Jumat, Juli 10, 2009

Kesedihan Vs Kebahagiaan

Asesoris hidup itu indah dan keindahan itu didambakan banyak orang. So, keindahan bagian dari surga yang memberi ruang di hati manusia dan telah tersetting dalam ruang tersendiri dan di tampatkan diruang khusus dalam hati manusia yang secara abstrak terpisah jauh dari tempat setting kesengsaraan. Mungkin telah terkonsep secara alami walapun secara tersurat tidak dituliskan secara jelas. Apa itu bahagia, dimana tempatnya, serta sebaliknya arti kesengsaraan. Namun sekte-sekte pemisah diantara keduanya tidak ada ruang secara konkret jika kita selidiki. Dimana letak pemisah sebagai value utama dalam menginterprestasikan jurang pemisah di antara keduanya.

Kadang segala subtansial penyusun- penyusun dari kebahagian itu tidak lepas dari nilai-nilai individu yang mungkin telah di intervensikan dan siap di impelementasikan dalan kehidupan yang nampak. Segala output dari bentuk implementasi kadang kita sulit merasakan setelah menjumlahkan segala hasil intervensi yang telah di implementasikan. Secara ideal mungkin bisa kita rasakan hasilnya, namun jauh dari harapan andaikata dekat dengan harapan kadang banyak yang hilang identitas diri seara hakiki.kenapa bisa sepeti ini?
Hati itu jiwa atau mungkin tempat bermuaranya segala rasa. Secara esensial jika segala intervensti telah terimplementasikan seharusnya ada hasilnya dari tujuan akhir deri bentuk intervensi di atas yang sesuai dengan configurasi dari intervensi itu sendiri. Contoh : Andi akan membuat bakso, paling tidak ada intervensi belanja barang, peracikan bumbu-bumbu, penggilingan daging dll, yang tujuan akhirnya jadilah bakso, karena segala intervensi mengacu pada bakso. Begitu juga dengan rancangan yang lain. Namun, setelah kita kembalikan dengan value yang ada di hati manusia kadang jauh berbeda dari sebuah harapan suara hati kecil yang penuh dengan sifat idealis.
Sedih = Bahagia?
Bingungkah anda? Inilah kenyataan.sedih kok bahagia dan bahagia kok sedih. Baik disadari atau tidak ya itulah kita tidak merasakan dan merenung. Tapi kita sebagai objek dan budak hawa nafsu dimanapun kita bergerak kita belum tentu menerapkan intervensi yang ada. Atau bahkan implementasi tanpa intervensi. Aneh khan punya tindakan tapi tidak punya tujuan. Sehingga penulis katakan bagai buih yang terapung di tengah tarian ombak.
Kaitanya dengan konsep diatas bahwa segala nilai-nilai yang dapat dikatakan penuh dengan peta-peta kehidupan sebagai Arus lurus menjadi arus balik kehidupan menerjang hakikat hati itu sendiri untuk merubah konsep bahagia dan sedih.
Contoh : Di era global kita suka mengerjakan hal yang seharusnya sedih jika di kerjakan, eh kenyataanya kebahagian dan kepuasan yang mereka dapatkan. Ini, bagian dari konsep yang ada dan secara kontektual. Lebih mirisnya, secara kelembagaan. kampus adalah lembaga akademika par generasi penyangga pondasi kepermerintahan tapi sudah di ambil alihkan menjadi ajang cari jodoh ( kontak jodoh) . Secara idealnya, Mahasiswa itu agen perubahan dengan ilmu yang dimiliki, ditekuni dan di terapkan dengan kontek keadaan. tapi kenyataan masih dijauh harapan. Kalo saya kaitkan dengan konsep diatas tidak ada salahnya. Secara futuristik, hal itu merupakan bagian bentuk substansial dari berbagai bagian kebahagian dan kemaslahatan bersama yang di salah artikan di masa yang sekarang. Namun beginilah keadaan sebenarnya kita semua sedang memasuki dunia edan bagai menanam padi di atas air, menebar ikan di pasir, mandi dengan api, dll.

0 comment:

Posting Komentar