Sabtu, September 26, 2009

KHITTAH NAHDLATUL ULAMA

1. Muqaddimah.
Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar kesadaran dan keinsyafan bahwa setiap manusia hanya bisa memenuhi kebutuhannya bila bersedia untuk hidup bermasyarakat. Dengan bermasyarakat, manusia berusaha mewujudkan kebahagiaan dan menolak bahaya terhadapnya. Persatuan, ikatan batin, saling bantu-membantu dan keseia-sekataan merupakan prasyarat dan tumbuhnya persaudaraan (al Ukhuwwah) dan kasih sayang yang menjadi landasan bagi lerciptanya tata kemasyarakatan yang batk dan harmonis.
Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyyah Diniyyah adalah wadah bagi para ulama dan pengikut-pengikutnya yang didirikan pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 dengan tujuan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam yang berhaluan ahlussunnah waL jamaah dan menganut salah satu madzhab empat, masing-masing Imam Abu Hanifah An Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris As Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal; serta unluk mempersatukan langkah para ulama dan pengikut-pengikutnya dalam melakukan kegiatan-kegiatannya yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahalan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabal manusia.
Nahdlatul Ulama dengan demikian merupakan gerakan keagamaan yang bertujuan untuk ikut membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat yang bertakwa kepada Allah subhannahu wa ta’ala, cerdas, terampil, berakhlak mulia, tenteram, adil dan sejahtera.
Nahdlatul Ulama mewujudkan cita-cita dan tujuannya melalui serangkaian ikhtiar yang didasari oleh dasar-dasar faham keagamaan yang membentuk kepribadian khas Nahdlatul Ulama. Inilah yang kemudian disebut sebagai Khittah Nahdlatul Ulama.
2. Pengertian Khittah Nahdlatul Ulama.
a.Khittah Nahdlatul Ulama adalah Landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga Nahdlatul Ulama yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perseorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan.
b.Landasan tersebut adalah faham, Islam ahlussunnah wal jamaah yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan di Indonesia, meliputi dasar-dasar amal keagamaan maupun kemasyarakatan.
c.Khittah Nahdlatul Ulama juga digali dan intisari perjalanan sejarah khidmahnya dari masa ke masa.
3. Dasar-dasar Faham Keagamaan Nahdlatul Ulama.
a.Nahdlatul Ulama mendasarkan faham keagamaannya kepada sumber ajaran Islam: Al-Quran, As-Sunnah, Al- Ijma’ dan Al-Qiyas.
b.Dalam memahami, menafsirkan Islam dan sumber-sumbernya tersebul di atas, Nahdlatul Ulama mengikuti faham ahlussunnah wal jamaah dan menggunakan jalan pendekatan (al madzhab):
1)Di bidang aqidah, Nahdlatul Ulama mengikuti faham ahlussunnah wal jamaah yang dipelopori oleh Imam Abul Hasan Al -Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi.
2)Di bidang fiqh, Nahdlatul Ulama mengikuli jalan pendekatan (al madzhab) salah satu dan madzhab Abu Hanifah An Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal.
3)Di bidang tasawuf mengikuti antara lain Imam al Junaid Al Bugdadi dan Imam Al Ghazali serla imam-imam yang lain.
c. Nahdlatul Ulama mengikuti pendirian, bahwa Islam adalah agama yang fithri, yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki oleh manusia. Faham keagamaan yang dianut oleh Nahdlatul Ulama bersifal menyempurnakan nilai-nilai yang baik yang sudah ada dan menjadi milik serta ciri-ciri suatu kelompok manusia seperti suku maupun bangsa, dan tidak bertujuan menghapus nilai-nilai tersebut.
4)Sikap Kemasyarakalan Nahdlatul Ulama.
Dasar-dasar pendirian faham keagamaan Nahdlatul Ulama tersebut menumbuhkan sikap kemasyarakatan yang bercirikan pada:
a.Sikap Tawasuth don I’lidal.
Sikap tengah yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersikap tatharruf (ekslrim).
b.Sikap Tasamuh.
Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’, atau menjadi masalah khilafiyah; serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.
