Sabtu, Februari 06, 2010

Instrumentalisme pendidikan




Jika kita berbicara pendidikan, semuanya aspek pendukung tidak pernah lepas dari unsur-unsur fundamental terciptanya suatu proses pendidikan. Diantaranya baik tenaga pendidik, anak didik serta obyek materi dalam pendidikan. Ketiga komponen ini tidak lain bagian dari hubungan yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain dalam menciptakan lingkungan pendidikan. Dari sisi Unsuritasnya, memang konkret dalam sebuah wujud yang nyata. Namun proses dari dunia pendidikan itu abstrak baik dalam proses knowledge transforming maupun dalam knowledge perception ketika proses pembelajaran itu sedang di jalankan. Pembelajaran ini tidak sepenuhnya mudah dalam menyelaraskan sebuah pemikiran di dalam dua atau lebih pola pikir yang sangat berbeda diantara pendidik dan anak didik. Perbedaan dalam menstranformasikan dan menyamakan sebuah pemahaman terletak pada paradigma tiap –tiap individu yang digunakan untuk menangkap sutu ilmu. Karena paradigma setiap individu sangat berbeda dan perbedaan ini terletak pada kapasitas daya individu dalam mengolah sebuah pemikiran (your are what you see and what you read) serta pengalaman aktivitas hidupnya . Ini problem abstaraksi yang perlu kita pecahkan secara konkret, terarah serta tersistem dalam disiplin ilmu sendiri sebelum melangkah menjauh dari epistemology dan filsafat dari pendidikan itu sendiri dalam tujuan pendidikan sesuai UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.
Dalam tingkatan kestruktural di dunia pendidikan, semua konsepsi dan regulasi telah tesurat secara konkret yang tidak lain bentuk dari substansial tujuan pendidikan dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang terintegralkan dan termanifestasikan dalam tujuan institusional. Selain sebagai jalan untuk mempermudah tiap-tiap aspek dalam pendidikan, tujuan institusional ini juga sebagai output jangka pendek dalam mensntransformasikan materi ilmu dari abstraksi menjadi konkret dalam bentuk pengamalan serta pengalaman. Karena ilmu itu sendiri menpunyai hidden purposing dalam dunia aplikasinya dari tiap-tipa individu.
Jika kita analisa secara kritis-sistemik hidden purposing dapat termanifestasikan dan terfragmentasikan secara real jika seorang anak didik mampu memahami ilmu itu sendiri secara integral-komprehnsif. Realitasnya dapat di implemetasikan jika paradigma dan daya emosionalnya dapat di sejajarkan dan di samakan dalam tujuan institusionalnya.
Realita pendidikan
Dalam sebuah analisa, Baik yang terpublikasikan secara terbuka maupun tersembunyi di media massa maupun elektronik. Banyak sekali bentuk-bentuk penyimpangan –penyimpangan norma-norma kehidupan yang di lakukan para anak didik maupun mahasiswa yang terangkum dalam kenakalan remaja. Penyimpangan ini bukan hal tabu dan isitmewa lagi. Kenapa? Karena semakin seringnya dan telah membudaya dari generasi kegenerasi seakan penyimpangan ini tindakan yang sah-sah saja dalam hukum perundang-undangan. Seakan–akan tidak ada penegakan supremasi hukum yang telah tersurat secara tegas. Dari problem ini sebagai bukti utama bahwa ruh-ruh pendidikan tidak termanifestasikan secara emansipatory pendidikan. Namun, hanya sebagai instrumentetalisme pendidikan belaka yang ending-nya sebagai aplikasi dalam pengisian buku raport secara angka-angka nominal. Secara tidak kita sadari, ini penyimpangan pandidikan jika dilihat dari aspek penilaian dalam pembelajaran yang terangkum dalam penilian kognitif, psikomotorik dan afektif. Jadi, tidak salah jika realitas yang ada banyak anak didik yang hanya mengejar angkat-angka abstrak. Namun, entah dari mana angka itu di dapat.
Tanpa menambah masalah dengan mengekplorasi sebuah permasalahan klasik, perlunya sebuah transformasi baru dalam dunia pendidikan yang tidak hanya termanifestasikan penilain angka nominal belaka ( mengedepankan kognitif ) namun perlunya pendidikan berbasis orientasi pengamalan dalam kegiatan sehari-hari yang dapat termaktub dalam penilaian psikomotorik. Dilain sisi, penilaian ini tidak hanya sebagai bentuk pengambilan sample nilai psikomotorik saja. Namun, sebagai bentuk dari transformasi pendidikan yang bersifat instrumental belaka beralih ke emansipatory pendidikan dalam penghayatan, pengamalan ruh-ruh pendidikan itu sendiri.
Jika hal ini tertanam dan teraplikasi dalam bentuk sebuah tindakan yang konkret dan terorientasi dalam bentuk budaya. Bukan hal yang tabu lagi bahwa bentuk kriminalitas bagi kaum-kaum berdasi (baca : koruptor) dapat diminimalisisir dan tereduksi secara otomotis. Hal ini secara tidak langsung dapat mengurangi jumlah penghuni LP bagi kelas konglomerat dan membantu KPK dalam penanganan kasus-kasus korupsi.Karena, kerja KPK tidak akan optimal jika mengandalkan penekanan dari unsure ektrinsik. Tapi perlunya penekanan dari unsur instrisnsik yaitu melalui dunia pendidikan. Karena semakin cerdas KPK maka koruptor semakin cerdas pula dalam memanipulasi data dan memutarbalikan fakta seperti kasus-kasus berantai saat ini.

.

0 comment:

Posting Komentar