Minggu, Juni 21, 2009


BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang
Dengan, bertambah tuanya kehidupam umur bumi, yang tidak lepas dari proses transformasi kehidupan manusia yang sangat signifikan dan revolusioner. Hal ini di picu oleh tuntutan pendidikan, kehidupan dan juga dari berbagai aspek pendukung lainya. Jika kita lihat secara parsial sesuai masing-masing disiplin ilmu lainya. Saya kira perubahan ini merupakan perubahan yang mayoritas membawa dampak mudharat, karena segala pemikiran-pemikiran para pakar juga tidak lepas dari ideology yang ada pada diri penulis. Kita ambil contoh sederhana:
Ahli geologi mungkin akan memandang tranformasi bumi dikaitkan dengan disiplin tentang dampak tata ruang lapisan bumi dan mencairnya gletser di kutub utara dan selatan ( north and south pole). Ahli Geofisika dan Meterologi yang tergabung dalam Badan Meteorology dan Geofisika ( BMG ) mungkin akan memandang kaitanya dengan tata ruang angkasa seperti lubang ozon yang mulai melebar kerusakanya atau bahkan tentang efek rumah kaca. Para pencinta alam dan dinas perhutani mungkin dalam memahami tranformasi bumi akan berbeda dengan pandangan ahli-ahli yang atas. Mereka mayoritas akan memandang dengan kaca mata disiplin ilmu mereka yang ditekuni.
Dari sinilah kita dapat mengetahui bersama, disamping munculnya sikap profesionalitas individu dalam memandang dunia. Serta secara substansial pandangan mereka tidak lepas dari tanggapan tentang transformasi bumi. Namun, perlu kita pahami bersama, bahwa tidak semua statement mengarah pada penolakan, kami ingatkan kembali. Bahwa semua statement tergantung disiplin ilmu yang mereka tekuni.
Namun, sekarang kita sebagai mahasiswa yang dapat dikatakan berdisiplin ilmu pendidikan agama (Calon Guru Agama) tentu mempunyai pandangan yang berbeda dalam menanggapi masalah di atas. Bahkan, kita mempunyai tugas yang sedikit berat. Mengapa? Memang sudah barang tentu, kerena kita harus bisa mengayomi dan merangkul segala pandangan tiap pendapat yang berbeda dengan pendekatan Al-qur’an, Sains dan Sejarah. Munculkah kesadaran kita sebagai mahasiswa berbasis agama untuk bisa mengayomi mereka.

Kembali ke topik permasalahan, tidak lepas dari kelemahan penulis dalam mengkorelasikan transfomasi dunia dengan alam, mungkin banyak timbul permasalahan yang belum kita sadari bagian dari kelalaian kita. Contoh sederhana: Banjir ( Blood), Gempa Bumi ( Earthquake), Tanah Longsor, Lumpur Lapindo, Tragedy Situ Gintung dan masih banyak lagi.
Dari sebagian contoh diatas tidak mudah bagi kita (sarjana muslim) untuk mengayomi para ilmuan agar tidak bercerai - berai dan bukan hanya itu saja tugas kita, masih ada tugas yang mengantri, bagaimana untuk menyelesaikan masalah diatas (solving problem) tanpa mengesampingkan berbagai pendapat ahli, justru harus menggunakan pendapat ahli yang mempunyai disiplin ilmu sesuai dengan tingkat profesionalitasnya.
So, akankah kita mampu, oleh Karena itu kami selaku calon sarjana muslim perlunya untuk memahami, menghayati secara integral komprehensif dalam menindak lanjuti alam dengan pandangan konsep illahi demi kelestarian alam dengan pemahaman islam yang selalu mengiringi kemajuan zaman.
Almukhafadhu ‘ala qodimiissholih wal akhdu bil jadid al-aslah
( menjaga tradisi lama yang baik, serta mengambil tradisi baru yang lebih baik)

