Jumat, November 05, 2010

Misteri pendidikan

Telah kita pahami, pendidikan adalah bagian integral dalam setiap kehidupan. Setiap perubahan transisi secara akses psikologis, religius, social membutuhkan kronologisitas pendewasaan melalui pendidikan. Tentunya pendidikan kunci utama di setiap perubahan yang tiada hentinya untuk mewujudkanya dalam bentuk yang aplikatif-komprehensif untuk memadukan nilai-nilai idealisasi dalam sebuah aspek kehidupan.

Selain sebagai transformasi secara askes transisi kronologis (pertumbuhan) pendidikan sebagai actor utama penggerak nilai-nilai dalam mewujudkan tatanan regulasi kehidupan yang mampu mereduksi ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan bermasyarakat (afektif) dengan mengemban visi misi pribadi untuk bisa meningkatkan pengetahuan, pemahaman dengan meningkatkan intelektualitasnya (kognitif), tentunya dengan iringan kemantapan kepribadian serta kemapanan intelektualitas diri, mampu meningkatkan kesejahteraan setiap insane untuk menampakan, mewujudkan serta mengkombanisasikan melalui daya kreatifitas diri untuk mempertahankan eksistensi diri dalam menapaki kehidupan(psikomotorik).

Hal ini perlu kita rujuk kembali untuk menyadarkan makna pentingnya pendidikan di dalam lapisan masyarakat secara komprehensif, sehingga mampu menghilangkan doktrinitas klasik bahwa “pendidikan cukup bisa sampai membaca, menulis dan menghitung”.
Selain conten isi yang perlu kita sadari di dunia pendidikan yang menjadi tujuan pendidikan, dalam diri kita perlunya peningkatan trinitas kualitas pendidik yang menjadi motor utama penentu pendidikan didalam prosesnya. Jadi, secara tidak langsung disadari atau tidak, guru menjadi pondasi utama dalam mentransformasikan nilai-nilai, kreativitas serta pengetahuan yang terintegralkan dalam ruang lingkup pendidikan.

Walaupun tidak secara langsung bahwa guru menjadi promotor utama dalam menggerakan perubahan –perubahan pada setiap anak didik untuk menjadi insane yang tangguh, terampil serta siap untuk berkompetensi, namun peran guru sebagai tenaga terididik yang mempunyai pengaruh besar di kalangan akademisi, tentunya kajian-kajian dalam setiap pembelajaran mengandung makna kehidupan yang berorientasi secara futuristic.
Jadi dapat dikatakan secara lugas, bahwa keberhasilan guru sangat mendominasi perkembangan anak didik dalam ruang lingkup lembaga pendidikan formal.

Namun, permasalahan dalam meningkatkan daya kreativitas tenaga pendidik bukan menjadi alasan yang perlu kita klarfikasi bersama, tapi proses dalam penyampaian dalam meningkatkan kondusifitas proses pembelajaran menjadi bahan kajian utama yang perlu kita renungi untuk meningkatkan serta mengoptimalkan dalam menseleksi metodologinya.

Sehingga perlunya pembenahan-pembenahan yang bersifat parsial maupun komprehensif. Walau kasus ini sepele, namun kasus yang tersembunyi tanpa pembahasan untuk mencari problem solving akan berakibat fatal, sebagaimana yang telah kita lihat outcome-nya di setiap lembaga pendidikan yang jelas menampakan kebingungan, kecanggunan setiap peserta didik untuk menentukan jalan hidupnya ketika sudah melepaskan almamaternya.

Kebingungan ini perlu kita analisa, seberapa besar kesuksesan lembaga pendidikan untuk mencetak peserta didik yang di sesuaikan SK/KD dalam membenahi mental peserta didik untuk menapaki kehidupan di dunia nyata?apa kendalanya, dan bagaimana penyelesaianya?, dengan adanya wacana ini, sebagai bagian ekplorasi kegundahan untuk kita renungi, diskusikan serta transformatifkan keranah aplikatif ketika bentuk problem solving telah kita pahami bersama, sehingga misteri pendidikan yang masih melekat pada masyarakat awam dengan doktrin “untuk apa sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa membaca, menulis dan menghitung” mampu kita reduksi bersama dengan meningkatkan kualitas outcome peserta didik yang mampu menginternalisasi nilai-nilai dalam menapaki kehidupan di setiap perubahan dunia.

0 comment:

Posting Komentar