c.Sikap Tawazun
Sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah subhannahu wa ta’ala, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.
d.Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbualtn yang baik, berguna dan bermanfaal bagi kehidupan bersama; serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
5. Perilaku Yang Dibenluk OIeh Dasar Keagamaan dan Sikap Kemasyarakatan Nahdlatul Ulama.
Dasar-dasar keagamaan (angka 3) dan sikap kemasyarakatan tersebul (angka 4) membentuk perilaku warga Nahdlatul Ulama, balk dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi yang:
a.Menjunjung tinggi nilai-nilai maupun norma-norma ajaran Islam.
b.Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.
c.Menjunjung tinggi sifal keikhlasan dalam berkhidmah dan berjuang.
d.Menjunjung tinggi persaudaraan (al ukhuwwah), persatuan (al ittihad) serta kasih mengasihi.
e.Meluhurkan kemuliaan moral (al akhlaqul karimah), dan menjunjung tinggi kejujuran (ash shidqu) dalam berfikir, bersikap dan bertindak.
f.Menjunjung tinggi kesetiaan (Loyalilas) kepada agama, bangsa dan negara
g.Menjunjung tinggi nilai amal, kerja dan prestasi sebagai bagian dan ibadah kepada Allah subhannahu wa ta’ala.
h.Menjunjung tinggi ilmu pengetahuan serta ahli-ahlinya.
i.Selalu siap untuk menyesuaikan didi dengan seltap perubahan yang membawa manfaal bagi kemaslahatan manusia.
j.Menjunjung tinggi kepeloporan dalam usaha mendorong, memacu dan mempercepat perkembangan masyarakatnya.
k.Menjunjung tinggi kebersamaan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
6. Ikhtiar-ikhtiar Yang Dilakukan Nabdlatul Ulama.
Sejak berdirinya, Nahdlatul Ulama memilih beberapa bidang utama kegiatannya sebagai ikhtiar mewujudkan cita-cita dan tujuan berdirinya, baik tujuan yang bersifal keagamaan maupun kemasyarakatan.
Ikhtiar-ikhtiar tersebut adalah:
a.Peninigkatan Silaturrahim/komunikasif interrelasi antar Ulama.
(Dalam statoeten Nahdlatoel Oelama 1926 disebutkan: mengadakan perhoeboengan diantara oelama-oelama jang bermadzhab).
b.Peningkatan Kegiatan di Bidang Keilmuan Pengkajian/Pendidikan.
(Dalam statoeten Nahdlatoel Oelama 1926 disebutkan: memeriksa kitab-kitab sebelomnja dipakal oentoek mengadjar, soepaja diketahoei apakah itoe daripada kitab-kitab ahli soennah wal djamaah atoe kitab-kitab ahli bid’ah; memperbanjak madrasah-madrasah jang berdasar agama Ismam).
c.Peningkatan Kegiatan Penyiaran Islam, Pembangunan Sarana-sarana Peribadatan dan Pelayanan Sosial.
(Dalam statoeten Nahdlatoel Oelama 1926 disebutkan: menjiarkan agama Islam dengan djalan apa sadja jang halal; memperhtlikan hal-hal jang berhoeboengan dengan masdjid-masdjid, soeraoe-soeraoe dan pondok-pondok, begitoe joega dengan ihwalnja anak-anak jatim dan orang-orang jang fakir miskin).
d.Peningkatan Taraf don Kwalitas Hidup Masyarakat Melalui Kegiatan Yang Terarah.
(Dalam statoeten Nahdlatoel Oelama 1926 disebutkan: mendirikan badan-badan oentoek memajoekan oeroesan perltnian, perniagaan, dan peroesahaan jang tiada dilarang oleh sjara’ agama Islam).
Kegiatan-kegiatan yang dipilih oleh Nahdlatul Ulama pada awal berdiri dan khidmahnya menunjukkan pandangan dasar yang peka terhadap pentingnya terus-menerus dibina hubungan dan komunikasi antar para ulama sebagai pemimpin masyarakat serta adanya keprihatinan atas nasib manusia yang terjerat oleh keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Sejak semula Nahdlatul Ulama melihal masalah ini sebagai bidang garapan yang harus dilaksanakan melalui kegiatan kegiatan nyata.
Pilihan akan ikhtiar yang dilakukan mendasari kegiatan Nahdlatul Ulama dan masa ke masa dengan tujuan untuk melakukan perbaikan, perubahan dan pembaharuan masyarakal, terutama dengan mendorong swadaya masyarakal sendiri.
