Jumat, Juli 17, 2009

TRANSISI KEHIDUPAN



Ketika saat – saat bulan ramadhan tiba, kadang kala hati ini merindukan masa lalu dengan teman-teman sejawat. Kesyahduan bulan suci membawa ketenangan tersendiri dibandingkan bulan – bulan yang lain. Saat Bulan Ramadhan seperti biasanya, sore hari kami duduk-duduk di serambi musholla dekat rumahku kira-kira hanya berjarak 10 meter hanya untuk menunggu waktunya berbuka puasa sambil menghafal bacaan do’a berbuka puasa dan segala bentuk ibadah yang berhubungan dengan Bulan Ramadhan, keceriaan keikhlasan dan kebersamaan sebagai kunci utama kebersamaan kami. Seakan tak pernah sirna dalam ingatan senyum teman-temanku waktu itu. Tidak ada salahnya jika diri ini menganggap bulan ini ( Ramadhan ) indah seolah-olah tidak mau meninggalkan walau satu hari. Ketika bunyi tanda berbuka puasa telah tiba, kami berlarian bersama dengan menirukan irama suara radio sambil menuju rumah masing-masing untuk siap- siap berbuka puasa. Sungguh indah, di malam hari kami bercengkrama bersama untuk bertadarus al-qur’an dan di akhiri tidur bersama-bersma dimusholla bagi kaum lelaki dan bagi kaum perempuan pulang kerumah masing-masing. Tidak hentinya, satu jam sebelum sahur kami membiasakan diri keliling kampung sekitar hanya untuk membangunkan penduduk dengan membunyikan kentongan yang kami buat. Setelah itu kami kembali kerumah masing-masing. Mungkin kelelahan tidak bisa menghalangi kami untuk menajalankan aktivitas ini. Tiap tahun silih berganti kami tetap menjalankan rutinitas yang saya katakan spesial di Bulan Ramadhan dan sampai sekarang masih kami generasikan ke adik-adik kami. Hal itu begitu terasa indah, seakan kami bagai saudara, tanpa pandang bulu entah kamu miskin, kaya, hitam, putih atau sebagainya.

Dalam benak kadang timbul, rasa rindu akan kebersamaan bersama dengan teman-teman seperjuangan yang saat ini sedang berjuang hidup mati untuk mempertahankan eksistensi dan kedudukanya supaya di akui di dunia ini dan tidak termarjinalisasikan oleh siapapun.Kenyataan yang ada tidak bisa di abaikan, sekarang ya sekarang dulu ya dulu mungkin itu kata pepatah sebagai penangkal rasa kesesalan hidup. Secara subtansial pemahaman dari apa pemaparan saya mungkin ada dualisme pemikiran yang saya benarkan keduanya. Kerena mayoritas setiap penilaian sesuatu tidak lepas dari ideologi setiap pembaca atau tidak lepas dari apa yang sedang dipikirkan oleh pembaca ( you are what you think).Contoh kecil: jika anda orang yang seniman dan teman anda seorang bisnisman. Dalam memandang sebuah alam yang indah, akan mempunyai makna dan jalan pemikiran yang berbeda. Mungkin saja seorang seniman memandang bahwa dengan keindahan alam dapat digunakan sebagai obyek melukis. Begitu juga dengan seorang bisnisman dalam menilai alam, mungkin hanya dengan pandangan bagaimana cara memanfaatkanya supaya dapat menghasilkan uang. Keduanya tidak salah dan juga tidak semuanya benar.Tidak salah karena mereka berpandangan sesuai alur pikiranya dan tentu kurang benar karena segala pandangan hanya di kaitkan dengan ideologi pribadi / kepentingan pribadi bukan kepentingan bersama.
Mungkin itu sebagian contoh konkret dalam kehidupan kita, segala sesuatu memiliki nilai atau precis pribadi dalam menghadapi sebuah tantangan hidup hanya untuk mencapai keuntungan sesaat, kepuasan sesaat dan makna sesaat. Bukankah begitu?
Kalo saya ambil contoh dalam kenyataan hidup, kenapa semut dimanapun baik di jakarta, kebumen atau mungkin luar negeri cenderung hidup berkoloni baik dalam urusan pribadi ( mengisi perut dll) maupun urusan publik ( membuat rumah ). Ada apa di balik makna yang masih tersirat dalam kehidupan semut?
Secara spontan kami survei beberapa orang mengatakan itu takdir, ketika saya balik tanya. Mengapa kita lebih individulastik dari pada semut, padahal manusia adalah mahluk yang sempurna ( mempunyai akal ) daripada semut? Jika jawabanya masih takdir mungkin pemikiran kita lebih rendah dari semut ( gumam saya dalam hati). Namun sebaliknya teman saya secara spontan diam seribu bahasa. Secara esesensial memang ada dua takdir yaitu dapat kita rubah dan tidak.Kembali tentang semut, apakah segala apa yang disekitar kita di ciptakan begitu saja tanpa ada tujuan dan hikmah yang bisa kita jadikan pelajaran?
Dalam aktivitas semut kita bisa sedikit banyak mengambil makna yang tersirat dalam kehidupanya yang berkoloni. Mengadopsi pemikiran harun yahya memang sudah saatnya kita sedikit merenung kembali nilai –nilai kehidupan yang ada. Semoga demi persatuan bangsa dan keutuhan nilai persatuan tetap esksis dalam rengkulan kehangatan Bhineka Tunggal Ika.

0 comment:

Posting Komentar