Sabtu, September 26, 2009

Oleh: Rais AkbarJam’iyah Nahdlatut Ulama K.H.M. HASYIM ASY’ARI
(Diterjemahkan oleh H.A. Mustofa Bisri, Rembang) Menjelang Muktamar NU ke-27

Segala puji bagi Allah yang tetah menurunkan AL-Quran kepada hambaNya agar menjadi peringatan kepada sekalian umat dan menganugerahinya hikmat serta ilmu tentang sesuatu yang Ia kehendaki. Dan barangsiapa dianugerahi hikmah, maka benar-benar mendapat keberuntungan yang melimpah.
Allah Ta’ata berfirman:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا - وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا
(Q.33: 45-46) “Wahal nabi, aku utus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan penyeru kepada (agama) Allah serta sebagai pelita yang menyinari.”

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
(Q. 16:125) “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, peringatan yang baik dan bantahlah mereka dengan yang lebih baik. Sungguh Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia Maha mengetahui orang-orang yang mendapalt hidayah.”
فَبَشِّرْ عِبَادِ- الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ وَأُوْلَئِكَ هُمْ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
(Q. 39:17-18) “Maka berilah kabar gembira hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik darinya. Merekalah orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal”

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

(Q. 17:111) “Dan katakanlah: segala puji bagi Allah yang tidak beranakkan seorang anak pun, tak mempunyai sekutu dalam kekuasaan-Nya, dan tidak butuh bala bantuan (untuk menjaga-Nya) dari kekalahan. Agungkanlah Dia seagung-agungnya.”

