Sabtu, September 26, 2009

AMALIYAH NAHDLIYIN



B

AB



aqidah



  1. MEMASUKKAN ANAK KE SEKOLAH NON MUSLIM

- Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan fiqih?

من ارشاد الحياى فى تخذير المسلمين من مدارس النصارى للشيخ يوسف النبهانى ونصه: إعلم أن من أعظم المصائب على الملة الاسلامية والامة المحمديت ما هوا جار فى هذه الايام فى كثير من بلاد الاسلام من ادخال بعض جهالة المسلمين اولادهم في المدارس النصرانية لتعلم بعض العلوم الدنياوية واللغات الافرنجية وفى ضمن ذلك يتطمنون الديانة المسيحية وشاركون اولاد النصارى فى عبادتهم الدينية مما هو كفر صريح لايرضى به الله تعلى ولامحمد صلى الله عليه وسلم (المقررات النهضية ص 40)

Artinya: ”Ketahuilah sesungguhnya termasuk musibah paling besar bagi agama Islam dan ummat Muhammad sekarang-sekarang ini adalah banyak sekali sebagian orang Islam yang masih bodoh, memasukkan anaknya di sekolah orang Kristen agar diajari ilmu-ilmu agama dan bahasa Inggris, dan di dalamnya diisi juga kegiatan keagamaan Al-Masih, dan anak-anak mereka bersama anak-anak Kristen melakukan ibadah keagamaan yang mana hal itu jelas-jelas perbuatan kufur yangtidak diridhoi Allah Swt, Nabi Muhammmad Saw, dan Nabi Isa a.s.

Ket; Intinya tidak boleh.

  1. MANGOBATI ORANG YANG SAKIT DENGAN AJI-AJIAN/JIMAT

- Bagaiman hukumnya dalam pandangan fiqih?

وسئل بعضهم عن رجل صالح يكتب للحى ويرقى ويعمل النشرة ويعالج اصحاب الصرع والجنون بأسماء الله والخواتم والعزائم وينتفع بذلك كله من عمله ولايأخذ على ذلك الأجور هل له بذلك اجر فأجاب اما الكتب للحمى والرقى وعمل النشر بالقرآن وبالمعروف من ذكر الله فلابأس به اهــ فتاوى حاديثية ص 88

Artinya: ”sebagain ’ulama ditanya tentang orang shaleh yang menulis mantra-mantra, melakukan jampi-jampi guna mengobati orang sakit panas, orang pingsan, atau gila menggunakan asma-asma (nama-nama) Allah, cincin atau jimat, dan sangat berguna ia melakukan hal itu, dan yang ia lakukan tidak minta imbalan, apakah melakukan semacam itu ia mendapat pahala?

Dijawab: menulis mantra-mantra dan melakukan jampi-jampi untuk mengobati orang yang sakit panas dengan menggunkan Al-Quran atau dengan wiridan yang sudah dikenal, seprti dzikir pada Allah itu diperbolehkan.



  1. MEMBAKAR DUPA KETIKA BERJAM’IYAH

- Adakah dasarnya dan bagaimanakah hukumnya dalam pandangan fiqih?

(مسألة) إخراق البخور عند ذكر الله تعالى ونحوه كقرأة القرآن ومجلس العلم له اصلى فى السنة من حيث أن النبى صلى الله عليه وسلم يحب الريح الطيب الحسن ويحب الطيب ويستعملها كثيرا ويخض عليهما ويقول احب الى من دنيا كم النساء والطيب وجعلت قرة عين فى الصلاة اهــ بلغة الطلاب ص 53-54

Artinya: ”(masalah) membakar dupa disaat dzikir pada Allah dan semacamnya seperti membaca Al-Quran dan diletakkan di majlis taklim itu, berdasarkan hadits bahwa Nabi Saw, senang bau minyak wangi yang sedap dicium dan juga senang sama minyak wangi, bahkan Nabi sering memakainya dan juga mengganjurkannnya. Nabi bersabda; yang aku cintai dari dunia kalian adalah wanita dan minyak wangi, dan aku jadikan penenenag /penyejuk hati dalam shalat.

  1. MENULIS BAJU DENGAN AYAT-AYAT AL-QURAN

(قوله للمسحامة به غالبا) وينبغى ان مثل ذلك الثوب المكتوب عليه شيئ من القرآن لعدم القصد القرآنية بما يكتب عليه الى ان يقول الغلب فيما يكتب على الثياب ان يقصد به التبرك بلا لبس فأشبه التمائم على ان فى ملابسته لبدن الكافر انتهانا ولا كذالك يكتب على السقوف. )اهــ جمال ج 3 ص 19(

Artinya: ”dan sebaiknya digolongkan dari hal-hal yang mendapatkan kelonggaran adalah baju yang tertulis Al-Quran sebab tidak ada tujuan Al-Quran dengn apa yang ia tulis..... umumnya baju yang ditulis Al-Quran bertujuan meminta berkah tanpa dipakai, maka hal itupun menyerupai azimat sehingga tidak boleh dipakai orang kafir sebab ada unsur meremehkan, hal itu tidak sama dengan atap yang ditulisi Al-Quran (boleh dan tidak ada unsur meremehkan).

5. PANDANGAN IBNU TAIMIYYAH

Tanya: Benarkah Ibnu Taimiyyah berpendapat amal seseorang tidak bisa bermanfaat pada orang lain semisal orang yang masih hidup membaca Qur’an/bersedekah, kemudian diniyyatkan pahalanya untuk orang yang sudah mati?

Jawab: Tidak benar, sebagaimana disebut dalam kitab Tafsir al Munir karangan Syaih Nawawi Banten.

قال الشيخ التقى الدين ابو العباس احمد بن يمية من اعتقد ان الانسان لاينتفع الا بعمله فقدخرق الاجماع وذلك باطل من وجوه كثيرة احدها ان الانسان ينتفع بدعاء غيره وهو انتفاع بعمل الغير ثانيها ان النبى صلعم يشفع لاهل الموقف فى الحساب ثم لاهل الجنة فى دخولها ثالثها لأهل الكبائر فى الخروج من النار رابعها أن الملائكة يدعون ويستغفرون لمن فى الارض خامسها ان الله تعالى يخرج من النار من لم يعمل خيرا فقط بمحض رحمته وهذا انتفاع بغير عملهم سادسها ان اولاد المؤمنين يدخلون الجنة بعمل آبائهم سابعها قال تعالى فى قصة الغلامين اليتيمين وكان ابوها صالحا ثامنها أن الميت ينتفع بالصدقة عنه وبالعتق بنص السنة والإجماع تاسعها أن الحج المفروض يسقط عن الميت بحج وليه عنه بنص السنة عاشرها ان الحج المنذور او الصوم المنذور يسقط عن الميت بعمل غيره بنص السنة وهو انتفاع بعمل الغيرحادى عشرها المدين قد امتنع صلى الله عليه وسلم من الصلاة عليه حتى قضى دينه أبو قتادة وقضى دين الآخر على ابن طالب وانتفع بصلاة النبى صلى الله عليه وسلم وهو من عمل الغير الى آخرما قال .

Artinya: Syekh Taqiyyudin Abu ‘abbas Ahmad bin Taimiyyah berkata: Barang siapa yang beri’tiqad bahwa manusia tidak bisa memberi manfa’at sesuatu kecuali dengan amalnya sendiri maka, orang tersebut telah merusak ijma’, dan hal itu batal oleh beberapa alasan (1) seseorang bisa menerima manfa’at atas do’a orang lain itu adalah bagian dari mengambil manfa’at denagn amal orang lain, (2) Nabi Saw akan memberi syafa’at kepada manusia dikala berkumpul dimauqif (bagian dari akherat), dalam meringankan hisabnya. Kemudian ahli surga disyafa’ati untuk memasukinya, (3) Pelaku dosa besar dikeluarkan dari neraka, (4) Para malaikat mendo’akan dan memintakan ampun keapada penduduk bumi, (5) Allah Swt akan mengelurkan dari neraka orang-orang yang tidak bermal dengan rahmat-Nya. Hal ini adalah kemanfa’atan dari amal orang lain, (6) Anak-anak aorang mukmin akan masuk surga karena amal para bapak-bapaknya, (7) Allah Swt bersabda tentang dua anak yatim yang orange tuanya shaleh, (8) Mayit akan menerima manfa’at atas sadaqah dan memerdekakan budak untuknya dengan dalil nash sunnah dan ijma’, (9) Haji fardhu akan gugur karena dihajikan oleh walinya dengan dasar nash sunnah, (10) Haji nadzar dan puasa nadzar akan gugur dari kewajiban mayit apabila orang lain melakukannya dengan dasar nash hadits, ini semua adalah kemanfa’atan dari amal orag lain, (11) Rasulallah mencegah shalat mayit, sehingga hutang si mayit ditanggung oleh Abu Qatadah dan mayit yang lain hutangnya ditanggung oleh Ali bin Abi Thalib dan seterusnya. Hal 142 juz 4 terbitan dari ihyyitturats al ‘arabbi bairut.

6. AHLISSUNNAH WAL JAMA’AH

Pertanyaan:

Adakah ta’rif Ahlissunnah wal jama’ah yang singkat dan jelas?

Jawaban:

Ada, disebutkan dalam kitab al-Majalis saniyyah hal 88 yang berbunyi:



وقال سيدى عبد القادر الجيلانى قدس الله سره فى كتاب الغنية ويجب على المؤمن اتباع السنة والجماعة فالسنة سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم والجماعة ما اتفق عليه اصحابه رشى الله عنهم اجمعين فى خلافة الأئمة لاربعة الخلافاءالرشدين .

Artinya: Telah berkata tuanku Abdul Qadir al Jaelani q.s. wajiblah atas orang yang beriman untukmengikuti sunnah dan jama’ah, arti sunnah adalah sesuatu yang dicontohkan oleh Rasulallah Saw. Sedangkan al Jama’ah adalah sesuatu yang telah disepakati oleh para sahabat pada kekhalifahan imam empat yang mereka adalah khalifah-khalifah yang lurus lagi terpimpin.

















B

AB



toharoh

  1. MENYENTUH MUSHAF TANPA BERWUDHU

Pertanyaan: Wajibkah berwudhu bagi seorang Muslim yang menyentuh, membawa Mushaf Al-qur’an sedangkan ayat La yamassukhu illal muttoharun ada yang mengartikan; bahwa dhomir hu kembali pada Loh Mahfudz dan al Muttoharun diartikan diartikan malaikat yang suci.

Jawaban: Perhatikan ayat sesudahnya yang berbunyi: tanziilummirrabbil ’alamiin yang artinya: Diturunkan Al-Qur’an dari Allah Rabbul ’alamiin bukan Loh Mahfudz yang diturunkan. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti keterangan Syeikh Abdullah as Syarkowi dalam kitab Syarkhut Tahrir juz pertama hal. 86 sbb:

وقول بعضهم إنه خبر صريـح والمراد بالقرآن اللوح المحفوظ وبالمطهرين الملائكة فلاخاف فيه مردود بأن الوصف بالتنزيل ,فى قوله تعالى : تنزيل من رب العالمين , ظاهر فى المصحف وأيضا الملائكة كلهم مطهرون بالإجماع فيلزم فى الأية على هذا استثناء الشيئ من نفسه إذالمعنى حينئذ لايمسه احد من الملائكة إلا الملائكة المطهرون واستثناء الشيئ من نفسه باطل فإن اريد تصحيح الاستثناء لزم ان فى الملائكة مطهرين وغيرهم حتى يصح اللمس عن غير المطهرين وإثباته للمطهرين بمقتضى الاستثناء فكأنه قيل يمسه المطهرون ولايمسه غيرهم وقد علمت ان كلهم مطهرون.

Artinya: Dan perkataan sebagian dari mereka itu bahwa firman Allah tersebut adalah kabar yang sharih/tegas, dan yang dimaksud dengan Al qur’am itu Loh Mahfudz tak ada khilaf padanya, kesemuanya itu ditolak dengan alasan bahwa mensifatkan tansil (diturunkan) dalam firman Allah: Tansziilun min rabbil ’alamiin, itu nyatanya pada mushhaf lagi pula para malaikat semuanya suci dengan ijma maka lazimlah dalam ayat tersebut jika diartikan malaikat oleh mengecualikan sesuatu dari dirinya sendiri, karena maknanya ketika itu: tak ada yang menyetuhnya seorangpun daripada malaikat melainkan malaikat-malaikat yang suci. Dan mengecualikan sesuatu dari dirinya sendiri adalah bathil. Maka jika ingin disahkan juga pengecualian ini niscaya melazimkan bahwa di kalangan malaikat itu ada yang suci dan ada yang tidak suci, sehingga dapat sah menolak sentuhan dari yang tidak suci dan menetapkannya bagi yang suci dengan kehendak pengecualian tersebut. Seolah-olah dikatakan: menyentuhnya malaikat-malaikat yang suci dan tidak menyentuhnya malaikat yang tidak suci, padahal telah engkau ketahui bahwa segenap malaikat itu adalah suci.

