Sabtu, Juli 11, 2009

Luka campur suka ?



Hari ini ada sedikit hal yang menarik untuk di perbincangkan. Tidak seperti hari-hari yang lain. Seperti adanya bumbu pelengkap dalam kehidupan saya. Namun kadang juga aneh untuk di pertanyakan asal mula timbulnya suatu perasaan baru ini.Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada penulis di yakini juga pernah di alami semua pembaca.Tapi, mungkin berbeda dalam hal kontekstualnya. Teringat statement bahwa beda kolam beda ikan ( different pond different fish ).
Sudah tidak asing lagi kata luka dan kata suka di telinga kita. Seperti kata yang ringan untuk di ucap dan selalu melekat dalam diri kita yang mungkin ada sedikit pengharapan kehadiranya. Namun ternyata hadir juga dalam kehidupan kita. Sekali lagi mungkin ini bumbu kehidupan kita dalam berproses. Kita juga tidak bisa menebak kapan akan datang, pergi dalam kehidupan kita. Karena kita selalu berjalan dalam serba kesepakatan umum tanpa klarifikasi dan analisa khusus dalam menapak peta kehidupan.
Dalam pembahasan bukanya kita harus menyalahkan suatu kata salah atau luka dalam kehidupan kita. Justru harus sebaliknya kita menyalahkan diri untuk lebih intropeksi diri dalam berbuat, berpikir, bertingkah dll. Bukankah agama melarang, bahwa suatu keburukan terulang lagi untuk kedua kalinya? Tapi, itulah manusia tidak pernah dari luput dan salah dalam bertindak dan berbuat. Namun apa gunanya kita ada akal tidak mengubah ke arah yang lebih baik atau kita padukan ke sifat yang lebih baik. Bukankah secara psikologis, bahwa pikiran yang tertekan juga bisa menimbulkan tertekanya akal sehat kita, sehingga dekat dengan sakit dan bahkan kematian?
Pernahkah saudara berpikir bahwa luka itu indah dan indah itu identik dengan suka. Secara intrepestasi global bahwa segala keindahan suatu kepastian hal yang kita suka. Memamg secara pandangan personal semua hal itu realtif, tapi dengan mengedepankan pemikiran relatif, semua tidak ada yang pasti.Bisa –bisa kalo terlalu direlatifkan bisa-bisa tangan di anggap kaki sertas sebaliknya.So, makna mayoritas sebaga sampel utama dalam menarik sebuah pemaknaan baru.
Kata LUKA dan SUKA banyak orang bilang itu hal yang sulit atau aneh. Kenapa bisa, bukanya segala sesuatu mungkin terjadi ( anything imposible). Kalo semuanya mungkin terjadi tiada salahnya jika Dalam benak saya sekilas timbul, mungkin juga saya presiden tahun 2034 ( sambil tersenyum untuk menghibur hati) minimal presiden rumah tangga.
Kembali ke topik permasalahan, bahwa Untuk memahami makna di atas, penulis mengkaji seseorang lansia yang ( maaf) cacat (tangan kirinya patah) di alun-alun Kebumen. Pada awalnya Cuma ngobrol untuk tukar pengalaman. Namun akhirnya penulis terkejut bahwa kegiatan duduk-duduk di alun alun merupakan bagian dari rutinitas kehidupan sehari-hari. Dari sini penulis memberanikan diri untuk sedikit menganalisa kehidupanya untuk mengetahui sedikit perasaan yang sedang bergejolak dalam dirinya. Setelah cukup refrensi dan aktivitas dalam keseharian. Kesimpulan penulis mengarah pada luka tidak campur suka. Kesimpulan ini diperkuat karena fakta kehidupan sebagai bagian dari rutinitas, kecacatan ( hilangnya disfungsi bagian organ tubuh), kesendirian dalam hidup ( semua anak merantau), ketuaan dan ketermenungan di tengah kesepian hidup.Walaupun itu baru bagian statment sementara.tapi, dapat mewakili penarikan kesimpulan terhadap analisa saya serta tidak lepas dari dukungan fakta-fakta yang dapat dikatakan objektif dan real.
Contoh diatas tidak lain hanyalah bagian kecil dari potret kehidupan di bagian belahan nusantara. Mungkin, dia masih beruntung ( alhamdulilah) dari penderitaan para pemulung yang tidak punya rumah.Walaupun berdasarkan pembahasan sama dia mengalami luka tidak bercampur suka.
Kategori luka campur suka
Sudah kita ketahui sedikit banyak unutk memahami, bahwa arti luka campur suka. Secara kulitnya kita terbiasa mendengar namun secara esensial banyak makna, spirit yang masih sembunyi di dalamnya atau bahkan rasa suka dan suka masih terpisah jauh dari pola kehidupan kita.
Dari sini bahwa pengertian suka campur suka bukan pengertian yang berdiri sendiri. Tapi bagaimana, kita memanagemant sebuah luka dengan suka yang bersumber dari luka itu.Sehingga kita masih bisa mengontrol diri kita dalam kondisi apapun.Panulis jadi teringat do’a seorang hamba yang menyentuh hati:

Ya alloh jika engkau berikan kebahagiaan pada kami jangan engkau jadikan hamba ini berlebihan ( lupa diri). Jika engaku memberi cobaan kepada kami jangan engkau condongkan hati ini kepada kekafiran.

0 comment:

Posting Komentar