Jumat, Januari 14, 2011



Sudah setengah abad lamanya Negara kita terlepas dari penjajah seiring dengan berkumandangnya teks proklamasi. Seiring itu pula, gelegar pembangunan di sana-sini semakin menggeliat dari berbagai mutisektoral yang tiada hentinya untuk meningkatkan taraf hidup warga Indonesia secara subtansialnya, maupun meningkatkan harkat, martabat serta daya saing mutidimensioner secara hakikat negaranya.
Tentunya dalam menuju arah perubahan yang independsi dari berbagai inteversensi, dari sekian substansinya yang menjadi lebih dominansi atas segalanya adalah pendidikan dan kesehatan. memang tidak kita nafikan, semuanya sangat penting baik dalam ranah ekonomi, budaya, politik, keamanan dll. Namun semuanya tergantung pada aspek pendidikan dan kesehatan yang menjadi pondasi awal penggerak segala aktivitas setiap insane disetiap lini kehidupanya.
Berbicara tentang pendidikan, kita saat ini di hadapi dengan dunia pendidikan yang mulai carut marut tiada menentu. Pendidikan yang hakekaktnya menjadi tiang untuk masa depan bangsa yang selalu di interperesntasikan dalam Pendidikan itu sendiri adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara .
Hakekat filosofis yang dilukiskan diatas kertas putih seakan begitu sulit untuk menggapainya sehingga gambaran diatas hanya filosofis-normatif yang selalu menjadi mimpi besar bangsa Indonesia. Tentunya untuk menggapai nilai filosofis dari undang-undang diatas, sekiranya perlu kita telisik bersama dari segi idealitas (cita-cita) menjadi nilai-nilai yang mampu terinternalisasi dalam benak seorang individu. Bentuk analisa ini bukan berarti meragukan kembali hakekat dari nilai filosofis yang sarat dengan nilai, namun untuk menyatukan persepsi dengan menghilangkan bias interprestasi yang mampu mendekontstruksikan makna pendidikan yang sudah di sepakati bersama.
Usaha sadar
Satu kata sepakat bahwa usaha sadar bisa di identikan dengan kesadaran, atas kehendak sendiri dan tiada kata intervensi dalam setiap menjalankan setiap aktivitasnya. Kajian operasionalnya dalam tulisan ini tentunya setiap peserta didik dan mempunyai hak pribadi untuk mengembangkan bakat dan minatnya yang selalu disertai dengan kesadaran pribadi dalam mengembangkanya. Hal ini tentunya menjadi sebuah rutinitas nilai edukatif bahwa setiap insane yang mampu mengantarkanya pada dunia keberhasilan hidup dalam menggapai cita-citanya.
Bagaimana dengan realita jikalau kita telisiki usaha sadar di setiap filosofis UU sisdiknas diatas?
Perlu kita renungi kembali dan kita analisa, secara konkret bahwa setiap menjalani nilai-nilai yang edukatif, peserta didik disini hanya menjalani apa yang hanya di perintahkan semata-mata oleh guru yang mau tidak mau harus dipenuhi. Tentunya ini bukan menjadi harapan semata bagi peserta didik, dilain sisi adanya suatu keinginan peserta didik untuk menjalaninya sebagaimana bentuk penelusuran bakat dan minatnya. Namun inilah praktek yang terjadi di lapangan. Jikalau hal ini bentuk kewajiban sebagaimana SK / KD yang perlu di capai disetiap pebelajaran melalui RPP yang telah di buat oleh guru, perlunya langkah praksis bagi tenaga pendidik untuk memakai metode pembelajaran sebagaimana nilai-nilai rasa ingin tahu dari peserta didik dapat di optimalkan melalui metode elaborasi, eksplorasi serta konfirmasi .
Proses pembelajaran
Proses dapat diartikan being, yang dapat dirubah dalam menuju sesautu yang di harapakan. Dalam proses ada evaluasi, bukan output dan input yang di evaluasi. Melainkan proses bagian dari sorotan evaluasi dilihat dari segi materi, kurikulum dan metode pembelajaranya. Sesuaikah atau adanya nilai-nilai hegemoni yang membuat peserta didik tidak berkembang?.