Oleh karena itu nyatalah bahwa menyentuh dan membawa mushaf al-Qur’an diharuskan suci dari hadats besar maupun kecil, sebagaimana keterangan dalam kitab Tafsirul Jalalain sebagai beikut:

(انه) اى المتلو عليكم ( لقرآن كريم فى كتاب ) مكتوب (مكنون) مصون وهو المصحف (لايمسه) خبر بمعنى النهى (الا المطهرون) اى الذين طهروا أنفسهم من الأحداث (تنزيل) منزل (من رب العالمين( .



Artinya ;sesungguhnya apa yang dibacakan atasmu itu, adalah Qur’an yang mulia. Di dalam suatu kitab yang artinya sesuatu yang dituliskan, yang terpelihara, artinya: yang terjaga. Yaitulah Al Mushaf. Tak ada yang menyentuhnya. (inilah pemberitaan dengan arti larangan. Maksudnya: lafadznya pemberitaan, tetapi maknanya adalah larangan. Jadi terjemahnya itu: janganlah hendak menyentuh dia kecuali (Almuthahharun) artinya mereka yang telah membersihkan diri mereka dari segala hadast. Ialah suatu yang diturunkan dari Tuhan sekalian alam.

2. MENYENTUH LAIN JENIS YANG BUKAN MAHROMNYA

Pertanyaan:

Apakah meyentuh lain jenis dapat membatalkan wudlu?

Jawaban:

Menurut pendapat Imam Syafi’I r.a., menyentuh lain jenis yang bukan mahrom itu membatalkan wudlu, baik yang menyentuh ataupun orang yang disentuh. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al Fiqh al Manhajy:


لمس الرجل زوجته او المرأة الاجنبية من غير حائل فإنه ينتقض وضؤوه ووضوؤهاولأجنبية هى كل امرأة يحل له الزواج بها (الفقه المنهاج جز: 1 ص: 63)

Artinya:’’Seorang laki-laki yang menyentuh istrinya atau perempuan ajnabiyyah (yang bukan mahromnya) tanpa penghalang, maka wudlu laki-laki dan perempuan itu menjadi batal. Yang dimaksud degan ajnabiyyah (perempeuan lain) adalah setiap wanita yang halal dinikahi’’ (al Fiqh , al Manhaji juz 1 hal 63).

وإن كنتم مرضى او على سفر او جآء احد منكم من الغائط او لامستم النساء فلم تجدوا مآء فتيمموا صاعدا طيبا (النساء 43)

Artinya: Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari buang air atau kamu menyentuh (mulamasah) perempuan lain (yang bukan mahromnya), kemudian kamu tidak menjumpai air, maka bertayamumlah kamu denagn tanah yang baik suci). (QS. Annisa : 43).

عن عبد الله ابن عمر أنه كان يقول قبلة الرجل إمرأته وجسها يده من الملامسة فمن قبل إمرأته او جسها بيده فعليه الوضوء (الموطا ج: 2 ص: 65)

Artinya: Dari Abdullah bin Umar, Ia berkata, kecupan seorang suami kepada istrinya dan menyentuh dengan tangannya termasuk mulamasah. Maka siapa saja yang mengecup istrinya atau menyentuhnya, maka ia wajib melakukan wudlu (al Muwatha juz 2 , hal 65).

عن عائشة زوج النبى صلعم أنها قلت كنت انام بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ورجلاي فى قبلته فإذاسجد غمزنى فقبضت رجلى فإذا قام بسطتهما (صحيح البخارى 369)

Artinya: Dari ‘Aisyah r.ha istri Nabi Saw, sesungguhnya ia berkata “saya tidur di dekat Rasulallah Saw, sedangkan dua kakiku ada di depan Rasul Saw. Apabila akan sujud, Nabi Saw meraba kakiku (dengan tangannya), dan aku menarik kakiku. Dan setelah Nabi Saw berdiri aku bentangkan lagi kedua kakiku ( shahih al Bukhari 369).

الجواب عن عائشة رضى الله عنه فى وقوع يدها على بطن قدم النبى صلعم أنه يحتمل فوق حائل (المجموع ج:2 ص 22 )

Artinya: jawaban atas hadits ‘Aisyah r.a tentang menyentuhnya tangan Beliau ketumit Nabi Saw, maka hal itu boleh jadi menggunakan tabir (al Majmu’ juz 2, hal 22).

وقائع الأحوال إذا تطرق اليها الإحتمال كساهاثوب الإجمال وسقط بها الإستدلال (غاية الوصول 74)

Artinya: Beberapa kejadian yang masih menimbulkan berbagai kemungkinan, maka ia tercakup dalam dalil mujmal (global) dan tidak bisa dibuat dalil (Ghoyyah al Wusul 74).

أن رسول الله صلعم أتاه رجل فقال : يارسول الله ماتقوا فى رجل لقى امرأة لايعرفها وليس يأتى الرجل من امراة شيئا إلا اتاه منها الا غير انه لم يجامعها قال فأنزل الله عز وجل هذه الأية : اقم الصلوة طرفى النهار وزلفا من الليل , قال فقال له رسول الله صلعم : توضأ ثم صل! قال معاذ فقلت يارسول الله أله خاصة أم للمؤمنين عامة ؟ فقال :بل للمؤمنين عامة .(رواه احمدد والدارقطنى)

Artinya: bahwa rasulallah Saw kedatanga seorang laki-laki lalu berkata: Ya Rasulallah ; apa kata tuan, tentang seorang laki-laki bertemu degan seorang perempuan yang tak dikenalnya. Tak ada sesuatu yang biasa dilakukan seorang laki-laki terhadap isterinya melainkan ada dilakukan oleh laki-laki tersebut terhadap perempuan itu, hanya persetubuhan saja yang tak dilakukannya. Kata Rawi: maka menurunkan Allah Azza wajalla akan firmannya, yaitu ayat: اقم الصلوة طرفى النهار وزلفا من الليل (Dirikanlah olehmu shalat pada dua tepi siang, dan sebagian dari pada malam). Maka bersabda Rasulallah Saw: Berwudlulah kamu, kemudian shalatlah. Kata Muadz: Ya Rasulallah, apakah khusus untuk orang ini, atau umum buat semua orang mukmin? Jawab Rasulallah Saw, untuk semua orang mukmin (HR. Ahmad dan Addaruquthni).

Dapat disimpulkan, sesuai dengan dalil-dalil yang telah diungkapkan di atas, menyentuh istri/wanita yang bukan mahrom dapat membatalkan wudlu.

3. BERTATO

Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan Fiqih?

(تتمة) من الكبائر قتل الإنسان نفسه لقوله الصلاة والسلام (من تردى من جبل فقتل نفسه فهو فى نار جهنم يتردى فيها خالدا مخلدا فيها أبدا) وقوله عليه الصلاة والسلام ( الذى يخنق نفسه يخنقها فى النار) وقوله عليه الصلاة والسلام (كان فيمن كان قبلكم رجل به جراح فجزع فأحد سكينا فجز بها بده فما رقأ الدم حتى مات فقال الله : بادرونى عبد بنفسه )وفى حديث (قال ربكم قد حرمت عليه الجنة) وغير ذالك من الأحاديث الكثيرة الصريحة فى أنه كبيرة ( اسعاد الرفيق ج 2 ص 99).

Artinya: Wajib menghilangkan tato. Tato adalah menusuk kulit dengan jarum sehingga berdarah, lalu ditaburi semacam Nilah (bahan pembuat tao) sehingga daging berwarna hijau, kewajiban tersebut jika tidak dikhawatirkan bahaya sebagaimaa bahaya yang terdapat pada tayyamum, ketika dikhawatirkan terjadinya bahaya maka tidak wajib dihilagkan secara mutlak. Imam Hujairomi berkata: ketika pentatoan itu dilakukan sebelum ditaklif seperti di saat masih kecil atau saat gila maka tidak wajib untuk dihilangkan secara mutlak. Jika dilakukan setelah ditaklid namun pembuatan tato ada keperluan maka tidak wajib untuk dihilangkan juga secara mutlak, begitu juga tidak wajib apabila tidak ada keperluan, namun dikhawatirkan bahaya ketika dihilangkan sebagaimana bahaya yang terdapat dalam tayyamum, jika tidak demikian maka wajib untuk dihilangkan. Ketika status tato wajib dihilangkan maka kenajisan tato tidak dimakfu dan shalat yang dikerjaka tidak sah.

















































B

AB



sholat



SHOLAT MENURUT MADZHAB SYAFI’I

Rukun-Rukun Sholat:

  1. Niat.

  2. Takbirotul ihrom.

  3. Berdiri bagi yang mampu.

  4. Membaca Fatihah.

  5. Ruku’.

  6. Tuma’ninah dalam ruku’.

  7. I’tidal.

  8. Tuma’ninah dalam I’tidal.

  9. Sujud dua kali.

  10. Tuma’ninah dalam sujud.

  11. Duduk di antara dua sujud.

  12. Tuma’ninah dalam duduk diantara dua sujud.

  13. Membaca Tahiyyat akhir.

  14. Duduk ketika membaca Tahiyyat akhir.

  15. Membaca Sholawat Nabi dalam duduk sesudah membaca Tahiyyat akhir.

  16. Salam yang pertama.

  17. Tartib, kecuali rukun pertama sampai ketiga yang harus dikerjakan serentak.

Sunat Ab’ad Sholat:

  1. Membaca Tahiyyat awwal.

  2. Duduk ketika membaca Tahiyyat awwal.

  3. Membaca sholawat Nabi dalam posisi duduk setelah membaca Tahiyyat awwal.

  4. Membaca slolawat atas keluarga Nabi dalam posisi duduk setelah membaca Tahiyyat akhir.

  5. Membaca Qunut dalam sholat Subuh dan sholat Witir separo yang akhir dari bulan Romadlon.

  6. Berdiri ketika membaca Qunut.

  7. Membaca sholawat dan salam atas Nabi,keluarga dan para shohabatnya dalam posisi berdiri sesudah membaca Qunut.

Sunat Haiat Sholat:

  1. Membaca “usholli ” dan seterusnya.

  2. Mengangkat kedua tangan ketika membaca takbirotul ihrom.

  3. Meletakan tangan kanan diatas tangan kiri waktu bersedekap.

  4. Diam sesaat sebelum membaca do’a Iftitah.

  5. Membaca do’a Iftitah.

  6. Diam sesaat sebelum membaca Ta’awwudz.

  7. Membaca Ta’awwudz.

  8. Diam sesaat sebelum Fatihah.

  9. Membaca dengan keras ditempatnya.

  10. Membaca dengan pelan ditempatnya.

  11. . Diam sesaat sebelum membaca Amin.

  12. Membaca Amin.

  13. Diam sesaat sebelum membaca suatu surat dari Al-qur’an.

  14. Membaca suatu surat dari Al-qur’an.

  15. Diam sesaat sebelum Ruku’.

  16. Membaca takbir ketika pindah keposisi Ruku’.

  17. Mengangkat kedua tangan ketika membaca takbir.

  18. Meletakan kedua telapak tangan di kedua lutut.

  19. Membaca tasbih tiga kali.

  20. Membaca “Sami’allohu liman hamidah” dan seterusnya.

  21. Mengangkat kedua tangan ketika akan I’tidal.

  22. Membaca takbir ketika pindah keposisi sujud.

  23. Membaca tasbih tiga kali.

  24. Membaca takbir ketika pindah keposisi duduk.

  25. Duduk Iftirosy.

  26. Meletakan kedua telapak tangan diatas kedua paha.

  27. Membaca “Robbighfirli” dan seterusnya.

  28. Membaca takbir ketika pindah keposisi sujud.

  29. Membaca tasbih tiga kali.

  30. Membaca takbir ketika pindah keposisi berdiri.

  31. Duduk sesaat untuk istirahat.

  32. Memberi isyarat dengan telunjuk tangan kanan ketika membaca “ illallohu”.

  33. Mengangkat kedua tangan ketika berdiri dari tahiyyat awwal.

  34. Duduk tawarruk ketika membaca tahiyyat akhir

  35. Berdo’a sesudah tahiyyat akhir.

  36. Salam yang kedua.

  37. Menengok kekanan ketika salam yang pertama.

  38. Menengok kekiri ketika salam yang kedua.

  39. Memisah antara dua salam dengan diam sesaat.

  40. Ma’mum baru mulai baca salam sesudah imam selesai membaca salam dua kali.dll.

Rukun yaitu: Bagian dari sholat yang apabila ketinggalan maka sholatnya tidak sah.

