Minggu, Juli 12, 2009

Invulsi

Seiring dan seirama dalam nada kehidupan, kita setiap hari, setiap saat tidak pernah merasakan saat – saat kebahagiaan, kesedihan dalam keterikatan ruang dan waktu dengan tingkat perasaan yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Kadang kala, termenung, bahwa setiap alur kehidupan tidak lepas dari keterikatan waktu dalam kehidupan sehari-hari. kita melewati waktu yang sama dalam kehdiupan sehari-hari. Namun, kesamaan tidak hinggap dalam aktivitas diluar ruang dan waktu.hanya saja waktu-waktu yang kita lalui memiliki kesamaan baik detik, menit, jam. Secara esensial kehidupan, ini merupakan bagian terlupakan dan termarjinalisasi dalam dunia pemikiran dan baru dapat disadari setelah nilai invulsi mulai mengikis cultural yang ada lebih dari setengah dari identitas diri pribadi individu. Tidak mungkin tidak dan ini benar-banar terjadi dalam kehidupan individu. Bukankah segala invulsi di mulai dari hal-hal yang kecil dan tidak nampak?
Coba perhatikan diri masing-masing. Mungkin waktu dulu ada nilai cutural dalam kehidupan kita yang bersifat membangun sebagai bagian dari identitas diri kita dan sebagai nilai perbedaan dalam keberagaman individu. Namun secara tidak kita sadari nilai-nilai identitas cultural mengalami invulsi. Keinvulsian ini mungkin bagian dari akibat dari kelalaian kita dalam menjaga dan melestarikan nilai cultural yang ada dalam diri kita atau termakan arus globalisasi. Secara subyektivitas, ini bagian dari problematika dalam kehidupan bermasyarakat, bagaimana tidak ?bukankah nilai sosial kemasyarakatan dibentuk dari perpaduan pemikiran dari tiap-tiap individu?.
Secara substansial, memang bisa kita terima, bahwa nilai-nilai invulsi tidak semuanya mengarah kepada hal negatif sebagai proses membangun jati diri dan kepribadian seseorang. Tapi, disini hanya menggunakan pendekatan nilai-nilai totalitas kehidupan dalam memahami arti invulsi kehidupan sebagai nilai subtasnsial dalam kehidupan bermasyarakat.
Mungkin tidak bisa kita pungkiri, bahwa nilai invulsi kehidupan seorang individu juga tidak lepas dari kehdupan bermasyarakat sebagai jalan mencari titik tengah kehidupan dengan mengedepankan nilai-nilai keuniversalan kehidupan dalam tatanan nilai-nilai sosial-cultural masyarakat setempat. Stau sering kita sebut dengan toleransi. Secara substansial arti dari toleransi kita terima bersama sebagai jalan / stabilisator dalam kemasyarakatan. Namun bukan berarti nilai ini tidak ada batasnya, emang betul bahwa batasan ini tidak terikat oleh ruang dan waktu, sebagai tolak ukur batasan-batasan nilai toleran. So,hanya dengan pendekatan kontektualitas dalam mengedanpan arti dari batasan-batasan toleransi sebagai konsep nilai kemasyarakatn. Secara harfiah betul tapi, batasan ini merupakan bagian dari nilai filosofi bukan sebagai nilai filosofi itu sendiri. Jadi, dalam memahami perlu perpaduan kontektualistas yang lain.
Bersambung ..........................

0 comment:

Posting Komentar