik lisan maupun tulisan dari bangsa-bangsa diseluruh dunia. Antropologi linguistik juga mempelajari sejarah perkembangan bahasa dan hubungannya antara bahasa- bahasa itu dengan nilai budaya yang ada.
4 Foklore
Ilmu ini mempelajari kreativitas manusia, musik, drama, cerita rakyat, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kesenian.
5 Antropologi sosial
• Antropologi ini tertarik untuk mempelajari struktur dan fungsi kelompok dengan melihat fenomena-fenomena seperti materi kebudayaan, bahasa, karya seni, dan agama, yang lebih menekankan institusi daripada melihat manusia
sebagai pribadi.
• Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai mahkluk masyarakat , terutama sifat-sifat khusus badani dan cara-cara produksi, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup berbeda dari yang satu dengan lainnya ( Prof Harsojo)
BAB III
PEMBAHASAN

Setelah kita ketahui dari berbagai definisi dari cabang antropologi diatas, telah kita ketahui dan pahami bahwa segala bentuk nilai – nilai yang terkandung dalam budaya di atas adalah nilai social dari komunitas individu yang berinteraksi bersama dan menetap dalam kurun waktu yang lama dengan menghasilkan suatu kebudayaan / adat kebiasaan dalam kehidupan bersama yang digunakan sebagai jalan hidup (way of life) atau pandangan hidup (view of life) dalam hidup bermusyawarah dan bermasyarakat.
Tidak hanya itu pula segala bentuk pandangan yang sudah membumi dan terkonsep dalam pemikiran individu tidak akan bisa ( be difficulty ) untuk merubah konsep –konsep yang sudah terprogram dalam file otaknya.Andaikata bisa, hal ini membutuhkan kurun waktu yang sangat lama dan berkesinambungan dalam mnyusun kembali file yang ada.Sehingga segala pemikiran pragmatis yang datang dari luar budaya-budaya dan tatanan social masyarakat sangat sulit di terima dan kadang individu itu sendiri bersifat frontal dalam menanggapinya tanpa di cerna dahulu.
So, timbulah tindakan –tindakan pengasingan diri bagi individu yang sulit memahami dan bahkan sulit menerima kebudayaan-kebudayaan baru yang datang dari luar guna untuk mempertahankan dirinya.karena kebodohanya dalam memahami suatu problematika yang di pahami secara parsial dan otodidak .
Dari sinilah timbulah-timbulah pemikiran-pemikiran baru yaitu adanya kecurigaan pada seseorang yang belum dikenal, atau sudah dikenal tapi memiliki perbedaan dalam pandangan hidup kedepan.karena tingginya sensitifitas individu dan hilangnya sifat tasamuh( toleransi) individu dalam bersosial.
Berbalik Badan
“Lain kolam lain ikan (different pond different fish)” inilah kiasan yang bisa penulis tangkap dari perkembangan antropolgi budaya modern. Bahkan tidak sedikit orang mengatakan dengan menguatkan statementnya.Dulu ya dulu sekarang ya sekarang.Pernyataan ini merupakan bagian bagian dari beberapa penyebab akan pudarnya budaya bangsa Indonesia yang bernuansa klasik karena tergilas oleh peradaban budaya modernitas.Maka, tidak menutup kemungkinan sistematika ideology individu yang penuh dengan konsep penolakan (fobia ) akan semakin jauh dari jati diri bangsa yang merupakan bagian dari budaya-budaya bangsa yang pada akhrinya sebagai pertahanan nilai-nilai nasionalis nilai-nilai kekayaan asset bangsa yang tidak di miliki oleh Negara lain.
Malestarikan dan membuang
Setelah berproses dalam ketatnya pemikiran dari beberapa sumber dan referensi keilmuan.Sebuah harapan dari penulis terhadap suatu problematika yang sudah ditarik dari dua aspek yaitu aspek sejarah dan modernitas harus mengalami dinamika kehidupan. Maksud dinamika disini adalah adanya pola pergeseran peradaban yang mungkin tidak secara komprehensif tapi parsial dengan melalui seleksi ketatnya budaya-budaya yang masih satu pemahaman dengan budaya bangsa indonesia.Dimana hukum indoensia itu mempunyai tiga bentuk yaitu :
1.hukum agama ( the law of religion ) karena mayoritas penduduk indoensia adalah penduduk yang beragama ( non-atheisme).
2.Hukum yuridis nasional / hukum undang-undang.Suatu hukum Dimana dengan dinamika itu untuk menepis
3.Hukum adat – istiadat dimana hukum ini merupakan suatu kebiasaan masyarakat indonesia yang mempunyai ciri khas tiap daerah masing-masing.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita berupaya menjaga, merawat, mengemas, dan mempublikasikan kekayaan warisan budaya kita kepada dunia untuk mengukuhkan identitas kita sebagai bangsa yang bermar¬tabat. Sebab, hanya dengan memahami dan menjaga kekayaan warisan budaya dan sejarah, bangsa ini akan dihargai dan dipandang secara terhormat oleh bangsa lain. Benefit lain yang bisa dipetik ialah bahwa bangsa ini juga dapat berangsur melepaskan diri dari hegemoni budaya asing (Al Mudra, 2007b). Penting untuk digarisbawahi di sini, masyarakat yang dinamis tidak selalu menolak pengaruh budaya luar. Produk budaya asing yang mendorong kepada perbaikan hidup dan kemajuan, tidak perlu serta-merta ditolak. Hal ini berpegang pada prinsip “al muhafadhatu ‘ala al qadimi as sholih wal akhdzu bi al jadidi al ashlah”, yang maknanya adalah menjaga warisan (budaya) lama yang baik, dan mengadopsi sesuatu (budaya) yang baru yang lebih baik (Ibid, 2007b).