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Q. 6:153) “Dan sesungguhnya inilah jalanKu (agamaKu) yang lurus; maka ikutilah Dia dan jangan ikuti berbagai jalan (yang lain) nanti akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Demikianlah Allah memerintahkan agar kami semua bertaqwa.”
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
(Q. 4:59) “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ullil amri di antara kamu; kemudian jika kamu berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul kalau kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih bagus dan lebih baik kesesudahannya.”
فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Q. 7:157) “Maka orang-orang yang beriman kepadanya (kepada Rasullah), memuliakannya, membantunya dan mengikuti cahaya (Al-Quran) yang diturunkan kepadanya; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
(Q. 59:10) “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (sesudah Muhajirin dan Ansor) berdo’a: Ya Tuhan ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami beriman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha pengasih lagi Maha penyayang.”
يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
(Q. 49:13) “Wahai manusia, sesungguhnya Aku telah menciptakan kamu dan seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia si sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah di antara kamu semua...”
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا
(Q. 35:28) “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah Ulama.”
مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَابَدَّلُوا تَبْدِيلاً
(Q. 33:23) “Di antara orang-orang yang mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah, lalu di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada yang menunggu, mereka sama sekali tidak merubah (janjinya).”
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
(Q. 9:119) “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan beradalah kamu bersama orang-orang yang jujur.”
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ
(Q. 31: 15) “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu.”
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
(Q. 21: 7) “Maka bertanyalah kamu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
(Q. 17: 36) “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلُُّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
(Q. 3:7) “Adapun orang-orang yang dalam hati mereka terdapat kecenderungan menyeleweng, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dan padanya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Sedang orang-orang yang mendalam ilmunya mereka mengatakan: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat itu, semuanya dan sisi Tuhan kami.” Dan orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (dari padanya).”
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
(Q. 4:115) “Barangsiapa menentang Rasul setelah petunjuk jelas padanya dan dia mengikuti selain ajaran-ajaran orang mukmin, maka Aku biarkan ia menguasai kesesatan yang telah dikuasainya (terus bergelimang dalam kesesatan) dan Aku masukkan ia ke neraka Jahanarn. Dan neraka Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَتُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
(Q. 8: 25) “Dan takutlah kamu semua akan fitnah yang benar-benar tidak hanya khusus menimpa orang-orang dzalim di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat dahsyat siksaNya.”
“Janganlah kamu bersandar kepada orang-orang yang dzalim, nanti kamu akan terkena api neraka.”
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادُُ لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ
(Q. 66: 6) “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kamu dan keluarga kamu dan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, di atasnya berdiri malaikat- malaikat yang kasar, keras, tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu bahwa mereka ada bersama orang-orang yang ketinggalan (tidak masuk ikut serta mmeperjuangkan agama Allah). Hati mereka telah dikunci mati, maka mereka pun tidak bisa mengerti.”
(Q. 9:87) “Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
(Q. 3:8) “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi hidayah kepada kami, anugerahkanlah, kepada kami rahmat dari sisiMu; sesungguhnya Engkaulah Maha Penganugerah.”
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْعَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ
(Q. 3:193) “Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah dari diri kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.”
رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَاوَعَدتَنَا عَلَىرُسُلِكَ وَلاَتُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيعَادَ
(Q. 3:194) “Ya Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami apa yang Engkau janjikan kepada kami melalui utusan-utusanMu, dan jangan hinakan kami di hari kiamat kelak. Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.”
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
(Q. 3:103) “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan jangan kamu bercerai- berai, dan ingatlah nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan lalu Allah merukunkan antara hari-hari kamu, kemudian kamu pun -karena nikmatNya- menjadi orang orang yang bersaudara.”
وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
(Q. 8:46) “Dan janganlah kamu saling bertengkar, nanti kamu jadi gentar dan hilang kekuatanmu dan tabahlah kamu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah.”
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
(Q. 49: 10) “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu dirahmati.”
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَايُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا - وَإِذًا لأَّتَيْنَاهُم مِّن لَّدُنَّآأَجْرًا عَظِيمًا - وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا
(Q. 4: 66-68) “Kalau mereka melakukan apa yang dinasehatkan kepada mereka, niscaya akan Iebih baik bagi mereka dan memperkokoh (iman mereka). Dan kalau memang demikian, niscaya Aku anugerahkan kepada mereka pahala yang agung dan Aku tunjukkan mereka jalan yang lempang.”
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
(Q. 29: 69) “Dan orang-orang yang berjihad dalam (mencari) keridaanKu, pasti Aku tunjukkan mereka jalanKu, sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(Q. 33: 56) “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikatNya bershalawat unluk Nabi. Wahal orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuknya dan bersalamlah dengan penuh penghormatan.”
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
(Q. 42: 38) “Dan (apa yang ada di sisi Allah Lebih baik dan Iebih kekal juga bagi) orang orang yang mematuhi seruan Tuhan mereka, mendirikan shalat, dan urusan mereka (mereka selesaikan) secara musyawarah antara mereka, serta terhadap sebagian apa yang Aku rizqikan, mereka menafkahkannya.”
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
(Q. 9: 100) “... dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka (Muhajirin dan Ansor) dengan baik, Allah ridla kepada mereka.” Amma ba’du.
Sesungguhnya perkumpulan, saling tolong menolong, persatuan, dan kekompakan adalah merupakan hal yang tidak seorang pun tidak mengetahui manfaatnya. Betapa tidak, Rasulullah saw,. benar-benar telah bersabda:
يد الله مع الجمعة فاذا شذالشاذ منهم ا ختطفه الشيطان كما يختطف الذئب من الغنم
(Dituturkan oleh Al-Haafizh As-Suyuthy) “Tangan Allah bersama jama’ah (pertolonganNya selalu menyertai kumpulan orang banyak). Maka bila di antara jama’ah itu ada yang memencil sendiri, maka setan pun akan menerkamnya seperti halnya serigala menerkam kambing.”
Allah ridla pada kamu tiga hal dan tidak suka tiga hal. Allah ridla kamu menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apa pun; kamu semua berpegang teguh kepada tali (agama) Allah dan tidak bercerai-berai; dan kamu saling memperbaiki dengan orang yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kamu. Sementara Allah tidak suka kamu saling bantah; banyak tanya; dan menyia-nyiakan harta benda.”
عن ابي هر ير ة رضي الله عنه قال رسو ل الله صلى الله عليه و سلم : "لا تحا سدوا ولاتنا جسوا ولا تبا غضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكو نوا عبادالله اخوانا"
(Hadis riwayal Imam Muslim) “Janganlah kamu saling mendengki, saling menjerumuskan, saling membenci, dan janganlah sebagian kamu menjual atas kerugian jualan sebagian yang lain dan jadilah kamu, hamba-hamba Allah, bersaudara.”
Suatu umat bagaikan jasad laiknya. Orang-perorangannya ibarat anggota-anggota tubuhnya. Setiap anggota punya tugas dan perannya. Di mana jasad tak bisa mengabaikannya. Seperli dimaklumi, manusia tidak dapat tidak mesti bermasyarakat, bercampur dengan yang lain; sebab tidak seorang pun mungkin sendirian memenuhi segala kebutuhan-kebutuhannya. Dia mau tidak mau harus bermasyarakat, berkumpul yang membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak keburukan dan ancaman bahaya dan padanya. Karena itu, persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu menangani suatu perkara dan seiya-sekata adalah merupakan penyebab kebahagiaan yang lerpenting dan faktor paling kuat bagi menciptakan persaudaraan dan kasih sayang.
Berapa banyak hal tersebut telah menyebabkan negara-negara menjadi makmur, hamba-hamba menjadi pemimpin yang berkuasa, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, pemerintahan ditegakkan, jalan-jalan menjadi lancar perhubungan menjadi ramai, dan masih banyak lagi manfaat-manfaat lain dan persatuan yang merupakan keutamaan paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh.
Rasulullah saw,. telah mempersaudarakan sahabat-sahabatnya sehingga mereka (saling kasih, saling menyayangi dan saling menjaga hubungan) tidak ubahnya satu jasad; apabila salah salu anggota tubuh mengeluh sakit; seluruh jasad ikut merasa demam dan tidak dapat tidur.
Itulah sebabnya mereka menang atas musuh mereka, kendati jumlah mereka sedikit. Mereka tundukkan raja-raja. Mereka taklukkan negeri-negeri. Mereka buka kota- kota. Mereka bentangkan payung-payung kemakmuran. Mereka bangun kerajaan kerajaan. Dan mereka lancarkan jalan-jalan.
Firman Allah, dalam (QS. Al-Kahfi: 84) وَءَاتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَىْءٍ سَبَبًا
Artinya: “Dan Aku telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.”
Benarlah kata penyair yang mengatakan dengan bagusnya:
“Berhimpunlah anak-anakku, kegentingan datang melanda
jangan bercerai- berai sendiri-sendiri, Cawan-cawan pun enggan pecah bila bersama
Kelika bercerai satu-satu pecah berderai.”

Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata:
“Dengan perpecahan tak ada suatu kebaikan pun dikaruniakan Allah kepada seseorang baik dari orang-orang terdahulu maupun orang orang yang datang belakangan.”
Sebab, suatu kaum apabila hati mereka berselisih dan hawa-hawa nafsu mereka mempermainkan mereka, maka mereka tidak akan melihat sesuatu tempat pun bagi kemaslahatan bersama. Mereka bukanlah bangsa yang bersatu, tapi hanya individu- individu yang berkumpul dalam arti jasmani belaka. Hati dan keinginan-keinginan mereka berbeda-beda. Engkau mengira mereka kompak, padahal hati-hati mereka cerai-berai.
Mereka pun telah menjadi --seperti kata orang-- kambing-kambing yang berpencaran di padang terbuka. Berbagai binatang buas telah mengepungnya. Kalau sementara mereka tetap selamat, mungkin karena binatang buas belum sampai kepada mereka dan pasti suatu saat akan sampai kepada mereka. Atau binatang-binatang buas itu sendiri, karena saling berebut telah menyebabkan saling berkelahi di antara mereka. Lalu sebagian mengalahkan yang lain. Dan yang menang pun akan menjadi perampas dan yang kalah menjadi pencuri. Si kambing pun jatuh antara si perampas dan si pencuri.
Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kebangkrutan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, serta penyebab kehinaan dan kenistaan.
Betapa banyak keluarga-keluarga besar yang semula hidup dalam keadaan makmur dan banyak rumah yang membuat betah para penghuninya; sampai suatu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan setan pun melakukan perannya terhadap mereka. Akhirnya mereka kocar-kacir tak keruan. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan.
Sahabal Ali karamallahu wajhah berkata dengan fasihnya:
“Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan; sebaliknya kebatilan dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan.”
Pendek kata; siapa yang melihat pada cermin sejarah, membuka lembaran yang tidak sedikit dan ihwal bangsa-bangsa dan pasang-surut zaman serta apa saja yang terjadi pada mereka hingga pada saat-saat kepunahannya; akan mengelabui bahwa kejayaan yang pernah menggelimangi mereka, kebanggaan yang pernah mereka sandang, dan kemuliaan yang pernah menjadi perhiasan mereka, tidak lain adalah berkat apa yang secara kukuh mereka pegang, yaitu mereka bersatu dalam cita-cita, seiya-sekata, searah setujuan dan pikiran-pikiran mereka seiring. Maka inilah faktor paling kuat yang mengangkat martabat dan kedaulatan mereka, dan benteng paling kokoh bagi menjaga kekuatan dan keselamatan ajaran mereka.
Musuh-musuh mereka tak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka; malahan menundukkan kepala, menghormati mereka karena wibawa mereka. Dan mereka pun mencapai tujuan-tujuan mereka dengan gemilang.
ltulah bangsa yang mataharinya dijadikan Allah tidak pernah terbenam, senantiasa menyinarinya dengan sinar yang tidak disampaikan Allah kepada musuhnya.
Wahal ulama dan para pemimpin yang bertaqwa di kalangan Ahlussunah wal jama’ah keluarga mazhab imam empat;. Anda sekalian telah menimba ilmu-ilmu dan orang-orang sebelum Anda, orang-orang sebelum Anda menimba dan orang-orang sebelum mereka, dengan jalinan sanad yang bersambung sampai kepada Anda sekalian. Dan Anda sekalian selalu meneliti dan siapa Anda menimba ilmu agama Anda itu.
Maka Andalah para penjaga dan pintu gerbang ilmu-ilmu itu. Janganlah memasuki rumah-rumah kecuali dan pintu-pintunya. Barangsiapa yang memasukinya ltdak lewat pintu-pintunya, akan disebut pencuri.
Sementara itu ada segolongan orang yang terjun ke dalam lautan fitnah; memilih bid’ah-bid’ah dan bukan sunnah-sunnah Rasulullah saw,., sementara kebanyakan orang mukmin yang benar hanya terpaku. Maka para ahli bid’ah dan ‘para pencuri’ itu pun merajalela. Mereka seenaknya memutar-balikkan kebenaran, memungkarkan makruf dan memakrufkan kemungkaran. Mereka mengajak kepada kitab Allah, padahal sedikitpun mereka tidak bertolak dan sana.
Mereka tidak berhenti sampai disitu, malahan mereka mendirikan perkumpulan (organisasi) bagi kegiatan mereka tersebut. Maka kesesatan pun semakin jauh. Orang- orang yang malang beramai-ramai memasuki perkumpulan itu. Mereka tidak mendengar sabda Rasulullah SAW
فانظروا عمن تأخذون دينكم
(Hadis sahih riwayat Imam Ahmad dan Imam Al-Hakim) “... maka lihat dan telitilah dan siapa kamu menerima ajaran agamamu ini. Sesungguhnya menjelang hari Kiamat, muncul banyak pendusta. Janganlah kamu menangisi agama ini bila ia berada di tangan ahlinya. Tangisilah agama ini bila ia berada di tangan orang yang bukan ahlinya.”
Tepat sekali sahabat Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu ketika berkata: “Agama Islam hancur oleh kemampuan orang munafik berdebat dengan menggunakan kita Al- Quran.”