Proses dapat dikatakan bagian integralitas yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap sektoral. Jika mengacu pada sektoral pendidikan, demi menjangkau tujuan filosofisnya yang hampir tidak mungkin dicapai hanya mampu mendekatinya. Peserta didik diharapkan mampu mensejajarkan materi yang sedang di ajarkan dalam prosesnya menjadi suatu “kebutuhan” yang seharusnya menjadi kebutuhan primer untuk di dapat. Sehingga di harapkan, dalam proses pembelajaran yang terjadi dalam dunia pendidikan, dalam proses pembelajaran tidak ada lagi sebuah keluhan siswa membolos. Karena apa, ini bagian dari dampak realitas bahwa salah satu sebab dimana kurangnya memposisikan materi pembelajaran menjadi sebuah kebutuhan yang harus menjadi kebutuhan primer untuk setiap peserta didik.
POTENSI
Potensi identik dengan kemampuan yang di iringi kemampuan yang menjadi bagian substansi utama dalam menggali potensi personal. Perlu kita mafhumi bersama, disetiap peserta didik memeliki kemampuan serta kemauan yang berbeda dalam mengembangkan pribadinya. Selain berbagai factor internal yang eksternal yang komprehensif menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan potensi. Namun perlunya dalam setiap intitusi pendidikan untuk memberi, menyalurkan serta memotivasi di setiap bakat yang melekat pada setiap peserta didik. Hal ini bagian yang vital yang perlu dikembangkan, selain menjadi acuan life skill, dengan pengembangan potensi disetiap peserta didik mampu di jadikan sebagai bagian self precious di setiap individu. Karena pada diri peserta didik terdapat harapan, potensi yang selalu terbawa sejak lahir dan setiap peserta didik tidak semua memiliki keseragaman penuh dalam hal potensi pribadi
Spiritual Keagamaan
banyak orang menganggap bentuk spiritulitas hanya terbatas pada sebuah nilai-nilai normatif-formatif yang bentuknya hanya di wujudka dalam bentuk bendawi-vetikal. Namun tanpa melihat internalisasi dari nilai dari internalisasi makna beribadah secara vaertikal dan horizontal. Akhirnya dengan ritualitas banyak masyarakat terjebak memahami agama dalam bentuk formalitas-baku absolutisme yang hanya menginginkan suatu yang baku.
Kaitanya dengan kajian dalam filosofis “spiritual keagamaan” yang di cantumkan dalam sebuah filosofis pendidikan bahwa pendidikan menjadi tuntutan untuk mewujudkan nilai-nilai yang mampu di internalisasi dalam wujud penilaian afektif .secara esensialnya penilian ini tidak hanya selesai dalam tataran penyampaian materi dalam proses, karena semua proses pembelajaran dan penilainya oleh guru pada umumnya di dominasi oleh nilai kognitif yang berifat nalar kritis. Sehingga perlunya korelasi dengan sifat afektif yang bisa di bentuk dalam nilai keteladanan guru.
Pengendalian diri
Pengendalian diri identik dengan controlling yang bermakna pengaturan, mempunyai arah dan tujuan yang di harapkan. Tentunya pengendalian disini yang ada kaitanya dengan pendidikan bahwa di maksudkan bahwa pendidikan dapat dijadikan sebagai alat untuk memonitoring maupun control peserta didik, sehingga setiap akvitasnya mampu di jadikan jembatan untuk menggapai cita yang di harapkan oleh setiap peserta didik sesuai keahlian vokasionalnya.
Kepribadian
kepribadian memiliki sinyak identifikasi kuat dengan tabiat, dan tabiat itu muncul tidak secara incidental benturan ilmu dan lingkungan saja. Melainkan memerlukan proses keberagaman dari perjalanan hidup peserta didik. Jadi dengan ilmu fi harapkan setiap peserta didik semakin bijak dalam menanggapi realita kehidupanya. Sehingga selaras dengan norma-norma islam, budaya, Negara.
Keterampilan
Ketrampilan bagian dari pendidikan yang bersifat life skill. Sebaik-baiknya dan sepintar-pintarnya peserta didik tanpa mempunyai life skill akan terasa sulit untuk mengasah diri untuk bisa menyainginya dalam dunia perekonomian. Dalam dinamikanya, life skill semakin sentral untuk di miliki setiap peserta didik untuk mampu berdikari sendiri. Karena semakin banyak statistic pengangguran disana-disini akibat ketidakpunyaan life skill pribadi. Sehingga selain adanya formalitas pendidikan, peserta didik mampu di beri life skill untuk acuan awal dalam mempertahankan hidupnya dengan meniciptakan pekerjaan barunya.

0 comment:

Posting Komentar