Jumat, Juli 10, 2009

MALU

Mungkin perlu kita ulas kembali arti malu di atas, karena secara diam-diam kita telah menafsirkan arti malu dalam berbagai ranah yang menguntungkan keberpihakan kita pada ego kita atau bahkan kita gunakan sebagai dalih pesan agama. Secara pemaknaan totalitas komprehensif mungkin penafsiran kita akan malu sebagai bentuk kesepakatan bersama walapun secara tersurat tidak ada ikatan yang membatasi ruang gerak.Hanya saja dengan adanya pengertian kesepakatan bersama, kadang secara tidak disadari rasa malu atau bahasa jawanya rasa pakewuh datang dengan sendirinya. Hal ini tanpa di sadari telah mendarah daging dan menyatu dalam aliran darah kita dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Sedikit menceritakan budaya jawa yang mungkin ada kaitanya dengan rasa malu dalam arti kesepakatan bersama tanpa tersurat. Semisal si A sedang berkunjung kerumah B sebagai tamu. Seperti biasanya dalam adat budaya jawa si B menawarkan jamuan minuman, makanan ringan. Mungkin secara spontan di alam bawah sadar Si A sudah tersusun suatu konsep untuk menyatakan,”nggak usah repot-repot” atau mungkin, “ dados damel”,Atau jika Si A di ajak makan mayoritas dalam adat budaya jawa akan terlintas,” sampun maem kulo”, ( walaupun kenyataanya belum makan) ini bagian sampel adat budaya kita yang sudah mendarah daging, sehingga tanpa disadari sebuah reflek untuk mengucapkan hal yang senada akan keluar dengan sendirinya karena sudah membudidaya dan terpatri dalam kehidupan seorang individu.
Sebenarnya tidak ada salahnya suatu budaya kita kembangkan dan kita lestarikan sebagai nilai luhur atau sebagai bukti bahwa kecintaan kita dalam melestarikan budaya yang ada.
Namun tidak kita pungkiri dengan budaya malu yang mungkin tanpa pemikiran yang integral komprehnsif akan mengakibatkan kekacauan abadi dalam tatanan kemasyarakatan.why not? Coba perhatikan atau kita tinjau secara langsung kenyataan yang ada di sekitar kita.Kadang sikap malu telah merambah ke ranah pembunuhan daya kreatifitas seorang individu atau mungkin juga penghambat kesuksesan kita.Coba saya ambil sample yang ada: dalam sebuah peninjaun langsung dilapangan lebih dari 8 orang dari 10 orang yang kami survei menyatakan malu jika melakukan hal-hal yang baru, atau malu bekerja ( maaf) sebagai pedangang asongan jika tidak dalam sebuah keadaan darurat.
Secara teori mereka tahu bahwa segala kesuksesan dimulai dari hal-hal yang kecil dan berani mendongkrak segala sekte-sekte rasa malu untuk berbuat unatuk enciptakanha-hal yang baru. Hal ini mungkin bagian dari pendidikan yang ada di lingkungan kita.Karena arti malu juga didapat dari pendidikan,.So siapa yang patut dipersalahkan, hanya pada diri individu itu sendiri untuk mengungkap kesalahan yang ada pada diri individu yang tidak atau enggan untuk berpikir lebih dalam lagi untuk mengetehui tentang sesuatu yang lebih dalam dan fundamental dari arti malu yang ada.
Kalau saya kaitkan dengan konsep kenegaraan dalam pergaulan kancah internasional. Bahwa segala sistem kehidupan yang ada adalah sistem konpetisi untuk kemaslahatan bersama penduduk suatu negeri tersebut. Coba kita lirik budaya negara jepang, secara parsial kita memiliki kemriripan budaya tentang adat sopan santun dan tata krama. Namun budaya membaca di negara sakura ini sungguh membumi dan terpatri di dalam jiea individu. So, tidak ada salahnya kita merefleksi budaya kita yang hilang yang jelas -jelas bagian dari perintah agama saat turunya wahyu pertama.
Peristiwa diatas mengingtkan panulis pada statment dari rektor UIN Syarif hidayatulloh Prof Dr komarudin hidayat. Bahwa dalam statmentnya menyatakan bahwa bangsa indoensia suka meniru kebebasan bangsa lain tapi bukan meniru kedisplinan yang ada.
Dari sinilah kita perlu sedikit merevisi Arti dari sebuah MALU dalam arti kesepekatan bersama ita geser ke arti MALU dalam sebuah pemikiran, namun tidak mengbaikan nilai-nilai kemufakatan secara tersurat dalam tatanan kehidupan bermayarakat.
Hanya kenyataan yang ada, di saat sekarang. Bahwa anak muda sekarang mayoritas malu jika melestarikan budaya jawa, tapi tidak malu jika berduaan ( berpacaran ) di tempat umum. Itulah kenyataan yang ada. Dan bukan kesetaraan adat.
So, Malu itu dimana kita melakukan kesalahan dari ulah kita sendiri.Bukan malu dalam berbuat untuk menjadi diri ini lebih baik.

0 comment:

Posting Komentar