Selasa, Juli 28, 2009

Kebenaran yang Tersembunyi


Sudah rahasia umum gejolak social yang menimpa masyarakat Indonesia yang telah terangkum secara sistematis dalam realita kehidupan. Baik dalam kehidupan yang tumpang tindih antara baik buruk, haram halal, hitam putih yang sulit di pisahkan lagi. Tidak salah jika di ilustrasikan laksana air kopi di campur dengan air susu. Maupun dalam kehidupan yang berjalan beriringan dalam realita kehidupan dan bisa dikatakan adanya kesepakatan umum.
Dalam Realita yang ada, keduanya merupakan bagian nilai-nilai substansial penyusun masyarakat dalam bermusyawarah, berinteraksi baik secara formal maupun nonformal. Tidak salah jika kita nyatakan sebagai bagian dari persimpangan kehidupan. Sebagai awal dari penentu sifat dari masyarakat secara global di suatu tempat, akankah bersifat otoriter ( kesepakatan umum ) atau bersifat oposisi ( pemikiran golongan )
Namun realita yang ada tidak seindah pemikiran idealis dari pemaparan di atas. Kadang kala terjadi tumpang tindih diantara keduanya, sehingga menghasilkan ending output yang begitu mencolok atau dominan pada salah satu. Keseimbangan implementasi yang di harapkan tidak selaras dengan intervensi yang ada. Mengapa hal ini terjadi?
Kalau kita kaji ulang, masa transisi kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia pada masa penjajahan. Mayoritas masyarakat indonesia masih menganut paham kesepakatan umum. Hal ini di picu oleh pendidikan mayoritas masyarakat indonesia dan juga dipicu oleh persamaan nasib yang ada yaitu ketertindasan, kemiskinan dan kebodohan.
Namun seiring dinamika kehidupan yang tiada hentinya membuat pergeseran-pergeseran nilai kehidupan dalam tantanan hidup bermasyarakat semakin kelihatan.Ini merupakan problem klasikal-serius. Klasik dimana sudah bertahun-tahun tiada hentinya dan dikatakan serius dimana sebagai embrio kriminalitas. Begitu pula dengan nilai-nilai penyusun masyarakat semakin tidak terkendalikan. Bagimana tidak, ketidak seimbangan ini sudah merambah ke ranah kebebasan dan pembatasan ruang gerak.
Tidak lepas dari itu pula, awal dari ketidak terkendalikan keseimbangan masyarakat karena adanya pemikiran personal yang berlebihan dengan mengabaikan aspek sosial dan cultural. Maka terjadilah pengelompokan kelas sosial dalam tatanan kehidupan bermasyarakat baik dalam segi tatanan fisik seperti (tempat tinggal, sandang, pangan ) maupun dalam tatanan psikologi ( pergaulan, gaya hidup dll). Dari sinilah timbul pemikiran untuk memarginalisasikan mereka yang ada di bawah. Sehingga segala ruang gerak akan terbatas dan segala kebenaran secara tidak langsung akan tersembunyi dikarenakan pandangan secara subyektif.

0 comment:

Posting Komentar