Rumusan permasalahan
Dari permasalahan yang mendasar tentang lingkungan hidup. Secara pemahaman totalitas pada diri kami mempunyai variabel problematika yang bersifat menyeluruh.
1. Mengapa islam menjadikan manusia mempunyai peran ganda ( multichoice or mutifunction) menjadi khalifah dan menjadi perusak, bagaimana pendekatan secara ilmiah , sejarah yang tidak lepas dari Alqur’an dan Hadist?
2. Bagaimana cara mengayomi berbagai perbedaan disiplin ilmu tentang pandangan lingkungan hidup dalam berbagai problematika dengan mengedepankan nilai islam?
3. Disamping penalaran ilmiah, sains dalam koridor qur’an dan hadist, mengapa di zaman sekarang khususnya islam kurang di pandang sebagai salah satu pengayom / payung kebersamaan dalam menyelesaikan masalah alam. Namun sebagai penyebab masalah alam.seperti kasus palestina Vs israel yang selalu berperang tanpa henti atas dasar perubahan dan perebutan wilayah alam, kekuasaan?

Pembatasan masalah
Dalam pembuatan makalah ini, kami selaku penulis hanya membatasi pemahaman islam yang kaitanya dengan lingkungan hidup.

Tujuan pembuatan makalah

a) Penulis
• Untuk memenuhi salah satu persyaratan tugas Islam dan lingkungan hidup.
• Dapat melatih penulis dalam terjun di dunia tulis menulis. Yang mungkin membutuhkan banyak referensi dan korelasinya dengan disiplin ilmu yang lain.
• Untuk melatih tanggung jawab dari makalah yang telah kami buat

b) Pembaca
• Dapat memperkaya suatu kajian keilmuan dalam problematika islam dan lingkungan hidup.
• Dapat digunakan sebagai referensi tambahan dalam memahami atau dalam pembuatan makalah lainya yang adanya kesinambungan dan korelasi ilmu.
• Dapat di gunakan sebagai kajian bersama dengan mengangkat suatu permasalahan baru


BAB I
PEMBAHASAN

Latar belakang
Hamparan laut bagai selimut biru illahi
Hati manusia tak seluas cakrawala langit
Dengan Semerbak bintang malam telah engKAU hiasi langit
Dengan akal telah engKAU hiasi manusia dengan ilmu.

Lepas dari statement secara teoritis, telah kita ketahui bersama kehidupan manusia bagai ikan di hamparan alam semesta sebagai airnya, yang tidak bisa melepaskan air selama dia ingin hidup, makan, berkembang dll. Begitu juga dengan manusia, selama dia ingin hidup tidak bisa melepaskan diri dari dunia / alam semesta. Selain partner hidup, alam sebagai tempat manusia bertahan. Dari contoh kecil diatas kita sedikit banyak merasakan, begitu pentingnya alam. Andaikata kita hidup tanpa alam. Mungkinkah? Subhanalloh, tidak mungkin kita lepas darinya. Siapa yang menciptakanya, secara penalaran logis. Alam adalah pertner hidup manusia, tentunya yang menciptakan yang MAHA lebih dari manusia, karena mustahil sesuatu di buat oleh sesuatu yang bisa melebihi sesuatu hal ( pambuat).
Firman ALLOH SWT:
29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. ( QS. Al-baqarah:29).
Dari sinilah kita mulai mengetahui dan mungkin barangkali sebagai jawaban perasaan kegelisahan kita tentang penciptaan alam semesta. Secara pemaparan pendekatan sains, kasus keimanan albert enstein . Begini asal mulanya: Waktu mengadakan peleburan sebuah bahan yang beratnya 1 Kg ternyata setelah melebur dan ditimbang beratnya berkurang 1 gram. Kemudian melakukan penelitian ulang dengan meleburkan bahan lebih banyak lagi dan hasilnya tetap sama serta kelipatan dari bahan yang di leburkan. Kemudian enstein berpikir bahwa bahan yang dileburkan tidak mungkin lebih besar dari massa orang yang melebur1, sesaat kemudian enstein berpikir, jika alam ini di leburkan pasti akan melepaskan semakin banyak energi yang tidak terhingga, tapi siapa yang mrnciptakan alam ini? Pasti lebih agung dari manusia, karena energinya lebih besar dari alam ini.Sesaat kemudian enstein berikrar meyakini keagungan illahi sebagi pencipta alam ini. Subhanalloh.