Dari sini kita dapat dapat sedikit banyak tahu akan budaya bangsa yang secara kacamata antropologi merupakan budaya warisan kedaerahan dan hanya ada pengaruh dari colonial.
BAB IV
PENUTUPAN

Dengan adanya wacana dan beberapa sumber sebagai rujukan penulisan.maka penulis dapat menyimpulkan bahwa:
Hal yang perlu kita perhatikan sebelum mensinkronasi antara antropologi budaya klasik dengan antropologi budaya modern yaitu dengan pemahaman secara integral-komprehensif sehingga kita bisa mengambil titik temu dengan melestarikan budaya yang lama dengan mengikuti arus budaya baru.Dengan catatan adanya ibda bunafsih (penguatan jati diri) pada individu untuk memunculkan identitas diri di tengah globalisasi pada diri individu yang merupakan cerminan dari syari’at islam yang sudah di gabungkan dengan hukum-hukum budaya dan yuridis bangsa indonesia.
Dengan pemaparan dari makalah kami, bahwa semua individu dapat menarik kesimpulan yang berbeda –beda.karena segala kesimpulan yang di tulis tidak lepas dari budaya –budaya individu dalam keseharian dan ideologi dari individu itu sendiri dalam memahaminya.Penulis hanya menarik secara garis besar, bahwa segala konsepsi-konsepsi agama hanya pada pemaknaan dan pelafalan secara konkret dalam artian di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan yang ketiga bahwa berdasarkan pada makna teoritis diatas yang di paparkan dari beberapa tokoh.Kami penulis sedikit banyak menyimpulkan bahwa antropolgi memandang bahwa dengan memagang nilai budaya dan cultural bangsa kita dapat dikatakan dapat melestarikan nilai budaya yang ada, karena secara tidak kita dan pahami, bahwa nilai –nilai antropologi di lihat dari aspek sosial –masyarakat kita yang telah tersubstansial dalam antropologi budaya.sehingga dari sinilah peran antropologi dapat di fokuskan dan di pahami secara bijak.tanpa mengesampingkan ilmu –ilmu yang lain.

Saran dan kritik
Dari makalah di atas, bahwa segala nilai-nilai kabudayaan akan ditentukan oleh generasi muda dan mahasiswa yang membawa visi kedepan menuju indonesia bisa di globalisasi dengan masih memegang nilai-nilai bangsa yang merupakan identitas diri.so,mulai dari sekarang kita kuatkan tali kahidupan budaya klasikal dan modern yang merupakan mata rantai kehidupan antar peradaban bangsa indonesia. Hal ini berpegang pada prinsip “al muhafadhatu ‘ala al qadimi as sholih wal akhdzu bi al jadidi al ashlah”, yang maknanya adalah menjaga warisan (budaya) lama yang baik, dan mengadopsi sesuatu (budaya) yang baru yang lebih baik
Kritik
Bersamaan dengan selesainya makalah di atas, tidak lepas dari kekurangan dari penulis akan tata bahasa, refrensi ilmu maupun pemahaman diri penulis.oleh karena itu, kami selaku tim penulis masukan kritik dan saran yang bisa dijadikan nilai-nilai dalam membangun diri pribadi agar menjadi pribadi yang lebih baik kedepan.karena perubahan tidak akan pernah berhenti dari proses.change is never ending proces.

DAFTAR PUSTAKA

D Wattles, Wallace.2008.the science of being great.jakarta:gramedia utama.
Purwowibowo.Pengantar Antropologi.http://antrounair.wordpress.com/2008/11/pengantar_antropologi.pdf
Siregar,leonard.Antropologi dan konsep kehidupan.Universitas Cendrawasih:Jayapura
Bisri, Drs Muh adib.Risalah qawaid Ushul Fiqh Alfaraidul bahiyah.Menara kudus:Kudus
Nurshodik,KH.2009.Metode berfikir ( Manhajul fikri)atau ciri-ciri dasar kaum nahdliyin.Kebumen
Dinal mudra, Mahyu.2008.warisan budaya dan makna pelestarianya.melayu online:Malaysia.

2 comment:

MuallimahAfifah mengatakan...

Assalaamu'alaikum, saya ingin bertanya:
Apakah maksud antropologi islam?

www.triplesahabat.blogspot.com mengatakan...

wa'alaikum salam
Mb iffah yang terhormat, antropologi bagian dari ilmu yang mempelajari corak warna budaya dalam masyarakat.
sehinggan jikalau antropologi islam sebagai bahan study, segala corak kehidupan baik yang bendawi ke maknawi maupun sebaliknya menjadi kajian untuk saling memahami hakekat keagamaan di suatu daerahnya masing-masing.maaf baru sempat balas.

Posting Komentar