Jumat, Januari 14, 2011

UNIVERSALISME PENDIDIKAN



Pendidikan adalah bagian dari proses pembejaran yang terjadi dalam suatu situasi, institusi dan terbentuk atas suatu kondisi masyarakat berdasarkan peta analisis maju mundurnya peradaban di suatu tempat. Sehingga dapat di katakan bahwa pendidikan bagian dari nilai-nilai humanisme dalam memasyarakatkan ilmu dengan melihat kontekstualisasi kulturasi dan mekanisme-sistematika tata social lingkungan. Sehingga nilai-nilai humanisme-sosialisme masih tertancap dalam–dalam bagi setiap input dari proses pendidikan di suatu institusi.
Melihat dan menganalisa daya intelektualitas, kapasitas serta kapabalitas setiap peserta didik, idealisme pendidikan seharusnya di sesuaikan dengan kontekstulitas berbasis realitas kehidupan di setiap potensi maupun problemalitas lingkungan. Hal ini menjadi harapan input dari suatu lembaga pendidikan mampu menjadi insane yang berkarakter problem solver atas hegemoni belenggu defisitisme pemikiran penduduk di suatu negeri. Dengan visi ini, diharapkan lambat-laun perdaban, kesejahteraan, modernitas yang tidak lepas dari basis varianisme cultural local dapat dijadikan tonggak kemajuan bagi peradaban individu yang terintegrasi dengan kemajuan peradaban suatu negeri/bangsa.
Integritas ini sebenarnya tidak serta merta terwujud dengan sendirinya oleh beberapa dukungan serta kondusifisme disetiap factor maupun unsurisme pendukung. Sehingga mampu saling bersifat komplementer satu dengan lainya untuk menjadikan alat yang satu padu dalam visi dan misi pendidikan.bagian dari unsure ini adalah factor dari guru, peserta didik serta media yang menjadi bagian primer yang wajib di penuhi. Atau perlunya factor dari unsure-unsur sekunder bisa di jadikan pelengkap serta penunjangn untuk mencapai apa yang diharapkan mampu mempercepat signifikansi proses pendidikan.
Namun yang menjadi pertanyaan, sudahkan momentum ini terwujud, terimplementasi dan mampu di transformasikan menjadi pendidikan beberbasis lokalitas?
Sepertinya hanya mimpi yang amat-sangat sulit untuk di implementasikan. Semoga wacana ini menjadi bagian dari perenungan pembaca untuk mewujudkan pendidikan berbasis lokalitas-internasional sehingga mampu menciptakan pola pikir yang “act locally think globally”.

0 comment:

Posting Komentar