Anda sekalian adalah orang-orang yang lurus yang dapat menghilangkan kepalsuan ahli kebatilan, penafsiran orang-orang bodoh, dan penyelewengan orang-orang yang melewati batas; dengan hujjah Allah, Tuhan semesta alam, yang diwujudkan melalul Lisan orang yang Ia kehendaki.
Dan Anda sekalianLah kelompok yang disebut dalam sabdá RasuLullah saw,.: “Ada sekelompok dan umatku yang tak pernah bergeser, selalu berdiri tegak di atas kebenaran, selalu memperoleh kemenangan. Tidak dapat dicederai oleh orang-orang yang memusuhi mereka, hingga datang putusan Allah.”
Marilah Anda semua dan segenap pengikut Anda dan golongan para fakir miskin, para hartawan, orang-orang yang lemah dan orang orang yang kuat, berbondong-bondong masuk Jam’iyah yang diberkahi yang dinamai “Jam’iyah Nahdlatul Ulama” ini.
Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga. Ini adalah jam’iyah yang lurus, damai, bersifat memperbaiki dan menyantuni. Ia manis terasa di mulut orang-orang yang baik dan bengkal (Jawa: klolod) di tenggorokan orang-orang yang tidak baik. Dalam hal ini hendaklah Anda sekalian saling mengingatkan dengan kerjasama yang baik, dengan petunjuk yang memuaskan dan ajakan memikat serta hujjah yang tak terbantah. Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepada Anda, agar bid’ah-bid’ah terberantas dan semua orang di segala penjuru.
Rasulullah SAW,. bersabda yang arltnya: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku dicaci maki, maka hendaklah orang-orang aIim menampakkan ilmunya. Barangsiapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat para Malaikat dan semua orang.” (Hadis dikeluarkan oleh Al-Khalib Al-Bughdady dalam Al-Jaami’).
Allah Swt,. telah berfirman (Q. 5:2): وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
Artinya: “Dan saling tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa kepada Allah.
Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata: “Tak seorang pun --meski telah berusaha sekuat tenaga mendapatkan ridla Allah dan lama kesungguhannya dalam beramal-- dapat mencapai hakikat taat kepada Allah yang semestinya. Namun termasuk hak-hak Allah yang wajib atas hamba-hambaNya adalah memberi nasehat dengan sekuat tenaga dan saling bantu dalam menegakkan kebenaran di antara mereka.
Tak seorang pun --betapapun tinggi kedudukannya dalam kebenaran, dan betapapun luhur derajat keulamaannya dalam agama-- dapat melampaui kondisi membuluhkan perlolongan untuk memikul tanggungjawabnya kepada Allah yang dibebankan padanya. Dan tak seorang pun --betapa pun rendah dan kerdilnya dalam pandangan orang) dapat melampaui kondisi dibutuhkan bantuannya dan dibantu untuk itu.”
(Artinya: tak seorang pun betapa tinggi kedudukannya dan hebatnya --dalam bidang agama dan kebenaran-- yang dapat lepas tidak membutuhkan bantuan dalam pelaksanaan kewajibannya terhadap Allah, dan tak seorang pun, betapa rendahnya, tidak dibutuhkan bantuannya atau diberi bantuan dalam melaksanakan kewajiban itu. Pent.)
Tolong menolong atau saling membantu adalah pangkal ketertiban umat-umat. Sebab bila tidak ada tolong menolong, niscaya semangat dan kemauan akan lumpuh karena merasa tidak mampu mengejar cita-cita.
Barangsiapa mau tolong menolong dalam persoalan dunia dan akhiratnya, maka akan sempurnalah kebahagiaannya, nyaman dan sentosa hidupnya.
Sayyid Ahmad bin Abdillah As-Saqqaff berkata: “Jam’iyah ini adalah perhimpunan yang telah menampakkan tanda-tanda menggembirakan, daerah-daerah menyatu, bangunan bangunannya telah berdiri tegak; lalu ke mana lagi kamu akan pergi? Kemana? Wahai orang orang yang berpaling, jadilah kamu orang orang yang pertama, kalau tidak orang-orang yang menyusul (masuk jam’iyah ini). Jangan sampai ketinggalan, nanti suara pengecam akan menyerumu dengan kecaman-kecaman: “Mereka (orang-orang munafik itu) puas mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.”
وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَيَسْمَعُونَ
(Q. 8: 21) “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang mengatakan ‘Kami mendengar’, padahal mereka tidak mendengar.”
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَيَعْقِلُونَ
(Q. 8: 22) “Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk melata, menurut Allah, ialah mereka yang tuli (tidak mau medengar kebenaran) dan bisu (tidak mau bertanya dan menuturkan kebenaran) yang tidak berpikir.”
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Q. 3: 104) “Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
(Q. 5: 2) “Dan saling tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa; janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat dahsyat siksaNya.”
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
(Q. 3: 200) “Wahal orang-orang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta berjaga-jagalah (menghadapi serangan musuh di perbatasan), dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat keberuntungan.”

0 comment:

Posting Komentar