Kamis, Desember 23, 2010

PENDIDIKAN DAN HUMANISASI

Berbicara tentang pendidikan, Sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa secara maknawi pendidikan yang bersifat mujmal telah mampu mengendap dalam benak setiap masyarakat. Karena semakin mengendap tanpa adanya dekontruksi-rekontruksi ulang melalui studi kritis membuat makna pendidikan hanya menembus atmosfer luarnya saja, tanpa melihat sebuah aksiologi dalam sebuah pendidikan sesuai dinamika zaman yang di iringi ketatnya sebuah kompetensi kehidupan.

Secara esensial kehidupan yang bersifat aksiologi-contextualitasny masih menuai berbagai kritik dari setiap pendidikan yang ada di saat sekarang. Memang ini menjadi homework tersendiri bagi semua masyrakat, khususnya para pemangku kepentingan untuk bisa lebih proporsional-realibel dalam merumuskan disetiap kebijakan supaya ketetapan perkembangan kebudayaan segera terwujud.

Demi tercapainya satu pemahaman sesuai dalam sebuah rujukan filosofis disetiap makna pendidikan, bahwa Pendidikan itu sendiri adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara[1].

Namun aspek idealitasnya (cita-cita) yang di aplikasikan atas dasar rumusan yuridis pendidikan bahwa pendidikan itu sendiri adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaniyah ke arah kedewasaan[2]sehingga bagian dari tujuan intruksionalnya dapat mengarah pada visi nasionalnya yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah[3].

Dalam pemeliharaan peserta didik melalui pendidikan, baik secara akses jasmani maupun rohani seiring dengan umur kronologisnya selalu mengedepankan sebuah keseimbangan kehidupan untuk selalu mewujudkan sebuah tatanan individu yang berbudi serta bermartabat tinggi secara intelektual (kognitif) yang di sejajarkan dengan pembawaan pada karakter di setiap diri individu (afektif) sehingga mampu memiliki ciri khas tersendiri untuk mengembangkan setiap kemampun personal dalam mengolah kreatifitas (psikomotorik) sebagai skill dalam mempertahankan hidup di masyarakat.. Sehingga cerminan keberhasilan dalam aktualisasi untuk menjadi insane yang kamil mendekati sebuah kesempurnaan

Tentunya. Dalam prosesnya untuk mencapai suatu kesempurnaan pada setiap perkembangan dan pertumbuhan pada diri individu selalu mempunyai rasa ingin tahu (curiousty felt) dan rasa harga diri (self esteem) yang selalu menjadi kebutuhan jiwa disetiap manusia[4], sehingga secara tidak langsung bahwa peranan individu dalam keberhasilanya menjadi unsure prioritas yang tidak mampu dipisahkan oleh jasmaninya dalam memperoleh pendidikan.

Karena Dalam wajah teoritis, Pendidikan adalah bagian penanaman nilai-nilai pada peserta didik yang mencangkup kognitif (transfer of knowledge) yang erat kaitanya dengan intelegensi, afektif (transfer of value) menyangkut nilai-nilai kemandirian setiap peserta didik, psikomotorik (transfer of bahaviour) menyangkut dengan sebuah perubahan perilaku pada pserta didik. Pada dasarnya ketiganya sebagai asas dasar sebagai pengembangan kepribadian peserta didik dalam setiap massa.

Dalam proses pengembanganya tentunya tidak serta merta dapat kita capai semudah dalam membalikan tangan, ketiganya dapat di aplikasikan melalui berbagai tahapan-tahapan yang tidak mudah kita lalui sesuai perkembangan dan pertumbuhan diri seseorang. Tahapan tersebut juga tidak bersifat monoton-permanent melainkan bersifat fluktuasi psikologis pada diri peserta didik maupun secara obyek tempat dimana peserta didik itu berada dalam mengembangkan keilmuanya.

Menurut perkembanganya yang mencangkup psikolgis pada peserta didik sesuai dengan batasan umur kronologis dalam kewajiban memperoleh pendidikan, pemerintah melalui UU sisidiknas No 20 tahun 2003 pada BAB VIII pasal 34 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga Negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar. Secara matematis batasan dalam umur kronologis peserta didik pada umumnya mengenyam pendidikan selama 9 tahun sampai usia 15 tahun sampai pada tingkat SLTP sebagai standar minimal sebagaimana yang disebutkan oleh pemerintah.

Dari landasan theory di atas,hakekat tujuan dari pendidikan itu sendiri dapat di transformasikan dalam bentuk output yang menjadi pola kepribadian anak didik melalui tahapan proses pengendalian, filterisasi serta pemahaman dalam menjalankan prosesnya. Kesemuanya pada dasarnya dapat kita capai untuk mencapai arah kesempurnaan dikala ada sebuah nilai sinergisitas pada diri individu dengan harapan untuk mencapainya. Sebagai contoh adanya keinginan peserta didik untuk mencapai sebuah tujuan akhir dalam pendidikan, tentunya dalam setiap proses dalam mencapainya tidak serta merta mengandalkan logika yang bersifat empiris semata secara merta naik-surut sesuai temporisasi lingkungan setempat.

[1] Republik Indonesia, Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, Bab I, Pasal I, Ayat I

[2] Drs M Ngalim purwanto Mpd, Ilmu pendidikan teoritis dan praktis,(Cet ke-12, Bandung:PT Rosda Karya,2000), Hal 11.

[3] Republik Indonesia, Lampiran Permendiknas No 41 tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.

[4] Dr Zakiyah Darajat, peranan agama dalam kesehatan mental, ( Cet ke -6, Jakarta:PT Gunung Agung,1982),hal-20.

0 comment:

Posting Komentar