Dengan adanya ayat Al-qur’an diatas dan pendekatan sains secara substansial sebagai penguat dan pembenaran semata hanya ALLOH SWT pencipta alam. Sehingga tidak ada kata untuk mengelak dan menyampingkan alam dengan sekuler.Tidak hanya itu, sebenarnya segala alam yang ada disekeliling kita mempunyai makna dan fungsi tersirat dalam kehidupan alam yang tidak lepas dari konsep islam.Hanya saja faktor manusia itu sendiri yang menjadi penghambat untuk mengungkap misteri alam. Contoh kecil: Adanya pesawat terbang, tidak lain merupakan pengembangan akal manusia yang di ilhami dari penciptaan Burung, Kereta api merupakan pengembangan akal manusia yang di ilhami dari penciptaan Ular. Subhanalloh? Ternyata, keberadaan manusia tidak lepas dari alam dan masih banyak lagi yang belum terungkap demi kemaslahatan bersama.
Begitu nyata peran islam kepada alam, segala sesuatunya sudah termaktub dalam intervensi illahi
73. dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. (QS AL-An’am: 73)
Mungkin, dari beberapa pemaparan diatas sedikit mungkin banyak ketidak puasan. Dalam artian kurangnya pemaparan lebih lanjut sejauh mana peran islam terhadap lingkungan hidup dan atas dasar apa islam berperan aktif dalam pendayagunaan alam.Tidak lepas dari keterbatasan penulis dalam disiplin ilmu dan rerefensi-referensi yang pernah penulis dapatkan, kami berusaha ingin mengungkap contoh peran islam dalam kategori dapat diterima orang awam, dari sini bukan berarti penulis merendahkan pembaca dalam memahami pemaparan kami, tapi alangkah baiknya dan indahnya jika kita mempermudah suatu kaum dan tidak mempersulit. Betul kan?
Yuridulloohu bikumul yusron wala yuridubikumul ’usr**
( alloh menginginkan kemudahan dan tidak mempersulit )


Tanpa berbelit kata kita ambil contoh konkret:
Mengapa kita harus mandi? ya iyalah supaya bersih. Mengapa harus bersih? bukankah kita bisa hidup tanpa mandi? memang bisa, apakah kita tidak malu / risih sereta selamanya tidak akan mansi. Dari pertanyaan diatas kami berusaha menjawab secara awam. Apa makna filosofi mandi? ingat perintah firmanya:

222. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS Al- Baqarah : 222)
Dan adakah kaitanya dengan lingkungan hidup, ingat suci identik dengan bersih, walaupun bersih belum tentu suci dan sebaliknya. Namun, dengan suci membawa kebersihan dan kecintaan dengan kebersihan. Kaitanya dengan lingkungan hidup, kita bisa merasakan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana kondisi kamar mandi kita dirumah, kampus. Jika bersih dapat dikatakan kategori suka kebersihan yang merupakan salah satu cabang dari keimanan seseorang2.
Sebenarnya banyak jalan yang menghubungkan kepedulian islam terhadap lingkungan hidup. Serta banyak sumber misteri yang tersirat, dalam lingkungan. So, segalanya tergantung ikthtiar kita untuk mengungkap segalanya demi kemaslhatan bersama.
Dari berbagai inovasi diatas, tak lain hanyalah mengungkap adanya peran islam dalam lingkungan hidup yang begitu signifikan, mengapa tidak? tidak lepas dari kekhilafan penulis, ada beberapa konsep yang lebih ilmiah sebagai bukti bahwa keberadaan islam tidak mengabaikan lingkungaan dan juga sebaliknya.Kita ambil contoh: Kenapa islam mengharamkan daging babi?
Secara ilmiah telah membenarkan statment islam. Sedikit mengungkapkan menurut DR Murad Hoffman, Daniel S Shapiro, MD, seorang Pengarah Clinical Microbiology Laboratories, Boston Medical Center, Massachusetts, dan juga merupakan asisten Profesor di Pathology and Laboratory Medicine, Boston University School of Medicine, Massachusetts, Amerika, menyatakan bahwa:
Daging Babi yang mengandung kolesterol tertinggi, PPAH babi juga menjadi mediator 'mujarab' bagi tempat berpindahnya sekitar 70-an penyakit yang semula ada dalam hewan babi untuk kemudian pindah ke dalam tubuh manusia.2


