Kamis, Juli 23, 2009

MENGHITUNG WAKTU




Sedikit mengulas makna dari menghitung dan waktu. Namun bukan secara definisi tapi sedikit pemakaian kata. Jika kita urai kembali arti kata “menghitung”secara naluri, pemikiran kita langsung terkonsep dengan sesuatu hal yang identik dengan kata menghitung, menjumlah dan segala sesuatu yang masih saudara dengan matematika. Begitu pula dengan kata “waktu” secara disadari maupun tidak, alam bawah sadar kita akan segera membawa kita kepada ingatan tentang bentuk angka, numeric dll. Mungkin bagi mereka yang tidak suka dengan hitung-hitungan sedikit banyak malas, bosan atau fobia dengan segala sesuatu yang masih satu saudara dengan matematika seperti fisika, kimia dll.
Sedikit cerita pengalaman teman saya, dia sekarang sedang belajar di UNY mengambil Fakultas Bahasa dan Seni. Selama pergaulan saya dengan dia, menurut saya tidak ada sedikitpun bakat yang ada pada dirinya yang berhubungan dengan seni. Maka, saya bertanya kepadanya. Mengapa mengambil Fakultas Bahasa Dan Seni ? begitu mudah apa yang dia ucapkan, seperti tidak ada jawaban yang mendasar, logika dan sesuai dengan bakat. Jawabanya hanya untuk menghindari matematika.sungguh terkejut dan sedikit kaget, sebegitunya calon – calon agen perubahan (agen of change) bangsa dalam menjawabnya, Seperti tidak mempunyai beban tanggung jawab dari disiplin ilmu yang dia pikul. Saya pikir ini sia-sia saja, kenapa? Hanya untuk menghindar matematika, mereka korbankan waktu, biaya, pikiran untuk menekuni sesuatu yang bukan pilihanya ( sesuai hati nurani) selama empat tahun. Andaikata mayoritas mahasiswa indonesia seperti ini semua, apa kata dunia ?
Tidak sampainya disitu, saya juga punya teman alumni Undip dari Fakultas Peternakan. Dia sempat mengatakan pada saya, bahwa sebenarnya dia tidak menyukai perternakan. Setelah saya balik tanya, mengapa?jawabanya tidak jauh berbeda dari jawaban contoh diatas, hanya ingin kuliah di universitas favorit dia rela mempertaruhkan nilai-nilainya untuk mengambil jalur PMDK dengan memilih fakultas yang kurang di sukai.
Secara garis besar bisa saya tarik kesimpulan bahwa pada contoh pertama dia salah mengambil fakultas dikarenakan rasa phobia yang semakin kuat pada matematika. Dan pada contoh kedua kesalahanya memilih fakultas di karenakan rasa gengsi yang sudah menjamur dan mengakar kuat didalam hatinya. Jadi keduanya tidak ada niat utama untuk belajar secara serius namun hanya sesuatu hal yang diharapkan.
Contoh di atas hanya bagian dari kata pengantar saja, dan saya tidak akan membahas problematika diatas.Hanya sebagai langkah awal dalam berpijak dan memandang nilai-nilai kehidupan yang telah terkontaminasi oleh prestisius dan pemaknaan globalisasi yang salah. Salah memandang, memahami dan salah penilaian.
*****
Kemabli ke tema, Jika kita padukan secara totalitas-komprehensif pengertian menghitung waktu seakan menjadi momok yang membosankan.Hal semacam ini telah kita sadari, bahwa dibalik layar dari arti di atas telah dibuktikan secara realita yang ada. Sebelum pemudahan lafal makna diatas, akan penulis coba bandingkan dengan sinonim kata.
Menghitung waktu dapat di artikan menunggu dengan untuk menemukan sesuatu yang sedang masa proses kehidupan. Kata menunggu bagian rutinitas yang sangat membosankan, Karena kita tidak menjemput bola tapi hanya menunggu bola. Bukankah begitu?dalam realita yang ada dalam sebuah pertandingan sepak bola dengan jumlah sebelas pemain bola. Dari sini kita bandingkan ada berapa pemain bola yang kerjaanya menunggu bola dan menjemput bola? Bandingkan diantara keduanya?bukankah lebih banyak yang menjemput bola dari pada yang menunggu bola ( penjaga gawang)
Inilah realita yang ada, bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kata menghitung, menunggu merupakan bagian dari akivitas yang membosankan dan hanya kaum minoritas yang suka menunggu bola tanpa menjemput bola. Nilai-nilai comperatif di atas merupaan bagian dari pemahaman arti dari kata menunggu dalam kontek kekinian, masa lalu dll.
Tapi setelah sedikit memeras otak dan memutar balikan. Kami tamukan arti menunggu dalam kontek futuristik masa depan dengan pendekatan arus globalisasi.Saya yakin masih ada ada yang belum terzentuh oleh pemerintah. Coba saudara perhatikan alat transportasi tradisional di daerah masing-masing. Bukankah mengalami defisit? Apakah saudara ketahui mengapa hal ini terjadi? Problem kecil tapi besar. Kecil di mata konglomerat dan besar dimata mereka ( rakyat kecil).So, telah penulis katakan. Bahwa hanya orang bijak yang bisa melihat problematika tanpa kepentingan ideologi pribadi.
Hal ini di akui atau tida, pasti akan terjadi pemudaran budaya. Bukan hanya itu saja, baik pemudaran ekonomi, budaya, politik juga akan di pengaruhi. Namun sampai saat ini belum ada kegiatan ral, dan mungkin baru ada konsep idealis. SO, tidak ada salahnya jika penulis katakan tinggal menunggu waktu untuk merasakan suatu kepunahan.

Dalam dinamika kehidupan di berbagai sektor. Perlunya adanya pembahruan baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Hal ini sebagai bentuk timbal baik respnsif akan globalisasi. Lepas dari makna keberpihakan, dengan mengedanpan kenetralan dan hanya mengangkat suatu probleamtika baru yang pasti terjadi baik secara lambat maupun cepat.Bahwa globalisasi tidak bisa dicegah dipegang dan dimusnahkan. Tapi hanya bisa dirasakan, diikuti dan dikendalikan.tidak mungkin tidak dan kemungkinan pasti terjadi.jika ketiadaan dinamika suatu sistem maka akan diamakan waktu sistem itu.dan bukan berarti kita haru menghindar tapi bagaimana kita bisa merasakan dna mengendalikan supaya kita dapat mengikuti sampai kemana arahnya.
Tapi ada titik-titik rawan yang saya katakan hanya menunggu waktu termakan oleh zaman dan globalisasi.secara kasat mata kita bisa melihat sacara jelas, detik demi detik,menit, jam sampai bertahun-tahun kita teleh kita lalui. Tepi, kalo sedikit kita merenung, kita bisa menangkap problemtika futuristik yang belum ada titik permasalahanya.bukankah kita harus berpandangan secara futuristik untuk menjadi insan yang lebih baik?

0 comment:

Posting Komentar