Minggu, Februari 13, 2011

GAYUS = kegagalan pendidikan.



Begitulah realita kehidupan, deretan nama papan atas yang menjadi kontestan “corruption competition” mencuat akhir-akhir ini. Berbagai pentas public-para kaum birokrat menjadi sorotan utama untuk berlomba-lomba yang seakan berslogan “siapa yang korupsi paling banyak dia akan terkenal”. Wah hebat dan lucunya negeri ini, dikala kaum dhuafa merintih dengan asam lambungnya yang menggores dinding-dinding lambung. Para kalangan “wah” bersibuk ria mengoleksi harta, para pejabat disibukan dengan sajian “corruption competition” seakan mengiming-ngiming “siapa yang akan menjadi kontestan berikutnya untuk memecahkan rekor”. Sebenarnya, adanya “corruption competition” yang mungkin mulai mengusik presiden dengan curhat gajinya sendiri sebuah indikasi “saya harus paling kaya dari gayus”.wah, sekali lagi aneh. Curhat dibalik sebuah penderitaan rakyat, curhat dikala gayus menjadi jawaranya para koruptor. Pada dasarnya tiada yang salah selama ini semua berjalan secara manusiawi. Namun yang salah, rasa manusiawinya yang berlebih dan tidak terbendung oleh gelar akademiknya untuk mengekang hawa nafsu. Jadi dapat dikatakan para kontestan corruption competition adalah para kontestan yang tidak terdidik secara moral “karakter”. So, ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mencetak generasi yang menjadi jawara kontestan yang non gelar koruptor“.

0 comment:

Posting Komentar