Dari contoh diatas merupakan, bagian kecil dari berbagai contoh alam yang secara substansial bagian dari unsur ala yang bersifat biotik sangat berkaitan dengan islam. Namun sulit kita akui bersama, secara gamblang islam telah terbuka ( blak-blakan) serta berperan aktif dalam mendayaguakan alam, namun mengapa manusia masih enggan, untuk mempunyai wawasan lingkungan, walaupun secara jelas dan terbuka lebar manusia merupakan insan kamil di mata ALLOH SWT.
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
.(QS.Attin : 4)
Apakah masih pantaskan masih menyandang gelar insan kamil? semoga menjadi renungan tersendiri, untuk merefleksikan diri ( ampunilah hamba ini dari kekhilafan ).
Dari sinilah kita bisa sedikit banyak mengetahui tarnyata manusialah yang menjadi sumber malapetaka dan kehancuran dunia ini.Contoh: Kasus Lumpur Lapindo yang tidak lain hanyalah keserakahan manusia, Tragedi Situ Gintung yang tidak lain kelalain manusia itu sendiri, karena secara tata ruang tidak diperkenankan adanya rumah penduduk di dekat bendungan.Mengapa manusia sebagai sumber segala mala petaka? Memang, walaupun telah kita ketahui bersama.manusia sebagai khalifah di bumi.
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.".( QS. AL-Baqarah 30).

Namun kita juga tidak bisa mengingkari intervensi illahi, bahwa manusialah sebagai sumber segala mala petaka yang tersurat dalam

41. telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(surat Ar-rum 41).
Tidak lepas dari kebodohan penulis, dengan melalui pendekatan sejarah, alqur’an dan Sains, konsep kekinian. Penulis sedikit banyak untuk menjelaskan dualisme manusia di indonesia.


Sejarah nabi adam dan hawa, yang telah kita ketahui bersama selama di surga hidup berdampingan dan damai, sejahtera dengan syarat masih memegang aturan-aturan illahi yang salah satunya dilarang memakan buah Khuldi. Pendek kata, karena rayuan hawa yang sumbernya dari setan, dapat meluluh lantahkan pendirian Adam. Sudah kita ketahui bersama bahwa hawa merupakan ciptaan mahluknya yang di ambil dari tulang rusuk Adam, Yang lentur dan lemah lembut.

Sehingga dalam hadist Nabi SAW bersabda:
Sesungguhnya wanita itu dijadikan dari tulang rusuk dan sesungguhnya yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang bagian atas, maka jika kamu ingin meluruskan niscaya akan putus, namun jika engkau biarkan maka akan senantiasa bengkok, oleh karena itu ajarilah wanita dengan cara yang lemah lembut.
Secara pendekatan ilmiah, logis. Dengan sifat dasar perempuan mayoritas lemah lembut, (maaf bagi kaum perempuan) hanya perempaun yang bisa/dapat dengan mudah meluluh lantahkan pendirian laki-laki.Jadi mengapa perempuan di indonesia menjadi bagian 3 TA. ( harta, tahta,wanita) penggoda, karena dengan sifat lemah lembutnya bisa di salah artikan jika tidak mendapatkan pendidikan yang betul. Artinya masuklah syaitan ke tempat mereka, lalu merayu dan memperdayakan mereka, supaya mereka makan juga buah pohon yang terlarang itu, sampai syaitan mengatakan bahwa itulah pohon kekal, siapa yang memakan tidak akan mati-mati. Sampai kerana pandainya syaitan merayu keduanya tergelincir, termakan juga akhirnya buah pohon terlarang itu. Demi mereka makan, keadaan juga akahirnya berubah, ternyata terbukalah aurat merek.
Ingat firmanya: (al-Araf, surat 27, ayat 22),

22. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"


27. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.


36. lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu[38] dan dikeluarkan dari Keadaan semula[39] dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."( QS Al-Baqarah 36)

Dengan mengedepankan konsep intervensi illahi diatas melalui pendekatan kekinian (modernitas), telah menjadi kewajiban kita selalu menginsafi diri dan berperan aktif dalam pelestarian alam. Hal ini sebagai upaya jalan menuju pintu khalifah fil ardhi dengan menepis selangkah demi langkah (step by step) keserakahan kita.Dari sini, bukan berarti kita menepis surat AR-rum:41. Tapi, kita terima dan jadikan peringatan, untuk lebih waspada dan peduli terhadap lingkungan.
Selain itu, disamping kita sebagai manusia yang mendiami bumi serta satu-satunya Mahluknya yang diberi akal serta bisa kita daya gunakan sebagai sumber intelektual kita.Maka kita bisa saja menggunakan lingkungan hidup sebagai salah satu sumber inspirasi dalam pendayagunaan alam, untuk mengingat-NYA.Dengan mengadopsi kata-kata Imam Ghozali, Bahwa pedidikan itu pembelajaran untuk mengigatNYA. So, tidak ada salahnya kita saling mengingtkan ( dakwah bil-lisan) / ibadah secara horizontal untuk saling memanfaatkan alam dengan menggunakan pendekatan ibadah secara vertikal.



