Selasa, Oktober 13, 2009

MAKALAH USHUL FIQH




”Relevansi kontstitusi negara dengan makna ushul fiqh " ”
Di Susun untuk memenuhi persyaratan tugas kelompok
Prog : S1 / PAI / Smt.3 / Reg.C
Dosen : Muhammad Sholeh



Oleh Kelompok 1
Nama : Hendri Unduh Nurmawan NIM: 2083136
Siti Mudrikah NIM: 2083188
Eko Sugeng Gunanto NIM: 2083166
Aan Puji Munawar NIM: 2083153
Nur Ulfah Sari NIM: 2083183

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama
(STAINU) Kebumen

Jl. Tentara Pelajar 55  (0287)385902 kebumen 54312
2009


HALAMAN PENGESAHAN
Alhamdulillah dengan mengucapkan puji Syukur, Kami selaku Kelompok 1 telah menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul ”Pengertian ushul fiqh dan pendapat para ulama ”. Pada Hari Rabu, 15 Oktober 2009 di Kampus Stainu Kebumen. Sebagai bagian subtema dari Ushul Fiqh yang di bimbing oleh Muhammad Sholeh
Oleh karena itu, bersamaan dengan dibubuhi tanda tangan. Maka, dengan sendirinya legalitas makalah ini telah di akui sebagai hasil dari ekpresi kekayaan intelektual penulis bukan hasil plagiat semata, dengan di dasari landasan-landasan dari berbagai ahli dalam bidangnya. Supaya dapat di gunakan sebagaimana mestinya.


Mengetahui,
Dosen Pengampu


Muhammad Sholeh
Kelompok 1


Penulis
















BAB 1 PENDAHULUAN
Latar belakang
Sudah setengah abad lebih Indonesia berdikari ( berdiri dengan kaki sendiri ) baik dalam bidang ekonomi, politik, social, budaya maupun pertahanan. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia secara perlahan merangkak naik. Baik secara eksistensi, independency bangsa Indonesia dalam mengedepankan sifat kritis-analitis dengan mengacu pada pemikiran yang tidak praktis-pragamatis dan penuh toleransi ( tasamuh ) untuk mampu berkompetesi dalam kancah pergulatan internasional. Bukan hanya itu saja, dalam tempo setengah abad, Indonesia secara SDA sangat disegani dan dihargai akan kekayaan alamnya, hal ini terbukti saat Indonesia belum merdeka, banyak para penduduk asing seperti Jepang, Belanda, Inggris berdagang rempah-rempah di Indoensia dan akhirnya Jepang dan Belanda menjajah Indonesia selama lebih dari 3,5 Abad. Dari sini, dapat kita ketahui bersama bahwa SDA tidak lain adalah bagian dari modal dasar Negara kita untuk mampu mengembangkan dan meningkatkan peradaban –peradaban bangsa dengan berpijak pada cultural bangsa yang merupakan bagian vital dalam mengakui identitas diri ( self identity ).
Dilain sisi, selain dalam pengembangan sifat particulari dari SDA. Ke-eksistensian Bangsa kita juga tidak lepas dari unsur-unsur konstitusional dalam membangun berdirinya Bangsa Indonesia. Cerminan ini tidak lepas Dalam dinamika progresifitas bangsa dari peran SDA dan SDM yang merupakan bagian dari bangunan konstitusional penyusun bangsa selain unsur wilayah. Hal semacam ini mengingatkan saya pada statement orang bijak:

Kemajuan suatu bangsa tergantung pada SDM yang ada didalamnya.
Secara abstarksi statement diatas bisa di implementasikan dalam kehidupan yang real dalam tindakan yang terkonkretasi oleh tujuan utama (main purposing) dan niat utama sebelum melibatkan diri yaitu peningkatan SDM.

