Sabtu, April 17, 2010

PEMBODOHAN SECARA HALUS


Sudah menjadi rahasia umum lagi plagiat sebagai momok yang trend di kampus. Berbagai cara sang plagiator dalam mensiasati pencurian ilmu tiada tendensi pemikiran personal menjadi bagian mindset yang bercorak praktis-pragmatisme. Paradigma kemurnian dalam idealisme pada roh mahasiswa telah kabur terdampar oleh pemikiran yang fanatisme. Secara teoritis-textualitas, makna pendidikan sebagai konsep integralitas diantara item afektif (budi pekerti), psikomotorik (kreatifitas) dan kognitif (intelektualitas) dalam sinergisitas kehidupan tak mampu di tampakan dalam wujud yang real.
Jika di analisis melalui sinergisitas paradigma di atas, plagiat tak lain menjadi bukti konkret kepincangan nilai-nilai afektifitas dalam dunia kampus. Hal ini memang wajar, infiltrasi IPTEK dengan transparansi, flexbilitas dan adaptabilitas media sudah menjadi “kawan” berwajah dua yang siap membunuh karakteristik para plagiator dengan perhalusan makna tanpa penyadaran diri dan pencerdasan yang menggairahkan bagi yang bener-bener sadar.
Melalui tindakan preventif, institusi perguruan tinggi harus berani “blak-blakan” mengungkap persentase angka plagiator melalui pengecekan entry data sumbangsih pemikiran mahasiswa secara berkala di masing-masing institusinnya yang terplagiatkan, seperti skripsi, tesis maupun disertasi. Hal ini tentunya mengandung resiko tentang kualitas ouput dari mahasiswa dan pertaruhan kualitas institusi perguruan tinggi. Mengapa? tentunya dengan pembuktian secara jangka pendek, mencoreng institusi jika persentase plagiator meroket. Tapi jika di adakan secara berkala melalui pemikiran jangka panjang, kepesatan kompetensi secara sehat semakin melejit dengan mengabaikan pemikiran pragmatisme melalui plagiat.
Tindakan preventif berikutnya, pemerintah tentunya harus berani mengeluarkan sanksi-sanksi tegas bagi para plagiator dan insitusi perguruan tinggi terkait. Pasalnya, hal ini Hukumnya sama saja mencuri ilmu tanpa izin, yang ending-nya membohongi bangsa dan masyarakat dengan status karyanya. Dan tak lupa pula, sebagai bukti pembrantasan kepincangan makna pendidikan secara dini. Jika hal ini terimplementasikan, bibit–bibit para plagiator di kalangan kampus yang akan bersporadis di masa mendatang menjadi koruptor di tingkat pemerintahan bisa diminimalisir. Dan sebagai bentuk pemurnian atas hak kekayaan intelektual (HAKI) serta makna hakekat pendidikan.
Hendri Unduh Nurmawan
Fakultas tarbiyah STAINU Kebumen
Anggota FPK ( Forum Penulis Kebumen)

0 comment:

Posting Komentar