BAB III

PENUTUPAN

Dengan adanya wacana dan beberapa sumber sebagai rujukan penulisan.Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa:
Telah kita ketahui bersama, bahwa manusia secara tersurat pemaparan diatas mempunyai dualisme fungsi. Secara pedekatan sejarah islam, Al-qur’an dan pemikiran logis bahwa, sebelum di turunkan ke bumi karena ketidak patuhanya ( adam dan hawa).Alloh telah menegaskan bahwa diantara kalian saling akan bermusuhan satu sama lain( pada QS. AL-baqarah 36).So, tidak ada salahnya kita renungkan dan refleksikan di dunia modern sekarang ini.Tidak sedikit kekerasan dan dampak akibat kekacauan dari umat manusia sendiri.Contoh: perang Israel Versus Palestina serta masih banyak contoh lagi, yang endingnya menyebabkan kerusakan alam baik unsur bitoik maupun abiotik.
Dalam pendekatan pemecahan permasalahan ( solving problem) suatu permasalahan islam hanya menggunakan konsep pendekatan dalil aqli dan naqli. Selain memperhatikan konsep secara fiqhiyah, Namun kita harus mempunyai konsep ilmiah.Contoh: dalam dunia islam, telah kita ketahui bersama bahwa secara fiqhiyah.Jika kita buang hajat cukup kita bersihkan dengan 3 batu. Namun, walapun secara islam tidak melarang. Namun, secara ilmiah tingkat kebersihan masih steril jika menggunakan air. Maka dari sini, kita bisa menggunakan keduanya yang tidak bertentangan.dengan prinsip, apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan islam dan masyarakat.Carilah persamaan di dalam perbedaan dan jangan mencari perbedaan dalam persmaan jika ujung-ujungnya kekacauan.
Dari pemaparan diatas kita bisa pahami bersama jika kita kaitkan dalam islam sekarang.Bahwa, haruskita akui bersama banyak tempat-tampat majlis.Mungkin, secara mayoritas secara kebersihan belum tersentuh secara maksimal.Maka, sebagai pendekatan konsep Qur’ani dan ilmiah. Di samping kita mengamalkan kandunganya dalam hal kebersihan. Secara tidak langsung, nilai ilmiah juga kita dapatkan. Yaiu dengan kebersihan maka semakin jauhnya dari penyakit.Dari sini kita bisa, memadukan dua nilai secara bersamaan dengan islami. Yang jelas pengamalamam harus kita utamakan.


Saran dan kritik

Saran
Dari makalah di atas, bahwa segala keberhasilan pelestarian lingkungan hidup dapat kita jaga dan lestarikan. Hanya dengan pengamalan yang konkret.Mulai dari diri sendiri, keluarga, orang lain.

Kritik
Bersamaan dengan selesainya makalah di atas, tidak lepas dari kekurangan dari penulis akan tata bahasa, refrensi ilmu maupun pemahaman diri penulis. Oleh karena itu, kami selaku tim penulis masukan kritik dan saran yang bisa dijadikan nilai-nilai dalam membangun diri pribadi agar menjadi pribadi yang lebih baik kedepan. Karena perubahan tidak akan pernah berhenti dari proses.Change is never ending process.

DAFTAR PUSTAKA


H jalaludin, Prof.1998.Psikologi Agama.Jakarta:PT raja grafindo
Faraidul bahiyah, moh adib bisri risalah qawaid fiqh.,penerbit menara kudus,kudus,hal :17
* di adopsi dari artikel mwngapa adging babi di haramkan? http://ysvina.blogspot.com/2009/04/mengapa-daging-babi-di-haramkan.html
Alqur;an terjemah

0 comment:

Posting Komentar