Senin, November 30, 2009

BERPIKIR PRAGMATIS


Jika kita berbicara soal pendidikan, segala sesuatunya baik dalam proses pendewasaan (Grow Up) maupun transfers of knowledge selalu membutuhkan proses. Baik proses pendewasaan secara intelektual maupun fisik. Karena segala unsur dalam kehidupan selalu berubah dalam evolusi yang tidak lepas dari kata proses ( change is never ending process ).
Kalo kita analisa secara kritis-sistematis dengan pradigma structural. Bahwa, secara komposisi soal dari UAN itu sendiri sangatlah berbeda jauh. Baik dari kualitas soal (baca: Tingkat kesulitan) maupun dari segi kuantitasnya (Baca: Jumlah soal). Tidak hanya itu, setiap pola pikir siswa memiliki daya kapasitas yang berbeda. Ada yang berpikir idealis (baca : ingin melanjutkan kuliah) atau berpikir ralistis (baca :mencari pekerjaan). Pola pikir ini juga tidak lepas dari status social dan latar belakang keluarganya.
Dari analisa diatas ada dua kemungkinan ancaman jika penggabungan UAN-SMPTN di implementasikan, diantaranya:
Penggabugan antara UAN dan SMPTN dengan bobot soal seperti materi UAN secara otomatis input mahasisawa baru akan semakin menurun di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena, selain tidak adanya tingkat kesulitan yang membuatnya untuk berusaha. Secara tidak langsung, pemerintah menanamkan jiwa pragmatisme pada diri siswa tanpa usaha yang sungguh-sungguh untuk bisa melanjutkan ke Universitas favorite. Padahal, tugas dan beban mahasiswa adalah sebagai pondasi dan mata rantai estafet kepemerintahan yang akan datang serta agent of changes dari inspirator perubahan itu sendiri.
Jika Penggabungan UAN – SMPTN disamaratakan secara kualitas maupun kuantitas, secara tidak langsng pemerintah menciptakan pengangguran baru yang jelas-jelas akan menambah beban pemerintah itu sendiri. Hal ini kemungkinan besar terjadi, karena secara realita tanpa penggabugan UAN- SMPTN banyak sekali siswa/i yang tidak lulus sekolah. Apalagi jika adanya penggabungan UAN-SMPTN dengan kualitas SMPTN secara otomatis pemerintah akan menambah masalah baru. Hal ini konkret jika kita buktikan di lapangan, karena ijazah bukti kelulusan di gunakan sebagai prasyarat utama dalam memasuki dunia kerja di perusahaan-perusahaan.
Jadi, dengan adanya penggabungan UAN-SMPTN pemerintah bukanya menyelesaiakn masalah klasik. Namun, akan menambah masalah ini menjadi semakin tidak terkendali serta secara tidak langsung akan memblenggu siswa dengan pembodohan-pragmatisme secara halus yang ending-nya akan menurunkan kualitas Bangsa Indonesia.

Dimuat dalam Debat Kampus Suara Merdeka Hari Sabtu Tanggal 28 November 2009

0 comment:

Posting Komentar