Selasa, Februari 01, 2011

BOLA DAN FANATISME SPORTER.




Di salah satu program RCTI, Dalam versi on the spot senin sore pada pukul 19.30, eforia piala AFF Suzuki cup menjadi satu dari tujuh event terbesar yang mengguncang rakyat Indonesia selama tahun 2010. Eforia yang berasaskan pada kecintaan, kesetiaan dan nasionalismenya di pancarkan melalui berbagai pola disetiap sudut lapisan masyarakat terbukti tingginya nilai-nilai “kbhinekaan tunggal ika” yang tersatukan dan terpadukan oleh satu misi, satu ambisi dan satu keinginan yaitu “kemenangan”. Hal ini terbukti dengan maraknya kaos timnas yang terjual, terbeli, terpakai di setiap saat, banyaknya acara Nonton bareng di tempat-tempat umum (public area) maupun dengan mengunjungi stadion gelora bung karno (GBK) untuk mendapatkan tiket dengan noda kericuhan positif yaitu bagian dari KECINTAAN.
Kericuhan dalam hal tekhnis distribusi ticket bukan berdasarkan pada ketidakdisiplinan sporter melainkan eforiasme-fanatisme sporter untuk menyatakan dalam satu tindakan yaitu my seoul for you. Tentunya, jikalau paradigma positifisme kita aktifkan, ini bukan hal negative namun optimisme-nasionalisme. Walaupun PSSI mensiasati penjualan ticket menjadi ladang bisnis yang subur dengan menaikan harga ticket dengan harapan income panitia naik, justru tidaklah sebanding dengan rating negative yang selalu di lontarkan pada panitia, rusaknya sebagian pagar pembatas tribun penonton dengan lapangan sepanjang 5 meter, rusaknya loket penjualan ticket serta kotornya sampah di area GBK. Ini menjadi homework panitia, bahwa fanatisme-efuriasme sporter tidak akan tidak mampu berbanding terbalik dengan tingginya ticket, tehnik komputerisasi system prabayar online. Secara tidak langsung, animo fanatisme sporter timnas di reduksi, di minalisir serta di sunat dalam hal tekhnis untuk bersama-sama mengikuti aura stadion GBK di saat final leg ke-2.
Fanatisme-kontruktif “BHINEKA TUNGGAL IKA”
Wacana demi wacana dalam media selalu menjadi wahana subur untuk meng update sikonsitas (situasi kondisi serta toleransi) aura piala AFF Suzuki cup 2010. Keberagaman cultural serta structural-geografis yang terpisahkan oleh perbedaan jarak dan waktu untuk bersatu padu, berkumpul dalam satu naungan tidak dapat dijadikan tabir yang menjadi buah bibir semata untuk mengekang masyarakat untuk tidak menyaksikan final leg ke-2 di GBK. Dilain sisi adanya noda, namun noda yang tidak memiliki sifat dekontruksi yang terbawa oleh angan-angan di saat final menjadi bukti konkret bahwa di balik itu masih tinggi rasa nasionalisme bagi masyarakat yang disatukan oleh bola. Selain itu noda yang ada juga tidak sebanding dengan nilai positif bukan menjadi problem antusiasme para sporter untuk menyuarakan rasa NASIONALISME dengan lagu spirit. Dari sinilah seharusnya ada value bahwa sebagai salah satu penilaian positif, Indonesia bukan Negara yang tidak mudah di dikte oleh perpecahan dan distorsi persatuan. Kerena dengan bola dapat di wujudkan dan di tampakan bahwa Indonesia adalah Negara berdemokrasi yang mampu menyatukan suara demi persatuan dan kesatuan bangsa melalui sepak bola.
Saatnya bangkit
Belajar dari sejarah, yang di dasarkan pada filosofis bahwa “hidup akan stagnan jikalau tiada guncangan, maka perlunya guncangan untuk mendinamisasikan menjaga esksistensi diri”. Itulah yang seharusnya menjadi landasan berpijak para timnas dan sporter, sebelum final Indonesia baru kebobolan dua goal dan mampu merobek gawang lawan sebanyak 15 kali dan dalam leg penyisihan serta semi final Indonesia belum mampu di tumbangkan oleh lawan, sehingga banyaknya procedural diluar tekhnis yang mereduksi dinamisasi para timnas untuk bisa mengokohkan pola permainanya. Ini salah satu keluhan pelatih timnas kita alfed riedle. Jadi sekarang saatnya Indonesia kembali menampakan taringnya melalui pola permainan ofensif yang indah dan didukung sportifitas sporter tanpa meniru pointer sinar laser dan petasan dalam leg pertama. Berbekal kekayinan, kemampuan dan dukungan penuh apapun bisa diraih belajar Barcelona yang mampu bangkit pada saat menelan telak kekakalahan pada laga away dengan ……bravo olahraga.

0 comment:

Posting Komentar