Rukun sholat dibagi tiga:

  1. Rukun qolbi (dikerjakan dengan hati) yaitu Niat.

  2. Rukun qouli (dikerjakan dengan lisan) ada 5:

    1. Takbirotul ihrom

    2. Membaca Al-Fatihah

    3. Membaca Tahiyyat akhir

    4. Membaca sholawat Nabi sesudah Tahiyyat akhir

    5. Membaca salam yang pertama

Syarat mengerjakan Rukun qouli agar sah harus bisa didengar oleh telinganya sendiri bagi yang normal pendengarannya. Perhatikan !

  1. Rukun fi’li (dikerjakan dengan seluruh tubuh) ada 11:

    1. Berdiri bagi yang mampu dalam sholat fardlu.

    2. Ruku’

    3. Tuma’ninah ketika ruku’

    4. I’tidal

    5. Tuma’ninah ketika I’tidal k.Tartib

    6. Sujud duakali

    7. Tuma’ninah ketika sujud

    8. Duduk diantara dua sujud

    9. Tuma’ninah ketika duduk diantara dua sujud.

    10. Duduk ketika membaca tahiyyat akhir.

    11. Tartib.

Syarat-syarat sujud ada 7 (tujuh):

  1. Sujud harus bertumpu atas tujuh anggauta tubuh (kening,kedua telapak tangan,kedua lutut danujung jari-jari kedua kaki sebelah dalam) pada waktu yang sama.

  2. Kening dalam keadaan terbuka.

  3. Meletakan kening ditempat sujud.

  4. Tiada maksud kecuali untuk bersujud dalam perpindahan posisi dari berdiri ke posisi sujud.

  5. Hendaklah tiada bersujud atas sesuatu yang ikut bergerak sebab pergerakan orang sholat.

  6. Posisi pantat dan sekitarnya harus lebih tinggi dari posisi kepala dan kedua pundaknya.

  7. Tuma’ninah dalam sujud.

NB: Barang siapa dalam sujudnya tidak menetapi syarat-syarat diatas maka sujudnya tidak sah,oleh karena itu sholatnya juga tidak sah. Perhatikan!

Sunat Ab’ad yaitu: Bagian dari sholat yang apabila ketinggalan maka sholatnya tetap sah, tetapi disunatkan sujud sahwi.

Sunat Haiat yaitu: Bagian dari sholat yang apabila ketinggalan maka sholatnya tetap sah dan tidak disunatkan sujud sahwi.

Macam-macam sujud:

  1. Sujud sahwi (sunat dikerjakan apabila meninggalkan salah satu sunat ab’ad). Adapun pelaksanaannya mendekati salam sholat. Bacaannya:

سبحان الذى لاينام ولايسهو

  1. Sujud Tilawah (sujud ini bisa dilakukan di dalam sholat dan di luar sholat). Dilaksanakan apabila membaca Al-ur’an atau mendengarnya pada ayat-ayat sajdah adapun bacaannya:

سجد وجهى للذى خلقه وصوره وشق سمعه وبصره وتبارك الله أحسن الخالقين

  1. Sujud Syukur (sunat dilakukan apabila mendapat keni’matan yang tidak terduga atau terhindar dari bilahi atau bencana dan apabila melihat orang yang terkena bilahi/musibah). Adapun kaefiyahnya : Takbirotul ihrom (nawaetu sujudassyukri sunnatallillahi ta’ala Allohu akbar) kemudian sujud membaca do’a sujud tilawah.

  2. Sebaiknya ditambah do’a syukur, umpamannya:

الحمد لله الذى أنعمنى على نعمه الظاهرة والباطنة ووفقنى على عبادتك

kemudian duduk dan salam (syarat-syarat sujud syukur seperti syaratnya sholat : suci, menutupi ‘aurat menghadap qiblat dan lain-lain)

  1. WANITA MENGIKUTI SHALAT JUM’AH

    • Wajibkah dia melakukan Shalat Dhuhur setelah Shalat Jum’at dalam pandangan fiqih?

(مسألة) يجوز لمن لاتلزمه الجمعة كعبد ومسافر وامرأة أن يصلى الجمعة بدل عن الظهر وتجزئه بل هى افضل لأنها فرض الكمال ولاتجوز إعادتها ظهرا بعد حيث كملت شروطها (بغية المسترشدين فى باب صلاة الجمعة ومثل ما فى )المهذب وموهبة ذى الفضل)



Artinya: (masalah) Diperbolehkan bagi mereka yang tidak berkewajiban shalat Jum’at seperti; hamba sahaya, musafir, dan wanita, melakukannnya sebagai ganti shalat Dhuhur dan bisa mencukupi dari shalat Dhuhur, bahkan melakukan shalat Jum’at lebih baik, kerena merupakan kewajiban bagi mereka yang sempurna (memeneuhi syarat) dan tidak boleh diulangi dengan Shalat Dhuhur sebab semua syarat-syaratnya sudah terpenuhi secara semua.

  1. BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT BERJAMAAH

- Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan fiqih?

(قوله امامااعتاده الناس) الى ان قال وأفتى حمزة الناشرى وغيره باستحبابها عقب الصلوات مطلقا أى وان صافحه قبلها لأن الصلاة غيبة حكمية فتلحق بالغيبة الحسية اهــــ (الفتوحات الربانية ج 5 ص 398 )

Artinya: ”Bejabat tangan yang menjadi kebiasaan masyarakat setelah shalat berjamaah, Syeh Hamzah Al-Nasyiri dan yang lain berfatwa bahwa: disunnatkan berjabat tangan setelah shalat fardhu secara mutlak yakni meskipun belum melakukan shalat, sebab shalat itu merupakan samaran secara hukum maka dari itu mempertemukan hukum yang jelas dengan hukum yang tidak jelas.

وعلم ان هذه المصاحفة مستحبة عند كل لقا وامامااعتاده الناس من المصاحفة

بعد صلاتى الصبح والعصر فلا اصل له فى الشرعى على هذا الوجه ولكن لابأس ( الفتوحات.........)

Artinya: ”Diketahui bahwa berjabat tangan disunnatkan setiap pertemuan, sedangkan kebiasaan masyarakat berjabat tangan setelah shalat Subuh dan Ashar itu tidak ada dalil, baik dari Al-Quran dan A-l Hadits, namun tidak mengapa jika dilakukan.

  1. BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM ADALAH BAGIAN DARI SURAH AL-FATIHAH

- Bagaimanakah tanggapan hadits Bukhori Muslim yang menyatakan bahwa:

صليت خلف النبى صلعم وابى بكر وعمر وعثمان وكانوا يستفتحون بالحمدلله رب العالمين.



Artinya: Dari Annas bin Malik r.a., Saya sembahyang di belakang Rasululloh Saw, di belakang Abu Bakar, Umar, dan Usman semuanya memulai qiroahnya dengan Alhamdulillahi rabbil ’alamiin.

Padahal dalam kitab-kitab fiqih Syafi’i disampaikan bahwa Bismillahirrahmaanirrahiim adalah bagian dari Al-Fatihah yang harus dibaca setiap shalat.

Jawab: Benar, bahwa Bismillahirrahmaanirrahiim adalah bagian dari surah Al-Fatihah sebagaimana tersebut dalam kirab muhazdab lis Syeikh Abu Ishaq asy syaerozi juz ke-1 hal. 72

ويجب ان يبتدئها بسم الله الرحمن الرحيم فإنها اية منها والدليل ما روت ام سلمة رضى الله عنها ان البى صلعم قراء بسم الله الرحمن الرحيم فعدها اية منها ولاأن الصحابة رضى الله عنهم اثبتوها فيما جمعوا من القرآن فيدل على انها اية منها فإن كان فى الصلاة يجهر فيها جهر بها كما يجهر فى سائر الفاتحة لما روى ابن عباس رضى الله عنهما ان النبى صلعم جهر ببسم الله الرحمن الرحيم ولأنها تقراء على انها اية من القرآن بدليل انها تقراء بعد التعوذ فكان سنتها الجهر كسائر الفاتحة.

Artinya: dan wajib bahwa dimulakannnya Fatihah dengan Bismillahirrahmaanirrahiim karena sesungguhnya itu salah satu ayat dari padanya. Dan dalil atasnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a. bahwa Nabi Saw, membaca Bismillahirrahmaanirrahiim maka dimasukkannya Bismillahirrahmaanirrahiim itu daripada Fatihah dan karena sesungguhnya para sahabat r.a. menyantumkannya pada apa yang mereka himpunkan daripada Al-Qur’an maka hal tersebut menunjukkan bahwa Bismillahirrahmaanirrahiim adalah satu ayat dari padanya. Maka jika Bismillahirrahmaanirrahiim dalam sembahyang yang dijaharkan maka jaharkanlah Al fatihah dengan Basmallah sebagaimana dijaharkan ia dari Al-Qur’an dengan dalil sesungguhnya Basmalah dibaca sesudah ta’awudz maka kesunnahan Basmallah adalah dijaharkan sebagaimana ayat Al fatihah yang lain.” Kemudian untuk lebih jelasnya kami sampaikan riwayat Ibnu Abbas,

ان النبى صلعم لم يزل يجهر فى السورة ببسم الله الرحمن الرحيم

artinya: bahwa Nabi Saw, senantiasa menjaharkan pada dua surat dengan Bismillahirrahmaanirrahiim (H.R. Addaruqutni)



Diriwayatkan bahwa berkata Nu’aim al Mundir;

صليت وراء ابى هريرة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم ثم قرأ بأم القرآن وفيه يقول اذا سلم والذى نفسى بيده انى لأشبهكم صلاة برسول الله صلعم

Artinya: Aku pernah bersembahyang di belakang Abu Hurairah r.a. maka beliau membaca Bismillahirrahmaanirrahiim kemudian dibacanya Ummul Qur’an dan di dalam hadits tersebut ia berkata setelah memberi salam: Demi Tuhan yang diriku berada pada Tangan kekuasaan-Nya sesungguhnya aku adalah paling mirip di antara kamu sembahyangnya dengan Rasulullah Saw, (H.R. An Nasa’i)



Hadits ini sohehkan oleh Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban al Hakim dan dikatakannya atas syarat Bukhori dan Muslim. Diriwayatkan pula dari Abi Hurairah r.a.

كان النبى صلعم اذا قرأ وهو يؤم الناس افتتح ببسم الله الرحمن الرحيم (رواه الدرقطنى وقال رجال اسناده كلهم ثقات)

Artinya: adalah Nabi Saw, apabila Beliau membaca dan Beliau mengimami manusia maka Beliau memulai dengan Bismillahirrahmaanirrahiim (H.R. Addaruqutni rijal sanadnya orang-orang terpercaya.

Dalam riwayat yang lain Abu Hirairah berkata: Telah bersabda Rasulullah Saw,

اذا قرأتم الحمد فاقرؤا بسم اللهة الرحمن الرحيم انها أم القرآن وأم الكتاب والسبع المثانى وبسم الله الرحمن الرحيم احدى اياتها ( أخرجه الدارقطنى)

Artinya: Apabila kamu membaca Alhamdu maka bacalah Bismillahirrahmaanirrahii. Sesungguhnya Bismillah itu Ummul Qur’an, Ummul Kitab, Assyab’ul Matsani. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim salahsatu dari ayatnya. (H.R. Addaruqutni)

Diriwayatkan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Ammar bin Yasin

ان النبى صلعم كان يجهر فى المكتوبات ببسم الله الرحمن الرحيم ( أخرجه الدارقطنى)

Artinya: Bahwa Nabi Saw, adalah menjaharkan pada shalat fardhunya dengan Bismillahirrahmaanirrahiim. (H.R. Addaruqutni).



Kemudian Sayyidina Ummar juga meriwayatkan

ان النبى صلعم كان اذاقام الى الصلاة فأراد أن يقرأ قال : بسم الله الرحمن الرحيم (رواه ابن عبد البر)

Artinya: Sesungguhnya Nabi Saw, apabila berdiri sembahyang ketika akan membaca, diucapkannya Bismillahirrahmaanirrahiim.

Cukup banyak hadits-hadits yang menyebutkan Bismillahirrahmaanirrahiim bagian daripada Al Fatihah sehingga para ’ulama Syafi’iyyah mengharuskan dibaca pada setiap membaca Al Fatihah.

