Rabu, April 06, 2011

UN (ujian Nasional) Vs UD (ujian diri)


Sudah menjadi problem yang klasikal, di saat semua guru dan peserta didik sibuk dengan menjaga reputasi sebuah lembaga pendidikan tempat dimana guru itu mengajar. Penjagaan reputasi tidak hanya dengan peningkatan daya kualitas sehingga output dari peserta didik Khususnya SLTA menjadi “kurang matang” untuk mampu bersaing di ranah dunia kerja “realita”. Ini menjadi problema yang serius, karena mayoritas penekanan kualitas pada nilai UN yang setidaknya hanya menguntungkan sepihak dalam jangka waktu panjang yaitu dengan menjaga reputasi setiap lembaga pendidikan. Walaupun juga menguntungkan peserta didik dalam jangka waktu pendek. Tapi, apakah ini regulasi tepat disetiap tenaga institusi?

Saya kira kurang tepat jika semua tenaga kependidikan hanya “menggenjot” tingkat kelulusan semata dengan kurang memperhatikan dan berpikir futuristic “bagaimana nasib 10 tahun atau lebih dari peserta didik” dengan memangkas sebuah kreatifitas disetiap peserta didik sebagai wujud bekal untuk melihat dunia realita sebagai “ujian diri”. Sehingga dengan ini, penulis berharap, setiap yang terlibat dalam tenaga kependidikan perlunya melihat jangka panjang sebuah kualitas out put dari peserta didik sehingga tidak hanya menguntungkan sepihak bagi institusi pendidikan dengan berpijak pada reputasi lulusanya “ujian nasional”, walau secara setiap siswa kurang menyadari bahwa “kebingungan”telah menunggunya untuk menerima realita sebuah kehidupan tanpa skill yang dimiliki sehingga jika timbul sebuah kebingungan maka sebagai bukti gagalnya “ujian diri” dalam menentukan kualitas diri sendiri.

( di muat di Suara merdeka, tahun 2011)

Hendri Unduh N( Mahasiswa Stainu)

Jl Cemara, Rt 02 / 02 Ds Karangsari, Kec. Kebumen, kab kebumen

087 837 850 461

0 comment:

Posting Komentar