Jumat, Juli 10, 2009

PERJUANGAN


Sebuah kata kita rasakan bersama di telinga enak di dengar, di lidah mudah diucap tapi dalam jiwa dan raga sungguh berat di amalkan. Perjuangan bukan berarti mati – matian untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan atau dalam bahasa jawa “ngoyo”. Melainkan sebuah perjalanan hidup seseorang untuk mencapai kehidupan yang hakiki baik di dunia dan akherat. Indikasinya perlu adanya keseimbangan ( balancing ) hidup Mayoritas segala perjalanan hidup di lengkapi salah intrepestasi, maka salah juga pengamalan, salah memahami, salah menilai sebagai bentuk akar dari fundamental sebagai pengantar salah pengaplikasian. Ini merupakan bagian dari indikasi adanya saling keterkaitan atau sistematika segala tatanan kehidupan baik dalam bentuk esensial sampai puncak dinamika kehidupan formalitas. Atau mungkin kita hanya mengetahui sesuatu secara harfiah saja dalam bentuk formalisasi yang terjadi secara mayoritas dalam kehidupan bermasyarakat dengan sokongan dari pemikiran praktis-pragamatis.
Disadari maupun tidak kita telah merasakan bersama segala sesuatunya dalam bentuk implemetasi dalam mengarungi sebuah bahtera kehidupan. Dari berbagai perjuangan yang kita implementasikan. Baik perjuangan ”ngoyo”, ”ngongsrong ”, ”ngikut”, yang saudara aplikasikan dalam menjalani hidup di dunia fana ini.
Seperti kasus pada seorang penjaga gawang, jika kita amati mereka berjuang, untuk menjaga kesucian gawang yang dijaga. Jangan sampai kebobolan baik bagaimanapun caranya. Secara formalitas, kita mengerti hal itu, namun secara esensial kadang kita kurang mengetahui akar dari segala penyebab penjaga gawang sampai mati-matian untuk mempertahankan sampai mati-matian dan nilai apa yang terkandung di dalamnya. Secara lahiriah, hal itu nampak hanya sebuah permainan belaka namun sampai juga nyawa taruhanya. Perisitwa ini mengingatkan penulis pada Mr chech penjaga gawang asal Negara cekoslavia atau tim dari sepak bola Chelsea pernah mempertaruhkan kepalanya hingga bocor demi kesucian gawang yang di jaga dari gempuran tim lawan. Walaupun secara substansial. Andaikata kebobolan mereka masih tetap hidup, masih di gaji sesuai dari perjanjian kontrak. Ada apa di balik perjuangan Mr chech dalam menjaga gawang? Ini merupakan bagian dari berbagai potret kehidupan yang bisa kita ambil hikmahnya. Masih banyak lagi hal yang perlu kita renungi sebagai sumber insipirasi dan spirit hidup.
Hal semacam ini tidak jauh berbeda dari nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah sholat, mungkin perkara yang biasa dan kita saling menjalankan seperti biasanya sebagai rutinitas yang ada. Namun, bukanya kita lebih memahami dengan rutinitas untuk meresapi, tapi kita semakin mengabaikan nilai-nilai esensial dari sholat.
Sebagai bentuk output dari sholat kita. Mungkin secara pengalaman kerohanian / keberagamaan kita bisa merasakan hikmah sholat dalam tiap-tiap rutinitas dalam ruang lingkup individu. Secara makro kita juga lupa, hikmah yang terkandung bukan nilai individulistik yang di kedepankan tapi juga nilai kemasyarakatan. Kalo kita perhatikan barisan shof dalam sholat, gerakan sholat berjamaah semuanya akan sama. Dalam satu intruksi kepemimpinan yaitu imam sholat sebagai komando. Komando dalam hal kebersamaan, kepatuhan dan tentunya solidaritas. Kita resepi makna gerakan sholat, secara esensial adanya sifat kepatuhan pada imam sholat. Imam sujud, kita tentu harus ikut sujud, ruku kita ikut ruku dalam cerminan ubudiyah. Namun, dalam cerminan muamalah kita seperti jalan sendiri-sendiri dalam bertatanegara sebagai indikasi ketidak patuhan kita pada pemimpin Negara. Bukanya melarang berdemokrasi, namun adakah berdemokrasi dengan pembakangan dengan mengikis NKRI ? Lain lagi namanya sudah bergeser menjadi pembangkang ( maaf)
Dari sini kita dapat mengambil sebuah makna tersirat, bahwa dengan barisan shaf kita selalu bersatu padu dalam kehidupan beragama, bersosial demi mempertahankan nilai-nilai keagamaan yang ada didalam menjaga keberlangsungan hidup, tanpa anarkisme dan memaksakan suatu kehendak.

0 comment:

Posting Komentar