Menurut al Hafidz Ibnu Hajjar bahwa hadits-hadits Annas yang menafikkan Basmallah adalah menafikkan jaharnya, maka apabila ada didapatkan riwayat tentang jaharnya Basmallah tentulah ini yang diisbatkan didahulukan daripada yang nafi dan hal itu masih ada alasan lagi dari naqli yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Addaruqutni dari Abi Salamah berkata ia:

سألت انس بن مالك اكان رسول الله صلعم يستفتح بالحمدلله رب العالمين ؟ او ببسم الله الرحمن الرحيم ؟ فقال :انك سألتنى عن شيئ مااحفظه وما سالتنى عنه احد قبلك.

Artinya: Aku pernah bertanya kepada Annas bin Malik apakah Rasulullah Saw, memulai bacaannya dengan Alhamdulillah atau dengan Bismillah? Maka jawab Annas: Sesungguhnya engkau telah bertanya tentang sesuatu yang aku tidak hafal tentangnya. Dan belum pernah ada orang yang menanyakan kepadaku tentang ini sebelum engkau.

Dalam rangka membicarakan hadits yang menafikkan Basmallah maka dapat kami kemukakan disini bahwa pendapat ahli hadits menyatakan hadits sahabat Annas itu terdapat ilat pada matanya. Telah berkata al Hafizd Abil Khoir Muhammad bin abdurrahman as Sahowi dalambabul illal, sbb:

وعلة المتـن كنفى البسملة * اذظن راو نـفــيها فـنـقـــــله

وصـــــح ان أنسا يقول لا * احفظ شيئا فيه حين سئلا

Artinya: dan illatnya suatu mattan (lafadz hadits seperti hadits tentang menafikkan Basmallah. Karena menurut persangkaan rawi ternafinya Bismillah maka dinaqolkannya. Padahal telah saheh bahwa sahabat Annas berkata: Aku tidak hafal sesuatu tentang itu seketika ia ditanya.

Dengan demikian hadits Annas yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim tergolong hadits yang soheh sanadnya akan tetapi mattan hadits tersebut terkena illat (maklul), maka hadits Annas tersebut tidak bisa dibuat hujjah.

4. SHALAT QOBLIYYAH JUM’AT

Pertanyaan:

Shalat Jum’at apa ada qobliyyahnya?

Jawaban:

Shalat qabliyyah Jum’at adalah sunnah , sama halnya dengan qabliyyah Dzuhur.



Kata Syaikh Ibrahim al Bajuri dalam khasyiahnya fathul Qarib:

والجمعة كالظهر فيما يسن لها فيسن قبلها اربع وبعدها اربع

Artinya: Dan Jum’at itu seperti Dzuhur dalam perkara yang disunnahkan baginya. maka sebelumnya empat reka’at, dan sesudahnya empat reka’at.

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Zubair, Nabi Saw bersabda:

مامن صلاة مفروضة إلا وبين يديها ركعتان (رواه ابن حبان)

Artinya: tak ada satu shalat yang difardlukan melainkan disunnahkan sebelumnya dua reka’at (HR. Ibnu Hibban).

Diriwayatkan dari dari Abi Hurairah r.a. , ia berkata :

كان يصلى قبل الجمعة أربعا وبعدها أربعا (رواه البزار)

Artinya: Adalah Rasulullah Saw melakukan shalat sebelum shalat jum’at empat reka’at, dan sesudahnya empat reka’at (HR. al Bazzar).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata:

كان النبى صلعم يركع قبل الجمعة أربع ركعات لايفصل بينهن بشيئ (رواه ابن ماجاه)

Artinya: Adalah Nabi Saw melakukan shalat sebelum Jum’at empat reka’at, tidak dipisahkannya reka’at-reka’at dengan sesuatu (HR. Ibnu Majah).

Diriwayatkan pula dari Abi Hurairah r.a. , ia berkata:

أن النبى صلعم كان يصلى قبل الجمعة ركعتين وبعدها ركعتين (رواه الطبران)

Artiny : Bahwa Nabi Saw. melakukan shalat sebelum shalat Jum’at dua reka’at dan sesudahnya dua reka’at (HR. Attabrani).

Diriwayatkan pula dari Abi Hurairah dan Jabir r.a , keduanya berkata:

جاء سليك الغطفانى ورسول الله صلعم يخطب فقال له النبى صلعم أصليت ركعتين قبل أن تجئ ؟ قال : فصل ركعتين وتجوز فيها (رواه ابن ماجاه)

Artinya: Pernah datang Sulaik al Ghatfany dimana Rasulallah Saw sedang berkhutbah (Jum’at). Bersabda kepadanya Nabi Saw, ’’Apakah engkau telah shalat dua reka’at sebelum kedatanganmu? Jawabnya ’’belum’’ sabda Nabi Saw. Maka lakukanlah olehmu shalat dua reka’at, dan persingkatlah keduanya.’’ (HR. Ibnu Majah).

Assyaukani dalam kitab Nailul Autharnya berkata:

وقوله قبل أن تجئ يدل على ان ها تين الركعتين سنة للجمعة قبلها وليستا تحية للمسجد.

Artinya: Dan sabda Nabi Saw ’’sebelum kedatangannya’’, menunujuk bahwa dua reka’at yang dimaksud itu sunnah Jum’at yang sebelumnya, atau qabliyyah , bukanlah yang dimaksud dengan kedua reka’at itu Tahyatul Masjid.

Dikatakan oleh Munla Ali al Qari:

وقد جاء بسند جيد كما قاله الحافظ العراقى انه صلى الله عليه وسلم كان يصلى قبلها أربعاز

Artinya : Dan sesungguhnya dating hadits dengan sanad yang bagus, sebagaimna dikatakan oleh al Khafidzul Iroqy, bahwa Nabi Saw adalah Beliau melakukan sshalat sebelumnya shalat Jum’at empat reka’at.

الصلاة خير موضوع فمن استطاع أن يستكثر فليستكثر (رواه الطبران)

Artinya: Shalat itu adalah sebaik-baik ibadah yang dihantarkan. Barang siapa yang kuasa memperbanyakanya, hendaknya diperbanyakanya (HR. Attabrani).

Diriwayatkan Ubadah Ibnu Shamit r.a. Rasul Saw bersabda:

مامن عبد يسجد لله سجدة إلا كتب الله له بها حسنة ومحا عنه بها سيئة ورفع له بها درجة فاستكثروا من السجود (رواه ابن ماجاه)

Artinya : tidaklah seorang hamba yang sujud kepada Allah akan suatu sujud melainkan dituliskan Allah baginya akan satu kebajikan dan dihapuskan dari padanya satu kedosaan, dan diangkatkan baginya satu derajat. Maka perbanyaklah olehmu sujud artinya melakukan shalat sunnat (Ibnu Majah).

5. MEMBACA SAYYIDINA PADA TAHYAT AWAL /AKHIR

Pertanyaan:

Bila kita bertahyat awal/akhir, membaca sayyidina dan dengan yang tidak membaca , lebih baik yang mana?


Jawaban:

Mengucapkan nama Rasul Saw dengan memakai sayyidina baik dalam shalat maupun diluar shalat adalah lebih afdhol daripada yang tidak memakainya dan inilah yang mu’tamad.

الأولى ذكر السيادة لأن الأفضل سلوك الأدب خلافا لمن قال : الأولى ترك السيادة إقتصارا على الوارد والمعتمد الأول وحديث لاتسودونى فى صلاتكم بالواو لابالياء باطل.

Artinya: Yang lebih terkemuka adalah mengucapkan sayyidina, karena yang lebih utama adalah menjalankan adab, lain halnya bagi orang yang mengatakan lebih utama meninggalkannya karena menyingkat yang warid saja. Adapun hadits yang bunyinya لاتسودونى فى صلاتكم dengan huruf wawu adalah batal.

6. MENGGERAK-GERAKKAN TELUNJUK DI WAKTU TAHIYYAT

Pertanyaan:

Mohon ditunjukkan dalil dari hadits-hadits tentang keadaan jari telunjuk waktu membaca tahyat, digerak-gerakkan apa tidak?

Jawaban:

Sebenarnya yang sunat adalah mengangkat jari telunjuk saja disaat mengucapkan Illallah pada tasyahud yang hikmahnya adlah mentauhidkan, meng-Esakan Allah dengan ucapan, dengan hati, dan dengan anggauta, Sebagaimana kata syeikh Ibnu Ruslan dalam zubadnya:

وعند الا الله فالمهللة * ارفع لتوحيدى الذى صليت له

Artinya: Dan seketika mengucapkan illallah, maka jari telunjuk angkatlah, untuk meng-Esakan Allah yang engkau bersembahyang kepadanya.

Adapun menggerak-gerakkannya adalah makruh dan tidak menjadi batalnya shalat.

ولايحركها فإن حركها كره ولاتبطل صلاته فى الأصح

Artinya : Dan janganlah menggerak-gerakkan telunjuknya itu, dan jika digerak-gerakkannya maka makruh dan tidak batal shalatnya.

Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan ini adalah hadits riwayat Ibnu Zubair

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يشير بالسبابة ولايحركها ولايجاوز بصره اشارته (رواه احمد وأبوداود والنسائى وابن حبان)

Artinya: Adalah Rasulallah Saw berisyarat dengan telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkanya dan tidak melampaui atas isyaratnya (HR. Ahmad Annasai dan Ibnu Hibban).

Hadits yang lain diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar:

ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كلن اذاجلس فى الصلاة وضع يده اليمنى على ركبتيه اليمنى وعقد ثلاثة وخمسين واشار بالسبابة (رواه مسلم)

Artinya: Bahwa Rasulalllah Saw apabila duduk dalam shalatnya dihamparkan tangan yang kanan diatas lututnya yang kanan dan menyimpulkan bilangan-bilangan 53 dan beliau berisyarat dengan telunjuknya. (HR. Muslim).

Adapun mengenai hadits Wail bin KHujrin yang ditahrijkan oleh Ahmad An Nasai dan Abu Dawud tentang riwayat:

فرايته يحركها

Artinya: Maka aku lihat beliau menggerak-gerakkannya.

Untuk itu telah berkata al Baihaqi:

يحتمل ان يكون مراده بالتحريك الاشارة بها لاتكرير تحريكها حتى لا يعارض حديث ابن الزبير عند احمد وابى داود والنساء وابن حبانى فى صحيحه

Artinya; Hal itu memungkinkan bahwa yang dimaksud dengan tahrik adalah berisyarat dengan jari telunjuk dan bukan mengulang-ulang geraknya, sehingga hal tersebut tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Zubair yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad Abu Dawud Annasi dan Ibnu Hibban didalam sahihnya.

7. SHALAT TARAWIH

Pertanyaan:

Berapa reka’at shalat tarawih yang benar?



Jawaban;

Untuk masalah shalat Tarwih mari kita ikut riwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى فى شهر رمضان فى غير جماعة عشرين ركعة والوتر (رواه البيهقى والطبرانى وعدبن حميد)

Artinya: Adalah Rasulallah Saw bershalat di bulan Ramadhan dengan tidak berjama’ah 20 reka’at ditambah witir (HR. Baihaqi, at Tabrani dan ‘abdu Humaid).

Diriwatkan pula dari Assaib bin Jayyid, berkata ia:

كانو يقومون على عهدعمر رضى الله عنه فى شهر رمضان بعشرين ركعة وعلى عهد عثمان وعلى رضى الله عنهمامثله (رواه البيهقى)

Artinya: Adalah mereka (para sahabat dan tabi’in) mendirikan shalat tarwih pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab didalam bulan Ramadhan sebanyak 20 reka’at, dan pada masa kepemimpinan Usman, Ali bin Abi Thalib juga menyamainya (HR, al - Baihaqi).

Diriwayatkan pula dari Yazid bin Rumaan berkata:

كان الناس فى زمان عمر يقومون فى رمضان بثلاث وعشرين ركعة (رواه مالك فى الموطاء)

Artinya: Orang-orang pada masa kepemimpinan Umar mendirikan shalat dalam bulan Ramadhan dengan 23 reka’at (riwayat Malik dalam al-Muwatha).

Di samping hadits-hadits tersebut diatas kita masih diperintahkan untuk mengikuti sunnah Kulafaurrasyidin sebagaimana diriwayatkan oleh Irbadl berkata: Telah bersabda Rasulallah Saw:

عليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين بعد تمسكوابها وعضوا عليها بالنواجد (رواه احمأبوداودد ابن ماجه والترمذى والحاكم)

Artinya: Lazimkanlah olehmu akan sunnahku dan sunnahnya para Khalifah yang lurus dan terpimpin sesudahku. Peganglah itu dengan kuat-kuat dan gigitlah olehmu dengan geraham. (HR Amad , Abu Dawud, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan al- Hakim).

