Jumat, Juli 10, 2009

Hampir 2 bulan lamanya, bertaburnya warga Urut sewu di kota kebumen akan bibit – bibit yang pernah di panen di beberapa waktu yang lalu. Dengan aksi menuntut tanah hak atas pribadi warga urut sewu. Hal ini merupakan pemandangan yang bukan biasa-biasa saja, melainkan luar biasa dalam kancah pemberitaan media masa nusantara khususnya di Kota Kebumen. Hanya segeilintir orang yang menganggap biasa, tapi tidak sedikit juga yang menanggapinya sebagai hal yang memalukan.why…….????
Perlu kita renungi sejenak dan kita refleksikan dalam kehidupan dalam tatanan kenegaraan. Secara fungsi dasar dan substansial TNI adalah bentukan masyarakat, dan asalnya dari masyarakat serta tujuanya secara subtansial untuk rakyat. Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena unsur TNI dan masyarakat sebagai tonggak pertahanan terhadap bahaya yang datang dari luar maupun dalam yang mengancam keutuhan NKRI sebagai harga mati dan final.
*****
TNI adalah sebagai abdi bangsa, dan benteng pertahanan kesatuan NKRI dan tidak lepas dari itu pula. Dalam TRIDEK ( Tri Dharma Eka Karma) disebutkan sebagai komponen utama dalam menghadapi setiap ancaman kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain bahwa unsur-unsur subtansial dari fungsi di atas merupakan perlindungan atas HAM dan pengakuan atas hak keberadaan warga negara indonesia.
Namun keberadaan TNI tidak lepas dari peran dan dukungan dari rakyat yang merupakan bagian dari unsur konstitusi keberadaaan suatu negara. Dalam hal ini mempunyai andil besar dalam kebeeradaan suatu negara akan eksistensinya. So, keduanya merupakan senjata dalam menjaga keutuhan NKRI di kancah internasional.
Namun, realita yang ada berbeda dengan apa yang diharapkan dan dicita-citakan suatu bangsa untuk menjadi NKRI yang kokoh dan siap menatap kedepan. Tapi, apa kata dunia jika secara substansial dari beberapa unsur-unsur pertahanan saling bersebarangan paham yang sedang hangat-hangatnya. Seperti perseturuan warga Urut sewu ( warga pesisir pantai selatan di kota kebumen) dengan TNI AD. Dalam hal ini menguatkan akan argument pribadi untuk menguatkan kepentingan golongan atas hak tanah. Jika seperti ini terus tanpa pnyelesaian secar jelas yang netral ( tidak ada pihak yang dirugikan) maka terbesit dalam benak penulis. Kapan Indonesia akan bisa menjadi negara yang baik yang penuh ampunan dan rahmat (baldatun thoyiban warbbun wa ghofur). Mungkin hanya mimpi indah semata untuk mewujudkanya jika kebersamaan TNI dengan masyarakat masih bersikap tegang, yang sekan-akan adanya keinginan untuk berjalan sendir-sendiri. Jadi tidak ada salahnya jika beberapa tahun lalu muncul-muncul paham baru yang ingin lepas dari NKRI seperti Timor-timur, GAM dll.Dari peristiwa itulah tuhan telah menegur kita untuk pandai-pandai bercermin dan bermuhasabah ( intropeksi diri ) dalam mengembil sebuah kesimpulan untuk membenahi diri untuk menjadi negara NKRI yang kokoh dan lepas dari perpecahan.
Tidak lepas dari realita yang sedang terjadi, hal semacam ini merupakan cerminan rapuhnya kebersamaan TNI dengan masyarakat dalam berbaur dan hidup satu kemanunggalan dalam dunia pertahanan.
Dengan segala nilai-nilai yang sudah membumi secara teoritis. Hal ini dapat kita mafhumi bersama. Bahwa segala konseptualitas keilmuan yang ada pada diri TNI merupakan output dari cerminan dari beberapa unsur-unsur tri dharma eka karma.

0 comment:

Posting Komentar