Nahdlatul Ulama sejak semula meyakini bahwa persatuan dan kesatuan para ulama dan pengikutnya, masalah pendidikan, dakwah Islamiyah, kegiatan sosial serta perekonomian adalah masalah yang tidak bisa dipisahkan untuk merubah masyarakat yang terbelakang, bodoh dan miskin menjadi masyarakat yang maju, sejahtera dan berakhlak mulia.
Pilihan kegialan Nahdlatul Ulama tersebut sekaligus menumbuhkan sikap partisipati lerhadap setap usaha yang bertjuan membawa masyarakat kepada kehidupan yang maslahat.
Setiap kegialan Nahdlatul Ulama untuk kemaslahatan manusia dipandang sebagai perwujudan amal ibadah yang didasarkan pada faham keagamaan yang dianutnya.
7. Fungsi Organisasi dan Kepemimpinan Ulama di Dalamnya.
Dalam rangka melaksanakan ikhtiar ikhtiarnya Nahdlatul Ulama membentuk organisasi yang mempunyai struktur tertentu yang berfungsi sebagai alat untuk melakukan koordinasi bagi tercapainya tujuan-tujuan yang lelah ditentukan, baik tujuan yang bersifat keagamaan maupun kemasyarakatan.
Karena pada dasarnya Nahdlatul Ulama adalah Jam’iyah Diniyyah yang membawakan faham keagamaan, maka ulama sebagai matarantai pembawa faham Islam ahlussunnah wal jamaah, selalu ditempalkan sebagai pengelola, pengendali, pengawas, dan pembimbing utama jalannya organisasi.
Unluk melaksanakan kegiatan kegiatannya, Nahdlatul Ulama menempatkan tenaga-tenaga yang sesuai dengan bidangnya untuk menanganinya.
8. Nahdlatul Ulama dan Kehidupan Berbangsa.
Sebagal organisasi kemasyarakatan yang menjadi bagian tak terpisahkan dan keseluruhan bangsa Indonesia, Nahdlatul Ulama senantiasa menyatukan din dengan perjuangan nasional bangsa Indonesia. Nahdlatul Ulama secara sadar mengambil posisi yang aktif dalam proses perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekaan, serta ikut aktif dalam penyusunan UUD 1945 dan perumusan Pancasila sebagai dasar negara.
Keberadaan Nahdlatul Ulama yang senantiasa menyatukan diri dengan perjuangan bangsa, menempatkan Nahdlatul Ulama dan segenap warganya untuk senantiasa aktif mengambil bagian dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah subhannahu wa ta’ala.
Karenanya setiap warga Nahdlatul Ulama harus menjadi warganegara yang senanliasa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945.
Sebagai organisasi keagamaan, Nahdlatul Ulama merupakan bagian tak terpisahkan dan umat Islam Indonesia yang senantiasa berusaha memegang teguh prinsip persaudaraan (al ukhuwwah), toleransi (tasamuh), kebersamaan dan hidup berdampingan baik dengan sesama umat Islam maupun dengan sesama warganegara yang mempunyai keyakinan/agama lain untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dan dinamis.
Sebagai organisasi yang mempunyai fungsi pendidikan, Nahdlatul Ulama senantiasa berusaha secara sadar untuk menciptakan warganegara yang menyadari akan hak dan kewajibannya terhadap bangsa dan negara.
Nahdlatul Ulama sebagal jami’iyyah secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan manapun juga.
Setiap warga Nahdlatul Ulama adalah warganegara yang mempunyai hak-hak politik yang dilindungi oleh Undang-undang. Di dalam hal warga Nahdlatul Ulama menggunakan hak hak politiknya harus dilakukan secara bertanggungjawab, sehingga dengan demikian dapat ditumbuhkan sikap hidup yang demokratis, konstitusional, taat hukum dan mampu mengembangkan mekanisme musyawarah dan mufakat dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi bersama.
9. Khotimah
Khitthah Nahdlatul ULama mi merupakan Landasan dan patokan-patokan dasar yang perwujudannya dengan izin Allah subhaanahu wata’alaa terutama terganlung kepada semangat pemimpin dan warga Nahdlatul Ulama. Jam’iyah Nahdlatul Ulama hanya akan memperoleh dan mencapai cita-citanya jika pemimpin dan warganya benar-benar meresapi dan mengamalkan Khitthah Nahdlatul Ulama ini.
Hasbunallah wa ni ‘mal wakil. Ni ‘mal maula wani ‘man nashir.

2 comment:

Khittah Ashilah mengatakan...

nama aku ! Bangganya aku punya nama khittah.. Trimakasih ayah, nama pemberianmu adalah nama yang benarbenar bagus

Hendri Unduh N mengatakan...

alhamdulillah namanya berkah..aamin..

Posting Komentar