Hal yang sama (shalat tarwih 20 reka’at) juga ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyyah dan Syekh Abdullah bin Muhammad bin Abdi Wahab (yang ditokohkan oleh Islam salafi dan kaum moderdnis),

قال الأمامابن تيمية فى فتاويه : وثبة ان ابى بن كعب كان يقومون بالناس عشرين ركعة فى رمضان ,ويوتر بثلاث فرأى كثير من العلماء ان ذلك هو السنة لأنه قام بين المهاجرين والأنصار ولم ينكرهم منكر . وفى مجموع فتاوى النجدية أن الشيخ عبد الله ابن محمد بن عبد الوهاب ذكر فى جوابه عن عددالتراويح ان عمر رضى الله عنه لما جمع الناس على ابى بن كعب , كان صلاتهم عشرين ركعة (تصحيح حديث صلاة التراويح عشرين ركعة 13-14)

Artinya: Telah berkata Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitab fatawinya: Telah terbukti bahwa sahabat Ubai bin Ka’ab mengerjakan shalat Ramadhan bersama-sama orang waktu itu sebanyak 20 reka’at dan mengerjakan shalat witir 3 reka’at, kemudian mayoritas para ulama mengatakan bahwa itu adalah sunnah, karena pekerjaan itu telah dilaksanakan ditengah-tengah kaum muhajirin dan anshar dan tidak ada satupun diantara mereka yang menentang. Dalam kitab majmu’ fatawi annajdiyyah ditanyakan tentang jawaban syekh Abdullah bin Muhammad bin Adil wahab tentang bilangan reka’at shalat tarwih, ia mengatakan: Bahwa setelah sahabat Umar mengumpulkan sahabat untuk shalat berjama’ah kepada Ubai bin Ka’ab maka shalat mereka kerjakan adalah 20 reka’at. (Tashihul hadits shalat tarwih ‘isyrina rak’ah hal 13-14).

Dari penuturan ulama ini dapat disimpulkan bahwa shalat tarwih sebanyak 20 reka’at ditambah witir 3 reka’at sudah dilakukan sejak masa khalifah Umar dan disepakati oleh sahabat anshar dan muhajirin, dalam hadits ini juga bisa disimpulkan shalat tarwih dilakukan dengan berjama’ah.

8. ADZAN JUM’AT

Pertanyaan:

Di daaerah kita ada yang melakukan adzan jum’at satu kali dan ada yang dua kali, manakah yang ada dalilnya?

Jawaban:

Adzan yang ada pada zaman Rasul Saw adalah adzan yang dilakukan di depan mimbar sewaktu Khatib akan segera berkhutbah, sedang adzan yang sebelumnya adalah adzan yang dilakukan oleh Kholifah Usman atas kesepakatan para sahabat.


ثم غن فعل عثمان رضى الله عنه كان اجماعا سكوتيا لانهم لم ينكروه عليه .

Artinya: Kemudian bahwa perbuatan Sayyidaina Usman r.a. aalah merupakan ijma ’sukuty, karena mereka itu tidak mengingkari atasnya.

فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجد

Artinya: Maka lazimkanlah olehmu dengan sunnahku, dan sunnahnya para Khalifah yang lurus lagi terpimpin, peganglah teguh olehmu akan dia. Dan gigitlah atasnya dengan graham.

وايهما كان فالامر الذى على عهدرسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya: Dan yang mana saja yang terjadi (apakah adzan pertama itu oleh Muuawiyah atau oleh sayidina Usman), maka hal yang ada pada masa Rasulallah Saw itulah yang lebih aku sukai.

صليت مع النبى صلى الله عليه وآله وسلم العيد غير مرة ولامرتين بغير اذان ولااقامة (رواه احمد ومسلم والنسائى وابو درد والترمذى)

Artinya: Aku pernah bershalat ‘Id, bersama Rasulallah Saw. Bukan satu dua kali saja, dengan tanpa adzan dan tanpa iqamat (HR. Ahmad, Muslim, Annasai, Abu Dawud dan Attirmidzi)

وكان النبى صلعم يأمر فى العيدين المؤذن ان يقول " الصلاة جامعة " (رواه الشافعى)

Artinya: Dan adalah Nabi Saw memerintah pada dua ‘id kepada muadzin untuk mengucapkan: Ashalata Jami’ah, yang artinya: Lakukanlah shalat ini dengan berjama’ah (HR. Assyafi’i).

Dengan demikian apa yang telah dilakukan jama’ah nahdliyyah di lingkungan kita yaitu adzan Jum’at dengan dua adzan, sebagaimana yang telah disebutkan di atas adalah dasar-dasar yang menjadi amalan kita.

9. PUJI-PUJIAN SEBELUM SHALAT BERJAMA’AH


Pertanyaan:

Bagaimana hukum puji-pujian sebelum shalat brjama’ah?


Jawaban:

Pujian berupa dzikir atau bacaan dari al-Qur’an yang dikerjakan untuk menanti jama’ah shalat maktubah hukumnya sunnah. Adapun dibaca keras itu lebih baik/utama, apabila tidak mengganggu orang yang sedang mengerjakan shalat atau sedang tidur atau riya’.

وعبارة (مسئلة ك) الذكر كالقراءة مطلوب بصريح الآيات والروايات والجهر به حيث لم يخف رياء ولم يوشوش على نحو مصل افضل لأن العامل فيه اكثر وتتعدى فضيلته للسامع ولانه يوقظ قلب القارئ ويجمع همه للفكر ويصرف سمعه اليه ويطرد النوم ويزيد فى النشاط اهـــ (بغية المسترشدين ص: 48)

Artinya: Dzikir sebagaimana membaca al-Qur’an dianjurkan dengan dasar ayat Qur’an dan riwayat hadits yang jelas. Dan mengeraskan dzikir/pujian sekira tidak takut riya dan tidak mengganggu kepada orang yang shalat adalah lebih utama, karena orang yang melakukan puji-pujian tersebut lebih banyak memberikan fadilahnya kepada pendengar dan bisa membangkitkan hati orang yang membacanya untuk berfikir dan bisa mengilangkan rasa ngantuk pembacanya.

10. BELAJAR SHALAT DAN IBADAH LAINNYA TANPA GURU

Pertanyaan:

Bagaimana dengan adanya seorang Islam mengerjakan shalat/ibadah hanya didapat dari petunjuk/membaca buku pelajaran agama Islam, tanpa belajar kepada seorang guru, apakah hal tersebut diatas shah atau tidak.

Jawaban:

Sah, namun sangat sedikit faidahnya;

فقد أفهم تعبير الناظم نفع الله به بقوله وخذ من علوم الدين الخ أن الأخذ من شيخ له تمام الإطلاع مما يتعين علىطالب العلم واما مجرد المطالعة بغير شيخ اتكالا على الفهم فقليلة الجوى اذ لابد ان تعرض عليه مشكلات لاتتضح له الا ان حلها شيخ (منهل الورد من فائض الإمداد بشرح ابية القرطبى عبد الله ابن علوى الحداد ص:102)

Artinya: maka sesungguhnya telah memberi faham oleh keterangan Nadzim nafaallahu bihi, dengan perkataannya: Dan ambillah dari ilmu-ilmu agama dan seterusya bahwa mengambil ilmu dari seorang guru yang sempurna penelaahannya itu, terbilang dari pada apa-apa tertentu atas orang yang menuntut ilmu. Dan adapun semata-mata muthala’ah tanpa guru, karena mengandalkan atas kefahaman sendiri saja, maka sedikit faidahnya. Karena tak dapat tidak, jika datang atasnya kemusykilan-kemusykilan, tidaklah dapat menjadi jelas baginya kecuali penguraian guru.



11. SALAMAN SESUDAH SHALAT

Pertanyaan:

Bagaaimana hukumya salaman sesudah shalat?

Jawaban:

Hukumnya ditafsil, yaitu:

نصه (فائدة) المصاحفة من البدع المباحة واستحسنه النووى , وينبغى التفصيل بين من كان معه قبل صلاة فمباحة ومن لم يكن معه فمستحبه اذ هى سنة عند اللقاء اجماعا . وقال بعضهم إن المصلى كالغائب فعليه تستحب عقيب الخمس مطلق.(بغية المسترشدين ص: 50ـــ51)

والبدع المباحة امثلة منها المصافحة عقيب الصبح والعصر (قواعد الاحكام جز :2 ص: 173)

  1. Bid’ah, sebab tidak ada dalil Nashnya, demikian menurut sebagian ulama;

  2. Menurut Imam ’Izuddin Ibnu Abdis Salam, termasuk bid’ah mubaahah;

  3. Menurut kitab Bughytul Mustarsyidin, ditafsil ; sunnah menurut sebagian ulama secara mutlak, baik sebelum shalat sudah bertemu maupun belum, dengan alasan bahwa orang mengerjakan shalat itu seperti ghaib;

12. MEMEGANG TONGKAT KETIKA KHUTBAH


Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya memegang tongkat ketika berkhutbah?

Jawaban:

Memegang tongkat, panah atau pedang adalah sunnat:

Dalilnya sebagaimana tersebut dalam kitab, Is’adurrafiq wa bughyatusshadiq, juz 1 hal 100:

ولإعتماد على نحو سيف او عصا بيساره

Artinya: (Disunnatkan) bagi khatib bertelekan atas seumpama pedang atau tongkat dengan tangan kirinya.

Diriwayatkan dari Alhakam bin Hasan Alkalafi r.a. Berkata:

قدمت الى النبى صلعم. سابع سبعة او تاسع تسعة فلبثنا عنده أياما شهدنا فيها الجمعة فقام رسول الله صلعم. متوكئا على قوس اوقال على عصا فحمد الله وأثنى عليه كلمات خفيفات طيبات مباركات (رواه أحمد وأبوداود)

Artinya: Aku pernah datang kepada Rasulallah Saw sebagai orang ketujuh dari tujuh orang, atau orang kesembilan dari sembilan orang, maka menetaplah kami padanya, di mana kami dalam hari tersebut berkesempatan menyaksikan Jum’at. Maka bedirilah Rasulallah Saw sambil bertelekan atas busur tanah, atau dikatakannya “atas tongkat”, maka beliau memuji Allah dan menyanjungnya akan beberapa kalimat yang ringan yang baik lagi diberkati.( HR. Ahmad dan Abu Dawud ).

Diriwayatkan pula dari Albara bin ‘Azib:

أن النبى صلعم. أعطى يوم العيد قوسا فخطب عليه (رواه أبوداود)

Artinya: Bahwa Nabi Saw diberikan pada hari ‘Id akan busur panah, maka berkhutbahlah beliau bertelekan atasnya ( HR. Abu Dawud ).

Diriwayatkan pula dari Atha’:

أن النبى صلعم. كان إذاحطب يعتمد على عنزته إعتمادا (أخرجه الشافعى)

Artiya: Bahwa Nabi Saw adalah beliau apabila berkhutbah bertelekanlah di atas tongkatnya. (HR. Assafi’i).

13. WAQAF SEWAKTU MEMBACA انعمت عليهم

Pertanyaan:

Dikala membaca fatihah ada yang mewaqafkan pada انعمت عليهم dan ada yang tidak washal , manakah yang terbaik?

Jawaban:

Didalam membaca al-Qur’an tidak ada hukum syar’a yang mewajibkan atau mengharamkan waqaf dengan makna berdosa jika tidak waqaf atau berdosa jika meninggalkan waqaf kecuali kalau terjadi waqaf pada tempat yang menciderakan makna dan I’tiqod, lagi pula dengan sengaja.

وليس فى القرآنمن وقف وجب * ولاحرام غير ماله سبب

Artinya: Tidak ada didalam al-Qur’an daripada waqaf yang wajib dan tidak ada pula yang haram kecuali yang ada baginya sebab.

Kemudian hukum waqaf pada انعمت عليهم adalah Khilaful aula artinya menyalahi yang utama, jadi sebaiknya jangan waqaf di situ. Akan tetapi apabila waqaf di situ tidaklah sunnat kembali kepada permulaan ayat, artinya sudah tidak perlu mengulangi lagi, tinggal melanjutkan pada ghoirul maghdlubi dan seterusnya. Keterangan tersebut ada pada kitab Fathal mu’in hamsy I’anatuttolibin juz 1 hal 147.

ولأولى أن لايقف غلى أنعمت عليهم , لأنه ليس بوقف ولامنتهى آية عندها فإن وقف على هذا لم تسن الإعادة من أول الأية .

Artinya: Dan yang utama tidaklah dibaca waqaf pada انعمت عليهم , karena disitu bukan tempat waqaf, dan bukan penghabisan ayat, maka jika seseorang telah waqaf disitu tidaklah sunat membaca kembali dari permulaan ayat.