“Inama a'malu biniyat”
Segala sesuatu di awal dengan niat

Jika kita pahami dan telusuri dengan pemikiran kritis-analitis dengan menekanakn peningkatan progresifitas dan menekan-meminimalisir sifat dekontruktif, secara SDA yang dimiliki Bangsa Indoensia sudah tidak di ragukan lagi. Bahwa potensi alam Indoensia memliki sejuta rahasia yang tersirat didalam alam. Sehingga sebagian negara Timur Tengah khususnya orang Mesir menyatakan, bahwa Negara Indonesia adalah bagian dari surga yang diturunkan di dunia. Subhanalloh
Lain SDA lain pula SDM, secara universal kita akui bersama kemajuan Bangsa Indonesia dalam hal SDA dalam intervensi-abstraksi kadang tidak bisa atau kurang bisa disesuaikan dengan kehidupan dilapangan (reality situation). Hal ini terbukti dengan masih rendahnya SDM di mana-mana. Secara idealis, dengan potenasi alam yang kaya dan kemajuan bangsa seharusnya dan sepantasnya secara realita bisa menyeimbangkan dengan kemajuan bangsa.
Jika saya kerucutkan problem ini dalam abstraksi SDM, bahwa dengan kemajuan bangsa dan kelemahan SDM termasuk bagian hal yang kontradiksi dalam kontek perbuatan ( fi’liyah ) dan pemikiran (Thinking).
Dalam kontek amaliah tercermin dan terbukti oleh tingginya tindakan kriminalitas dan abnormal dalam diri seseorang. For example : Pemerkosaan, pembunuhan (Al-qotlu), perampasan (ghasab) dan segala perbuatan yang abnormal ( keji dan munkar ). Padahals ecara hakekat, manusia adalah mahluk yang di ciptakan secara sempurna ( QS. At-tin :5 )
Sungguh ironis, dan tragis. Mengapa? Kerana filosofi hidup seseorang telah terlepas dari identitas manusia itu sendiri, seakan-akan tujuan utama hidupun mulai terkikis oleh tujuan nafsu.
Wama kholaknal insu wal jinnu illa liya’budun ( Ad-Adzriyat : 56 )
( Aku tidak menciptakan manusia dan Jin melainkan untuk ibadah kepadaku )
Dalam kontek pemikiran, secara makro-universal kehidupan seorang individu khususnya SDM Bangsa Indoensia telah termind-set oleh paradigma pragmatisme-praktis tanpa tindakan kritisme-analitis yang merupakan sebagai cerminan kuatnya ideologis perconal dalam roda kehidupan. Problem ini kita akui bersama, telah merebak dan mendarah daging secara kuat dikalangan pemuda/i yang hakikatnya sebagai tulang punggung masa depan bangsa.
Epistomologi problematika
Dalam pergualatan yang tertumpu pada SDA, tidak lain hanyalah seputar kronologi pembahasan yang tiada habisnya jika tidak diketahui secara epistemolginya ( the frame of problem) pemabahasan , solving problem hanya ada pada tingkatan permukaan saja tanpa hakekat dan folosofi problematika itu sendiri. Secara fundamental, siap itu manusia, hakekatnya manusia? Dan adakah aturan –aturan dalam langkah manusia sebagai koridor insani untuk mengembangkan SDA secara legal ( baca : sesuai budaya dan agama ).
Jika dibahas sebuah hakekat manusia, proses ini tidak akan ada habisnya. Kenapa? Manusia memang salah saut ciptakan manusia yang sempuran dan unik. Walaupun setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam mendefinisikan arti manusia ( what is the meaning of human? ). Perbedaan dalam sebuah definisi tidak lepas dari latar belakang dna background pendidikan seseorang serta cara pandang dari seseorang ( you are, what you see and what you read ).
Namun, hal pendefinisian tidak perlu dipermasahkan. Tapi apa yang mengatur manusia dalam sifat teroitis yang mampu di implementasikan dalam dunia kontekstual- realita kehidupan dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia yang beradab, bermasyarakat dan beragamis ( sociality-teosentris ).
Dalam koteksks ini yang tidak lepas dari sifat meyoritas bangsa dalam beragama dan berneraga. Secara tersurat keadaan suatu manusia / individu terjerat oleh hukum negara yang tercermin dalam undang-undang yang merupakan tidak lain adalah bagian dari hukum turunan dari hukum islam ( The descendent of islmic laws ) dalam text fiqh. Example: Dalam hukum negara yang termuat dalam undag-undang Republik Indonesia nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi ( tipikor ) , tidak lain bagian dari substansial hukum dari fiqh islam yang termuat dalam bab muamalah hubungan manusia dengan manusia ( Baca : Habluminannas ) secara spesisifik dikategorikan mencuri atau bisa dikategorikan merampas hak orang lain (Baca : Ghasab) yang merupakan bagian dari dosa besar.
Firman alloh :
Wa la-ta’kulu amwalakum bainakun bilbatili. ( al-baqarah : 188 )
Dan Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil.” ( Al- Baqarah : 188 ).
Dari contoh diatas, tidak lain membuktikan bahwa hukum indoensia yang tersurat dalam hukum perundagan-undangan dalam seragam ideology pancasialis merupakan bagian dari turunan hukum islam yang telah disesuaikan dengan budaya, adat kultur dalam nilai-nilai kemasyarakatan dalam kontek bangsa indoensia, bukan konteks pemikiran sempit ( baca: hanya islam ).
Namun, kita sebagai umat islam dan bahkan calon guru islam seharusnya tahu apa yang mendasarinya sebagai filosofi atau dalam penagmbilan hukum ( Baca : Istinbath ) dalam pioneer pengendali kehdiupan ( controller of life ) untuk menjadi umat islam yang bersih secara lahir, tangguh dalam berkompetensi dalam meningkatkan SDA demi kemajuan / meningkatnya kualitas umat islam dalam dinamika peradaban bangsa.