  1. MENGUCAPKAN NAWAITU SEBELUM MELAKUKAN IBADAH. (SHALAT)

Pertanyaan: Melafadzkan nawaitu sudah berlaku di kalangan Nahdliyyin sebelum melakukan ibadah shalat, puasa, haji, dll. Adakah dalilnya?

Jawaban: Sebenarnya apa yang dikatakan niat adalah sesuatu yang ada dalam hati, sedangkan melafadzkan niat adalah mustahak atau sunnat karena ucapan lisan bertujuan untuk membantu niat yang ada dalam hati. Talafudunniat pernah dilakukan oleh Nabi Saw, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim:

سمعت رسول الله صلعم يلبنى بالحج والعمرة جميعا يقول : لبيك عمرة وحجا

Yang artinya: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw, menunaikan panggilan Allah Swt. dengan melakukan haji dan umrah bersama-sama seraya sabdanya: Aku datangi panggilan-Mu Ya Allah, aku lakukan haji dan umrah (dari sahabat Annas r.a.).

Hadits ini menunjukkan Rasulullah mengucapkan niat (talafidzbinniat) ketika berhaji dan umrah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa ’Aisyah Ummul Mukminin berkata:

قال لى رسول الله صلعم ذات يوم يا عائشة ! هل عندكم شيئ ؟ قالت فقلت : يارسول الله ! ما عندنا شيئ ؟ قال فإنى صائم (رواه مسلم)

Artinya: Berkata Rasulullah pada suatu hari ”wahai Aisyah apakah ada padamu sesuatu untuk dimakan? Kata Aisyah, jawabku: Wahai Rasulullah tak ada pada kami sesuatu. Sabda beliau; maka sesungguhnya aku berpuasa (H.R. Muslim).

Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah Saw, mengucapkan niat, talafidzbinniat puasa. Diriwayatkan dari Jabir berkata:

صليت مع رسول الله صلعم عيدالاضحى فلما انصرف اتى بكبش فذبحه فقال : بسم الله اكبر اللهم هذا عنى وعمن لم يضح من امتى (رواه احمد وابوداود والترمذى)

Artinya: Pernahkah aku bersembahyang bersama Rasulullah Saw, pada ’Idul adha, maka tatkala beliau berpaling dibawa oranglah seekor biri-biri maka beliupun menyembelihnya seraya katanya: Dengan nama Allah. Allah Maha besar. Hai Tuhanku. Inilah qurban dari padaku dan untuk mereka yang tidak berqurban dari ummatku. (H.R. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, mengucapkan atau talafudzbinniat seketika menyembelih qurban.

15. ’IDIL FITRI DAN ’IDIL ADHA

Pertanyaan: ’idil fitri dan ’Idil Adha, apabila keduanya jatuh pada hari Jum’at, bolehkan dikerjakan sembahnyang ‘Ided saja, tanpa Jum’at? Artinya setelah sampai waktu Jum’at kita tidak mengerjakan sembahyang Jum’at lagi. Bolehkah dikerjaka yang demikia itu?

Jawaban: Sembahnya ’Id hukumnya Sunnat. Dan sembahyang Jum’at hukumnya wajib. Tapi apabila dalam satu hari ituberkumpul ’Id dan Jum’at, maka diperkenankanlah bagi orang-orang desa yang bersembahyang di kota, setelah selesai ’Id untuk pulang ke rumah dan desa masing-masing. Sekiranya tempat tinggal mereka jauh, dan jika mereka setelah pulang ke rumah, maka tidak keburu lagi untuk mereka tidak berjum’at, dalam hal ini terdapatlah rukhsah untuk mereka tidak berjum’at. Artiya: kalu mereka menunggu saja di kota untuk melaksanakan Jum’at bersama-sama orang kota boleh, dan kalu mereka mau pulang ke desanya unruk menemui ahlinya pun boleh, dan gugurlah Jum’at untuk mereka.

Akan tetapi bagi orang kota yang bertempat tinggal dekat dengan masjid, dengan makna tidak menyulitkan mereka untuk datang ke Jum’at, setelah mereka pulang dari ’Id, sama sekali tidak digugurkan bagi mereka Jum’at, kecuali jika ada padanya suatu udzur yang membolehka ia meninggalkan Jum’at. Misal di Kota Kebumenini, yang di sebagia sudut kota ada Masjid yang didirikan padanya Jum’at, bahkan di tiap desa di Indonesia ini pada perkampungan orang Islam, hampir tiada luput dari Masjid. Oleh karenanya tidak adalah rukhsah untuk meninggalkan Jum’at karena ’Id itu.

Keterangan masalah ini, Ibarat Kitabul Ummi, susunan Imam Assafi’i, dengan riwayat Arrobi bin Sulaiman juz I, halaman 239:

اخبرناالربيع قال اخبرنا ابراهيم بن محمد قال اخبرنا ابراهيسم بن عقبة عن عمربن العزيز قال اجتمع عبدان على عهدرسول الله صلى الله عليه وسلم فقال من احب ان يجلس من اهل العالية فليجلس فى غير حرج اخبرنا الربيع قال اخبارنا الشفعى قال اخبرنا مالك عن ابن شهاب عن ابى عبيد مولى ابن ازهر قال شهدت العيد مع عثمان ابن عفان فجاء فصلى ثم انصرف فخطب فقال إنه قداجتمع لكم فى يومكم هذا عيدان فمن احب من اهل العالية ان ينتظر الجمعة فلينتظرها ومن احب ان يرجع فليرجع فقد اذنت له . قال الشافعى واذاكان يوم الفطر يوم الجمعة صلى الامام العيد حين تحل الصلاة ثم اذن لمن حضره من غير اهل المصر فى ان ينصرفوا ان شاءوا الى اهلهم ولايعودون الى الجمعة , والا ختيار لهم ان يقيموا حتى يجمعوا اويعودوا بعد انصرافهم ان قدروا حتى يجمعوا وان لم يفعلوا فلا حرج ان شآء الله تعالى . قال الشافعى ولايجوز لاحد من اهل المصر ان يدعوا ان يجمعوا الا من عذر يجوز لهم به ترك الجمعة وان كان يوم عيد فال الشافعى : وهكذا ان كان يوم الأضحى.

Artinya: Telah memberitakan kepada kami oleh Arrobi’ berkata ia: Telah memberitahukan kepada kami oleh: As-Syafi’i berkata ia: Telah memberitakan kepada kami oleh Ibrahim, bin Muhammmad, berkata ia: Telah memberitakan kepada kami oleh Ibrahim bin ’Uqbah, dari Umar bin Abdul Aziz, berkata ia: telah berhimpun dua ’Id pada masa Rasulullah Saw. (maksudnya: ’Id dan Jum’at), maka bersabda beliau: Barangsiapa yang suka duduk daripada Ahli ’Aliyah maka hendaklah ia duduk tanpa sesuatu kesempitan.

Duduk, maksudnya: tidak berjum’at ahlul ’Aliyah artinya: orang-orang yang berkediaman di ’Aliyah yaitu desa-desa yang jauh di luar Kota madinah.

Telah membritakan kepada kami oleh Arrobie berkata ia: Telah memberitakan kepada kami oleh As-Safi’ie berkata ia: Telah memberitakan kepada kami oleh Malik dari Ibnu Syihahb dari Abi Ubaid Maula ibni Azhar, berkata ia: Aku telah menyaksikan bersama Utsman bin Affa akan shalat ’Id, maka datang beliau lalu datang bersembahyang kemudian berpaling lalu berhutbah: seraya berkata: Sesungguhnya berhimpun bagi bagi kamu pada hari kamu ini dua ’Id, maka barang siapa yang suka daripada Ahlil ’Aliyah, akan menunggu Jum’at, hendaklah ditunggunya. Dan barangsiapa yang mau pulang, bolehlah pulang, maka sesungguhnya aku telah izinkan baginya. Berkata As-Syafi’i. Dan apabila adalah dari hari ’idil fitri itu hari Jum’at, bersembanhyanglh imam akan ’Id seketika datang waktu bersembahyang, kemudian ia mengizinkan bagi orang yang hadir, selain daripada orang kota, untuk berpaling kalu mereka mau menuju keluarga mereka, dan tidak usah mereka kembali kepada Jum’at. Dan pilihanlah untk mereka bahwa mereka itu bermukim lantas mereka berjum’at. Dan jika mereka tidak melakukannya maka tidaklah mengapa, Insya Allahu Ta’ala.

Berkatalah pula As-Syafi’i: dan tidak boleh hal ini dilakukan bagi seseorang daripada orang kota, bahwa ia meningalkan berjum’at, terkecuali dari sesuatu udzur yang harus dengan sebabnya untuk mreka tinggal Jum’at dan sekalipun hari itu hari ’Id.

Berkatalah pula As-syafi’i: Dan seperti ini jugalah jika terdapat ’Idul Adha





B

AB



Seputar jenazah



  1. MENGKERAMIK ATAU MEMBANGUN KUBURAN (Jawa:--NGIJING)

- Bagaimanakah hukumnya dalam pandangn fiqih?

ويسن ان تقف جماعة بعد دفنه ام بعد البلاء عند من مر اى من اهل الخبرة ولا يحرم النبس بل تحرم امارته وتسوية تراب اذا كان فى مقبرة مسبلة لامتناع الناس من الدفن فيه لظنهم به عدم البلى (كتاب النهاية)

Artinya: ”Para jamaah (pengiring jenazah) disunatkan berdiri setelah jenazah dikub, adapun jenazah yang sudah hancur sesuai dengan perkiraaan para ahli yang sudah berpengalaman, tidak diharamkan untuk digali kembali, tetapi haram membangun dan meratakan (mengecor) tanah di atasnya jika berada di kuburan yang landai (umum), karena hal itu bisa mengalangi untuk mengubur jenazah lain, karena mereka menyangka jenazah pertama belum hancur.

(وكره بناء له) للقبر لصحة النهى عنه بلاحاجة كخوف نبش او حفر سبع او هدم سيل ومحل كراهية البناء اذاكان يملكه فإن كان بناء نفس القبر بغير حاجة مما مر او نحو قباء عليه بمسبلة الى ان قال او موقوفة حرم وهدم وجوبا لانه يتأبد بعد المحاق الميت. وقال البجيرمى واستثنبعضهم قبور الأنبيآء والشهداء والصالحين وغيرهم (إعانة الطالبين)

Artinya: Dan makruh membangun suatu bangunan di atas kuburan, berdasarkan hadits shahih yang melarangnya jika tidak ada keperluan seperti kekhaeatiran akan digali dan dibongkar oleh binatang buas atau diterjang banjir.

Kemakruhan tersebut jika kuburan itu berada ditanah miliknya sendiri, sedangka membangunkuburan tanpa satu keperluan sebagaiman yang telah dijelaskan, dan memberi kubah di atas kuburan yang terletakj di tanah yang landai atau di tanh wakaf, maka hukunya haram dan harus dihancurkan, karena membangun tersebut berarti mengebadikan jenazah setelah hancurnya. Al-Bujairimi berkata: ”sebagaian ulama mengecualikan keberadaan bangunan kuburan yang ada pada kuburan para Nabi, para suhada, orang-orang shalih dan lainnya.

Kett. Makruh mengkeramik kuburan apabila dalam tanah milik sendiri dan tidak ada keperluan.

Haram apabila dalam tanah umum atau wakaf, kecuali makamnya para Nabi dan orang-orang shalih.

  1. MENGUBUR DUA MAYIT ATAU LEBIH DALAM SATU KUBUR.

ولايدفن اثنان فى قبر واحد الا لحاجة كضيق الارض وكثرة الموة يحرم ذلك ابتداء عندالسرخسى وهو المعتمد ونقله النووى فى مجموعه مقتصرا عليه وان نازع السنكى فى التحريم خلافا للماوردى القائل بكراهة ذلك اهـــ البجورى ج 1 ص 259

Artinya: ”Tidak boleh dua mayit dikubur dalam satu kuburan kecuali ada keperluan seperti sempitnya tanah, banyaknya orang yang meninggal. Imam Asy-Sarohsi berpendapat bahwa, penguburan semacam itu haram, ini merupakan pendapat muktamad (yang bisa dibuat pegangan).

Pendapat ini dinukil oleh Imam An-Nawawi dalam kitab majmuknya. Meskipun hukum haram ditentang Imam As Subki, lain halnya lagi Imam Mawardi, beliau mengatakan penguburan semacam itu makruh.

  1. ADZAN DAN IQOMAT KETIKA MENGUBUR MAYIT


- Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan fiqih?