Rumusan masalah :
Berpijak dari titik epistemiologi yang mendasari tiap-tiap persoalan. Maka kami merumuskan setipa permasalahan yang belum tidak detahui oleh umat islam secara makro:
1.Apa pengertian dari ushul fiqh yang tidak lain adalah pokok dari penurunan hukum-hukum yang termaktub dalam fiqh islam?
2.Bagaimana pendangan dari para pakar tentang ushul ? baik dari segi definisi implemetasi dalam kontek dinamika budaya bangsa ( culture of nation ) ?
Batasan- batasan pembahasan
Kami selaku kelompok 1 membatasi pembahasan permasalahan hanya dalam text rumusan masalah yang sudah kami buat dalam menjawabnya.
Pambatasan masalah
Berdasarkan ketentuan pihak Dosen.Kami hanya membahas antropologi yang dihubungkan dengan antropologi modern dan lebih khususnya tentang antropologi budaya islam.


Tujuan pembuatan makalah

a)Penulis

  • Untuk memenuhi salah satu persyaratan tugas Antropologi pendidikan.
  • Dapat melatih penulis dalam terjun di dunia tulis menulis.yang mungkin membutuhkan banyak refresensi dan korelasinya dengan disiplin ilmu yang lain.

b)Pembaca
  • Dapat memperkaya suatu kajian keilmuan akan suatu problematika sosial dan budaya islam.
  • Dapat digunakan sebagai refrensi tambahan dalam memahami atau dalam pembuatan makalah lainya yang adanya kesinambungan dan korelasi ilmu.
  • Dapat di gunakan sebagai kajian bersama dengan mengangkat suatu permasalahan.



BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Ushul Fiqh dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu : kata Ushul dan kata Fiqh; dan dapat dilihat pula sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu Syari'ah.
Dilihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi pengertian ushul bagi fiqh.
Kata Ushul adalah bentuk jamak dari kata ashl yang menurut bahasa, berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain. Berdasarkan pengertian Ushul menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh.
Sedangkan menurut istilah, ashl dapat berarti dalil, seperti dalam ungkapan yang dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim :

Artinya:
"Ashl bagi diwajibkan zakat, yaitu Al-Kitab; Allah Ta'ala berfirman: "...dan tunaikanlah zakat!."
Dan dapat pula berarti kaidah kulliyah yaitu aturan/ketentuan umum, seperti dalam ungkapan sebagai berikut :


Artinya:
"Kebolehan makan bangkai karena terpaksa adalah penyimpangan dari ashl, yakni dari ketentuan/aturan umum, yaitu setiap bangkai adalah haram; Allah Ta'ala berfirman : "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai... ".
Dengan melihat pengertian ashl menurut istilah di atas, dapat diketahui bahwa Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata, berarti dalil-dalil bagi fiqh dan aturan-aturan/ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh.
Fiqh itu sendiri menurut bahasa, berarti paham atau tahu. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid al-Jurjaniy, pengertian fiqh yaitu :


Artinya:
"Ilmu tentang hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci."
Atau seperti dikatakan oleh Abdul Wahab Khallaf, yakni

"Kumpulan hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci".
Yang dimaksud dengan dalil-dalilnya yang terperinci, ialah bahwa satu persatu dalil menunjuk kepada suatu hukum tertentu, seperti firman Allah menunjukkan kepada kewajiban shalat.

Artinya:
".....dirikanlah shalat...."(An-Nisaa': 77)
Atau seperti sabda Rasulullah SAW :

Artinya:
"Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar (benda yang memabukkan)." (HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah).
Hadits tersebut menunjukkan kepada keharaman jual beli khamar.
Dengan penjelasan pengertian fiqh di atas, maka pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu dalil-dalil bagi hukum syara' mengenai perbuatan dan aturan-aturan/ketentuan-ketentuan umum bagi pengambilan hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Tidak lepas dari kandungan pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata tersebut, para ulama ahli Ushul Fiqh memberi pengertian sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu syari'ah. Misalnya Abdul Wahhab Khallaf memberi pengertian Ilmu Ushul Fiqh dengan :


Artinya:
"Ilmu tentang kaidah-kaidah (aturan-atura/ketentuan-ketentuan) dan pembahasan-pemhahasan yang dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci."
Maksud dari kaidah-kaidah itu dapat dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara' mengenai perbuatan, yakni bahwa kaidah-kaidah tersebut merupakan cara-cara atau jalan-jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh hukum-hukum syara'; sebagaimana yang terdapat dalam rumusan pengertian Ilmu Ushul Fiqh yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah sebagai berikut :


Artinya :
"Ilmu tentang kaidah-kaidah yang menggariskan jalan-jalan utuk memperoleh hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dan dalil-dalilnya yang terperinci."
Dengan lebih mendetail, dikatakan oleh Muhammad Abu Zahrah bahwa Ilmu Ushul Fiqh adalah ilmu yang menjelaskan jalan-jalan yang ditempuh oleh imam-imam mujtahid dalam mengambil hukum dari dalil-dalil yang berupa nash-nash syara' dan dalil-dalil yang didasarkan kepadanya, dengan memberi 'illat (alasan-alasan) yang dijadikan dasar ditetapkannya hukum serta kemaslahatan-kemaslahatan yang dimaksud oleh syara'. Oleh karena itu Ilmu Ushul Fiqh juga dikatakan :

Artinya:
"Kumpulan kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada faqih (ahli hukum Islam) cara-cara mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil syara'."

0 comment:

Posting Komentar