(وسئل) نفع الله به ما حكم الأذان والإقامة عند سد فتح الحد (فأجاب) بقوله هو بدعة إذلم يصح فيه شيئ وما نقل عن بعضهم فيه غير معلول عليه ثم رأيت الأصبحى أفتى بما ذكرته فإنه سئل هل ورد فيهما خبر عند ذلك فأجاب بقوله لاأعلم فى ذلك ولا اثرا الا شيئا يحكى عن بعض المتأخرين أنه قال لعله مقيس على استحباب الأذان والإقامة فى اذن المولود وكأنه يقول الولادة ااول الخروج الى الدنيا وهذا آخر الخروج منها وفيه ضعف.) اهــ فتاوى الكبر ج 2 ص 17(

Artinya: ”Beliau ditanya semoga Allah selalu memberi kemanfaatan, Apa hukum adzan dan iqomat saat menutup kuburan dengan tanah (mengubur mayit)? Dijawab: Bid’ah. Karena tidak jelas sumbernya, sedangkan pendapat yang dinukil sebagian ’ulama itu tidak beralasan. Saya melihat fatwa Imam Al-As Bahi tentang hal itu, beliau ditanya, Apakah ada landasan dari hadits tentang itu (adzan dan iqomat di saat penguburan)?. Saya belum pernah tahu keterangan tentang masalah itu, baik dari hadits atau fatwa para shahabat, melainkan keterangan yang saya ketahui dari sebagian ’ulama mutaakhirin, mereka berpendet bahwa masalah itu dikiaskan (analogikan) pada kesunahan adzan dan iqomat ditelinga anak yang baru lahir. Seakan-akan mereka berkata-kata bahwa kelahiran itu merupakan awal keluar ke dunia, sedangkan kematian merupakan akhir keluar dari dunia, pendapat ini lemah.

  1. MATI TERBAKAR

- Bagimana memandikan dlam pandangn fiqih?

ومن تعذر غسله لفقد الماء او غيره كما لو اخترف وككونه مسموعا مثلا وكان بحيث لو غسل لتهرى يمم. )اهــ كاشفة الشجا ص 101(

Artinya: ”Mayit yang sulit dimandikan dikarenakan tidak ada air atau yang lainnnya seperti terbakar atau kena racun sekiranya ketika dimandikan akan hancur/usang, maka cukup di-tayamumi saja.

  1. MENEMUKAN ANGGOTA TUBUH MAYIT

- Bagimanakah Hukum Menjathisnya (Merawat) Dalam pandangn Fiqih?

(ولو وجد عضوا مسلم علم موته صلى عليه) بعد غسله ومواراته بخرقة بنية الصلاة على جملة الميت كما صلت الصحابة رضى الله عنهم على يد عبد الرحمن بن عتاب (قوله علم موته) او ظن قبل انفصال العضو منه يقينا فإن علم انفصال حال حياته ولو بعد جرح مثلا وان مات بعده به اوشك فى وقت انفصاله ندب مواراته بخرقة ونحوها كالدم والظفر والشعر من الحى اهــ حاشية قليوبى الجز الاول ص 337



Artinya: ”Jika ditemukan organ tubuh orang Islam yang dinyakini matinya, maka wajib untuk disholati setelah dimandikan dan dikafani dengan niat menshalati mayit secara utuh, sebagaimana yang dilakukan para shahabat, mereka menshalati tangan shahabat Abdurrahman bin ’itab.

Perkataan diketahui matinya atau diduga sudah meninggal sebelum anggota terpisah dengan yakin, maka memberi kepahaman apabila diketahui bahwa anggota terpisah sewaktu masih hidup sekalipun setelah terluka, kemudian meninggal, atau masih diragukan keadaan anggota yang terpisah, maka sunnah untuk dikafani sebagaimana darah, kuku, dan rambut yang terpisah dari orang yang masih hidup.

6. MEMBERI KESAKSIAN BAIK PADA JENAZAH

- Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan fiqih?

(فرع) ما يقع كثيرا من ان شخصا من الحاضرين للصلاة على الميت يستشهدهم عليه بعد السلام منها فيقولون اهل الخير له اصل فىالسنة الا ان العوام طراده فى كل ميت ولو كان متجاهرا بالمعاصى وليس بلائق وانا اللئق أنه كان متجاهرا او مات على ذلك او لم يكن متجاهرا وعلموا أنه مات وهو مصران لايذكروه بخير بل لو كانت المصلحة فى ذكر مساويه للتذير من بدعته وسوء طوبته جاز لهم أن يذكروه بالشر كما نقله العلقمى عند شيوخه (الستين مسألة ص112)

Artinya: ”Cabangan hukum” sering terjadi pada masyarakat yang menghadiri shalat mayit memeberikan kesaksian pada mayit setelah salam dari shalat jenazah, mereka mengatakan ” mayit ini orangnya baik” hal demikian itu tidak ada dasar dari hadits, melainkan perbuatan orang awam pada setiap mayit sekalipun mayit tersebut terang-terangan jika maksiat dan juga tidak layak dikatakan baik. Padahal yang pantas bagi orang-orang yang terang-terangan maksiat atau tidak terang-terangan maksiat namun diketahui mayit tesebut selalu melakukan maksiat tidak disebut sebagai mayit yang baik.

Bahkan apabila terdapat kemaslahatan dalam menyebutkan kejelekannya, sebagai peringatan pada orang lain dari perbuatan bid’ahnya, jelek perilakunya, maka boleh bagi masyarakat menyebut mayit tersebut sebagai mayit yang jelek, sebagaimana yang dinukil oleh Syeikh Al-’Alqomi dari dari guru-gurunya.

7. ADZAN SETELAH MAYYIT DILETAKKAN di KUBURAN

Pertanyaan: Bagaimanakah hukum adzan tersebut?

Jawaban: Dalam hal ini pendapat ulama terbagi menjadi dua bagian. Ada yang mengatakan sunnah, dan ada yang berpendapat tidak. Pendapat yang mengatakan bahwa adzan itu sunnah karena disamakan pada adzan dan iqomah ketika anak baru lahir ke dunia. Sedangkan pendapat yang mengatakan tidak sunnah, mendasarkan pada aturan bahwauntuk menetapkan suatu perbuatan itu dihukumi sunnah, harus ada dalil yang mensunnahkannya. Padahal adzan dan iqomat sewaktu meletakkan mayit di kuburan tidak ada dalilnya. Sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anah al-Thalibin , Juz I, hal 230)., yang artinya: ”Ketahhuilah, melakukan adzan di kuburan bukan bukan perbuatan sunnah. Berbeda dengan orang yang berpendapat bahwaperbuatan itu sunnah, karena keluarnya dari dunia diqiyaskan pada masuknya seseorang ke dunia (ketika dilahirkan).”

Al-Imam Syayyid ‘Alawi al-Maliki mencoba menjadi penengah dari dua pendapat tersebut. Beliau mengatakan dalam kitab Majmu’ Fatawi wa Rasa’il, 113.

Yang artinya: “Bentuk adzan yang ketiga adalah adzan yang dilakukan setelah meletakan mayyit dalam kuburan. Perbuatan itu tidak pernah ada dalil khusus yang dating dari Rasulullah Saw. Tapi al-ashbahi berkata, ”dalam hal itu say tidak menjumpai sebuah khabar atau atsar kecuali dalil yang diceritakan oleh sebagian muta’akhirin. (Mereka mengattakan) mungkin perbuatan itu diqiyaskan pada kesunnahan adzan dan iqomah di telinga anak yang baru lahir. Seakan-akan mereka ingin mengatakan, bahwa kelahiran merupakan awal masuk ke dalam dunia, sedangkan kematian merupakan akhir keluar dari dunia. Pendapat seperti ini termasuk dhaif (lemah) karena mengkhususkan adzan dan iqomat tersebut merupakan tauqifi (perbuatan yang langsung diatur oleh Allah Swt.). Namun (ada satu yang perlu diperhatikan) bahwa dzikir kepada Allah Swt. merupakan perbuatan yang sangat disenangi, kapan dan di manapun, kecuali ketika qadha al-hajah (buang hajat).”

Dengan perkataan ini, beliau sebenarnya ingin mengatakan bahwa adzan pada waktu mayyit diletakkan di dalam kuburan tidak dilarang. Perbuatan itu disunnahkan, namun bukan karena diqiyaskan pada anak yang baru lahir, tapi karena perbuatan itu merupakan dzikir kepada Allah Swt.

8. MELAKUKAN SLAMETAN PADA HARI KETIGA, KETUJUH, DAN SETERUSNYA SETELAH SEPENINGGALAN KERABATNYA

- Bagaimana hukumnya selamatan/slametan tersebut dalam pandangan fiqih?

(وسئل) اعاده الله علينا من بركاته عما يذبح من النعم ويحمل مع ملح خلف الميت الى المقبرة ويتصدق به الحفار فقد وعما يعمل يوم ثالث موته من تهيئة أكل واطعامه للفقراء وغيرهم وعما يعمل يوم السابع كذلك وعما يعمل يوم تمام الشهر من الكعك ويدار به على بيوت النساء التى حضرن الجنازة ولم يقصدوا بذلك الامقتشى عادة الاهل البلد حتى ان لم يفعل ذلك صار ممقوتا عنده حسيسا لايعبأون به وهل اذا قصد بذلك العادة والتصدق فى غير الأخرة او مجرد العادة ماذايكون الحكم غيره. وهل يوزع ماصرف على انصاب الورثة عند قسمة التركة وإن لم يرضى به بعضهم وعن الميت عند اهل الميت الى مضى شهر من موته لأن ذلك عندهم كالفرض ما حكمه؟

(فأجاب) يقول جميع ما يفعل مما ذكر فى السؤال من البدع المحمودة لكن لاحرمة فيه الا ان فعل شيئ منه لنحو نائحاة او رثاء ومن قصد بفعل شيئ منه دفع نفع الجهال وحوضهم فى عرضه بسبب الترك يرجى ان يكتب له ثواب ذلك أخذا من امره صلى الله عليه وسلم من احدث الصلاة بوضع يده على انفه وعللوا بصونه عرضه عن حوض الناس فيه لو انصرف على غير هذه الكيفية ولا يجوز على ان يفعل شيئ من لك من الـــتركة حيث كان فيها محجور عليه مطلق أو كان كلهم رشداءلكن لم يرضى بعضهم ( فتاوى كبرى 2 ص 7)

Artinya: Beliau ditanya --semoga Allah mengembalikan barokahnya kepada kita--. Tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan kepada para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga dalam bentuk penyediaan makanan untuk para faqir dan yang lain, dan hal demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta’ziah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melaksanakannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melakukan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan pahala akhirat, maka bagaimana hukumnya? Apakah harta yang telah ditasyarufkan atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah? Walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufkan tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama sebulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti ”wajib” bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab: ”semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid’ah yang tercela tapi tidak sampai haram (namun makruh) kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit itu bertujuan untuk ”meratapi” atau memuji secara berlebihan. Dan tatkala melakukan prosesi tersebut guna menangkal ”ocehan orang-orang bodoh dan memperbincangkan dirinya disebabkan tidak mengikuti, maka diharapkan ia mendapat pahala, berdasarkan perintah Nabi pada seseorang yang batal shalatnya (karena hadats) untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah) ini untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil/dikurangi sekira terdapat ahli waris yang mahjur ’alaih (orang yang tercegah dari pentasarufan seperti anak kecil dan orang gila) atau ahli waris yang sudah pandai-pandai namun sebagian ahli waris tidak merestui prosesi tersebut diambilkan dari tirkah.

Pertanyaan:Apa hukum penyuguhan makanan dari pihak keluarga mayit kepada orang-orang yang ta’ziah di hari wafat atau selainnya dan hal itu dilakukan bertujun sedekah atas nama mayit? Apakah keluarga mayit mendapatkan pahala dari sedekahnya tersebut?

Jawaban:Penyuguhan makanan di hari wafat atau hari ketiga dan ketujuh hukumnya makruh ditinjau dari perkumpulan dan penentuan waktu, namun kemakruhan tersebut tidak sampai menghilangkan pahala sedekah.

9. FIDYAH


Pertanyaan:

Di kalangan warga nahdhiyyin sering berlaku fidyah shalat dan puasa bagi keluarganya yang telah meninggal dunia yang diyakini mayit tersebut punya hutang shalat dan puasa.

Bagaimanakah hal tersebut menurut fiqih?


Jawaban:

Boleh dan sunnah hukumnya, hal tersebut disebutkan dalam kitab Nihayatuzzain karangan Syekh Nawawi Banten hal. 193:

ومن مات وعليه صلاة او اعتكاف لم يفعل ذلك عنه ولافدية لعدم ورودها لكن تسن كما افاده الشبرا ملسى الى قوله ..وقال ابن حجر نقلا عن شرح المختار مذهب اهل السنة أن للإنسان ان يجعل ثواب عمله وصلاته للميت ويصله اهـــ

Artinya: barang saiapa meninggal dunia dan wajib atasnya shalat atau i’tikaf maka tidak wajib untuk dilakukan atasnya, dan pula tidak wajib membayar fidyah karena tidak terdapat dalil yang berkaitan dengan hal tersebut. Tetapi (hal tersebut) sunnah dilakukan sebagaimana disampaikan oleh Syekh as Syabra Malisi dan seterusnya…… dan telah berkata Ibnu Hajar dengan menukil dari Syarah Muhtar bahwa: menurut madzhab ahli sunnah sesungguhnya bagi seorang manusia boleh menjadikan pahala amal dan shalatnya untuk orang yang telah meninggal dunia dan sampai kepadanya.















































B

AB





zakat



NISHOB ZAKAT DAN UKURAN LAINNYA

  1. Emas nishobnya adalah 85 gram.

  2. Perdagangan dan semisalnya nishobnya adalah senilai emas 85 gram.

  3. Nishob padi gagangan adalah 1631,516 kg.

  4. Nishob gabah adalah 1323,132 kg.

  5. Kacang tunggak nishobnya adalah 756,697 kg.

  6. Kacang ijo nishobnya adalah 780,036 kg.

  7. Jagung kuning nishobnya adalah 720 kg.

  8. Jagung putih nisbohnya adalah 714 kg.

  9. 1 mud beras putih 679,79 gram.

  10. 1 sho’ (nishob zakat fitrah) 2719,19 gram.

  11. Air dua kulah 216.000 liter atau kubus berukura + 60 cm.

  12. Perjalanan yang boleh qashar/jama’ sholat 85 km.

PERINGATAN:

Takaran dan ukuran ini bila terdapat pendapat lain yang berbeda maka hendaknya ukuran nishob dan zakatnya biji-bijian dengan menggunakan satuan berat (gram) sebagaimana daftar di atas hanyalah pendekatan saja, sebab ukuran yang asli menurut syara’ adalah menggunakan Sebaiknya takaran (Sho’ atau Wasaq) pada zaman Rasulullah Saw. Oleh sebab itu dihimbau kepada kaum muslimin apabila ada perbedaan pendapat dalam menentukan berat kadar nishob atau zakat, agar memilih pendapat yang lebih memberatkan (F. Wahab Juz : 1 Hal : 114).

















B

AB





Puasa

1. PUASA PATIGENI , NGROWOT DLL

Pertanyaan:

Disebagian kalangan Nahdhiyyin sering kita mendengar ada puasa satu hari satu malam bahkan tiga hari/lebih dan menghindari makan nasi, bagaimana pandangan syari’at tentang hal ini?

Jawaban:

Hal-hal tersebut boleh dilakukan dengan niyat riyadhoh tidak berniyat pusa syar’i, dari keterangan Kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal 224:

وقد روى ابن جرير عن عبد الله ابن الزبير وغيره من السلف انهم كانوا يواصلون الأيام المتعددة وحمله منهم على انهم كانوا يفعلون ذلك رياضة لأنفسهم لاأنهم كانوا يفعلونه عبادة , والله اعلم

Artinya : telah berkata Ibnu Jarir dari Abdullah bin Zubair dan lainnya dari golongan ulama salaf, sesungguhnya mereka menyambung (puasanya) berhari-hari, dan hal tersebut ditahmilkan mereka melakukannya untuk melatih diri mereka (riyadhoh) mereka tidak melakukannya dengan niyat ibadah (puasa).

























B

AB





Ikhtitam

  1. KETIKA MENGADAKAN ACARA MAKA DIAWALI DAN DIAKHIRI DENGAN FATIHAH

- Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan fiqih?

(مسألة) جارت عادة عامة المسلمين بجميع الاقطار ترتيب الفاتحة وقرائتها بعد الدعوات فى ختام المجالس ـ الى ان قال ـ فهى مستحسنة شرعا وان لم يكن لها من كتاب وسنة اهـــ نهاية المفيد ص 18ـــ19

Artinya: ”(Masalah) Kebanyakan umat Islam di beberapa daerah melakukan tradisi, membaca fatihah di awal dan akhir pertemuan setelah berdoa. Hal semacam itu dianggap baik menurut syariat meskipun tidak ada dasar dari Al-Quran dan Al-Hadits.

  1. MELAKUKAN WALIMAH KEHAMILAN (MEMITU/TINGKEPAN(--jawa)

Bagimanakah hukumnya dalam pandangn fiqih?

سؤال : ما قولكم سيدى فى حكم وليمة الحمل , ثم الذى يعتاده بعد اهل بلدنا فى تلك الوليمة , ان الحامل يغسلها الحاضرات من النسوة المدعوات حينما أردن ان ينصرفن من بيتها وهى جالسة وبين يديها نرجيل اصفر وبيض وغيرها مما يعتقدون انه لابد ان يكون مغها فيصبن رأسها ماء مخلوطا بشيئ من حانوط اونحوه . وبعضهم يكتفى باطعام الطعام وقراة ما تيسر من القرآن والصلاة على خير الانامز نسئلكم عن حكمها مما تضمنته تلك الوليمة من الأمور المذكورة ؟

الجواب : والله الموفق للصواب : ان وليمة الحمل المذكور ة فى السؤال ليست الولائم المشروعة فهى بدعة وقدتكون بدعة قبيحة لما يصحبها من العادة الذميمة كالأشياء التى ذكرت فى السؤال وكل ذلك مذموم الا ماذكر آخرا من قول السائل وبعضهم يكتفين بقراءة القرآن ثم ينصرفن . واما عدا ذلك فكله من المنكرات والعادات القبيحة التى ينبغى التنبيه على قبحها ونصيحة متعاتيها . فإن العوام اذا وجدوا ناصحا أمينا من اهل العلم يقصد بنصيحته ابتغاء وجه الله يلتقون نصيحته بالقبول وتقع منهم موقعا حسنا فيجب على اهل العلم معالجة مثل هذه الأمور بالموعظة الحسنة والنية الصالحة والاسباب النافعة للمسلمين . قال الله تعالى : فذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين . وقال الله تعالى : ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة . وسبحان الله تعالى أعلم (قرة العين بفتاوى اسماعيل ص 158 مكتبة البركة)

Artinya: Pertanyaan: Apa pendapat kalian tentang hukum walimah kehamilan? Kebiasaan masyarakat kita dalam walimah tersebut, wanita yang hamil dimandikan dimandikan oleh para wanita oleh para tamu yang menjadi undangan wanita yang hamil tersebut duduk dan disekelilingnya terdapat kelapa kuning, telor dan lain-lainnya dari hal-hal yakni harus dilakukan, kemudian bagi para tamu wanita yang hendak pulang menghuyurkan air terlebih dahulu yang tercampuri oleh minyak hanut dan semacamnya di atas kepalanya (wanita yang hamil). Sebagian masyarakat dalam walimah tersebut cukup dengan memberi makanan dan memebaca Al-quran ala kadarnya, dan membaca shalawat. Kami menanyakan tentang hukum walimah tersebut dan hal-hal yang terkait dengannya?

Jawab: Allah zat yang memberi pertolongan terhadap yang benar, sesungguhnya walimah kehamilan yang disebutkan dalam pertanyaan dan walimah-walimah yang disyariatkan, hal itu bid’ah, dan bisa jadi bid’ah qobihah (yang jelak) jika disertai dengan adat-adat yang tercela, sebagaiman adat yang telah disebutkan dalam pertanyaan.

Kesemuanya adat itu tercela, kecuali yang terakhir, yakni sebagian masyarakat menganggap cukup dengan membaca Al-Quran dengan ala kadarnya kemudian para wanita pulang. Sedangkan adat yang selain itu termasuk munkarot, dan adat yang buruk, yang mana hendaknya diingatkan atas buruknya dan menasehati orang-orang yang malakukannnya, sebab orang awam ketika menemukan tokoh masyarakat yang berilmu, dipercaya, menasehati, dan bertujuan mencari ridho Allah, maka mereka akan menerima nasehatnya dan akan berdampak baik, maka dari itu wajib bagi tokoh masyarakat yang berilmu untuk melakukan semacam itu dengan maungidoh, nasehat yang baik dan niat yang baik pula, dan dengan cara-cara yang akan bermanfaat bagi orang-orang Islam, Allah berfirman: ”Ingatkanlah, sebab peringatan itu manfaat bagi orang-orang mukmin, firman Allah: Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan himah dan nasehat yang baik.”

  1. MEROKOK di DALAM MASJID

- Bagaimanakah hukumnya dalam pandangan fiqih?

ما حكم شرب الدخان فى المسجد بغير تلويث له كأن كان هناك طفايات معدة لذلك ؟

الجواب : والله الموفق للصواب : ان الشرب الدخان من حيث هو مكروه عند الشافعية وبعض العلمآء وعند بعضهم حرام لكونه من الأشيآء ذوات الروائح الخبيشة بالاضافة الى ما فيه من تلويث الفم والصدر وصرف البعض الأموال . أما اذا كان فى المسجد كما ذكر فى السؤال او فى غيره من مجالس العلم فهو حرام لما فيه من انتهاك حرمة المكان لأن الله تعالى يقول فى بيوت أذن الله ان ترفع ويذكرها فيا اسمه أى او جب الله وأمر أن تعظم وتحترم وشرب الدخان فيها ينافى الاحترام والتعظيم ويخشى على فاعله سوء الخاتمة هذا اذا لم يكن هناك قصد للإنتهاءوالا فإن قصد شارب الدخان فى المسجد المعاندة والانتهاك فلا شك أنه يرتد ة والعياذ بالله والمساجد من شعائر الله التى يجب تعظيمهاز

Artinya: ”Apakah hukum merokok di masjid, tanpa mengotorinya seperti di masjid terdapat asbak untuk tempat latunya?

Jawab: ’Allah dzat yang memberi pertolongan terhadap yang benar, sesungguhnya merokok jika dipandang dari sisi merokoknya tidak memandang sisi yang lain hukumnya makruh menurut Syafi’iyyah, sedangkan dari ’ulama baik dari kalangan Syafi’iyyah atau yang lainnya menghukumi haram, sebab merokok termasuk dari sesuatu yang memiliki bau yang tidak sedap pada mulut, merusak dada, hati dan membuang sebagian harta. Sedangkan merokok di dalam masjid sebagaina yang dipertanyakan atau diselainnya seperti majlis taklim itu haram pula bila sebab mengoyak-oyak kehormatan masjid, kerena Allah telah berfirman di dalam rumah-rumah Allah (masjid Allah) telah mengijini untuk diluhurkan dan disebut-sebut nama Allah di dalamnya. Yakni Allah mewajibkan dan memerintah agar (masjid-masjid Allah) diagungkan dan dimulyakan, sedangkan merokok di dalamnya malah menghilangkan rasa memuliakan dan mengagungkan, dan dikhawatirkan shuul khotimah (jelek akhirnya ketika wafat) bagi yang melakukannya.

Ini (hukum haram) jika tidak bermaksud mengkoyak kehormatan masjid, akan tetapi jika orang yang merokok di dalam masjid bertujuan menentang perintah dan mengkoyak kehormatn masjid, maka tidak diragukan lagi kemurdadannya, a’udzubillah. Masjid adalah bukti kebesaran Allah yang wajib untuk diagungkan.

4. TRADISI MENCIUM TANGAN PARA ULAMA, HABAIB , DAN ORANG-ORANG SHALEH

- Apakah dihukumi sunnah atau sekedar mubah atau bahkan makruh?

Berkata Syeikh Zaenuddin” an-Nawawi sangat setuju dengan pendapat yang mengatakan, bahwa membungkukan badan, mencium tangan atau kaki-kaki orang kaya, hukumnya makruh.

Dalam sebuah hadits:

وف الحديث : من تواضع لغنى ذهب ثلثادينه.

Artinya: “barang siapa merendahkan diri dari orang kaya, maka akan hilang dua pertiga agamanya”.

Namun, hal ini disunnahkan, jika memang orangnya shaleh, berilmu, atau seorang syarif. Karena abu Ubaidah suatu ketika mencium tangan sahabat Umar Radiyallahu ’Anhhumma.

Diriwayatkan pula, bahwa Ka’ab mencium tangan dan kaki Rasulullah Saw ketika turun ayat yang menjelaskan , diterimanya taubat Ka’ab, begitu juga Zaid bin Tsabits pernah mencium tangan Ibnu Abas, karena beliau termasuk ahlu bait (Bughyah, 296).

1 comment:

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah, menambah pencerahan, tapi tolong tambahin ref hadits shahih atau ayat

sholeh_annur@yahoo.com

Posting Komentar