Kamis, Agustus 04, 2011

PERBANDINGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


Written by : Hendri Unduh N

Add caption
Sebuah realita jika dibandingkan idealitas, sebuah pemikiran memang begitu sulit kita satu padukan di satu rel dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Sebuah problematika yang ada selalu muncul dan memang sudah disuratkan dalam sebuah cobaan” sebagai bentuk kurang selarasnya idealismenya hidup dengan realita kehidupan. Itulah manusia yang selalu dan digariskan dalam hidup untuk selalu mendapatkan sebuah pendidikan.
Berbicara pendidikan dalam dekade kehidupan, semakin hari semakin sirna surut dalam sebuah makna idealisme filosofisitas pendidikan, sebuah ketimpangan, kriminalitas dalam sempitnya sebuah lajur perkembangan pendewasaan diri semakin merajalela. Inilah bukti empiris kurangnya idealitas dalam setiap action atas outcome pendidikan selama bertahun-tahun.
Berbicara pendidikan, memang seumur hidup tidak bisa selesai memperdebatkanya, karena setiap perpektif mengandung makna komprehensif atas jalinan geografis, mindset dan style kehidupan dari setiap masyarakat. Tentunya penyamarataan tidak mungkin dan tidak seharusnya kita ciptakan dalam sebuah keberagaman dan seharusnya harus kita padukan dalam satu bingkai frame identitas nasionalisme. Begitupula dengan transformisitas aksiologi dari pendidikan islam secara khususnya, keberagaman dalam setiap nilai yang terkandung seharusnya kita universalkan dalam sebuah linguistik pemahaman dalam menciptakan diskusi kultural lintas ilmu. Selain terciptanya sebuah kesinambungan komunikasi, kekayaan kultur nilai-nilai universalitas pendidikan islam semakin memiliki nilai yang luhur dan tinggi dalam aspek furu’-nya sebagai nilai pluralitas umat dalam menciptakan sebuah visi dan misi perdamaian. Sebuah sampel kecil, dalam sebuah keberagaman umat dalam satu komunitas keberagamaan di nusa tenggara timur, tepatnya di daerah kupang, secara komposisi kadar keberagamaan umat nasrani lebih kental dibandingkan dengan umat islam, namun suhu toleransi yang selalu diciptakan diantara tidak menimbulkan sebuh benih konflik  yang berkepanjangan dalam menciptakan sebuah perselisihan. Hal di atas memang bagian dari sampel outcome dari suksesnya pembelajaran pemahaman dalam pendidikan keberagamaan khususnya agama islam.
Kalau kita tarik benang merahnya dari setiap perselisihan yang muncul, setiap problematika dalam pendidikan, karena adanya nilai-nilai dokrtinal substansial sebagai landasan fundamentalis dalam menciptakan sebuah perselisihan dalam beragama. Karena tidak adanya tolak ukur studi perbandingan di antara lintas negara dalam memahami setiap materi pendidikan agama islam yang perlu kita aplikasikan di dalam dunia nyata. Sehingga dinamisasi kulturalitas hanya terbentuk pada sebatas pengembangan absolutisme doktrinal dengan mengatasnamakan kebenaran personal.
Bagaimana cara menanggulanginya serta mentransformasikan, untuk menghilangkan nilai-nilai adat budaya sebuah doktrinal parsialisme?
Dalam pendidikan islam kita kenal dengan istilah tasamuh (toleransi) simplitas pemikiran dalam menciptakan sebuah pemahaman yang bersifat komunalisme keberagaman tindakan, hal ini dapat dikatakan bagian dari keyword dalam menciptakan sebuah peradaban modernitas pemikiran yang berbanding lurus dalam keberagamaan setiap individu.
Sebagaimana yang telah ALLOH SWT firmankan dalam QS Al-Maidah ayat dua, sudah jelas sekali disebutkan bahwa:
“...tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya
Dalam surat di atas sudah jelas sekali, keberagamaan dalam keberagaman sebagai bentuk upaya dalam mengaplikasikan sebuah pendidikan agama yang multiethnis, semuanya dilandasi dalam bingkai taqwa, tentunya penjagaanya melalui diskusi perbandingan pendidikan agama secara kultural dalam memahami sebuah statment dalam bentuk universalitas pemahaman.
Bagaimana dengan pendidikan di negara Indonesia? kalo kita jujur, secara obyktif, pemahaman pendidikan agama islam di indonesia masih terlihat sekali pemahaman secara textualitas-doktrinal yang endingnya menuai pemahaman sinkretisme pengatasnamaan bahwa pendidikan yang telah diterimanya selalu benar, tanpa mengindahkan sebuah keberagaman. Yang kedua, kurangnya korelasi ilmu dalam merelvansikan setiap sample pemahaman keagamaan dengan hal duniawiyah.
Semisal contoh yang perlu kita pahami dan sadari bersama, setiap masyarakat tentunya tidak lepas secara doktrinal bahwa dalam memahami halal, haram, tentunya mindset berpikirnya lari pada paham keagamaan sebagaimana doktrin kuno seperti babi, anjing, bangkai dll. Ini realita dan konsep idealis dalam literatur-literatur keberagaman dimanapun, sehingga mindset berpikir masyarakat indonesia hanya pada tataran pemahaman parsial, tidak ada kaitanya dengan sifat keseharian. Namun, mungkin ceritanya beda jika kita pahami secara komprehensif dalam memaknai haram (larangan keras dan mendapat sanksi), halal (anjuran, mendapat hadiah) kita pahami dalam konstektual kehidupan. Sebagaimana contoh yang perlu kita pahami bersama, haram bagi seseorang jika tidak berhenti pada rambu-rambu lintas berwarna merah (dilarang dan kena sanksi) dan halal kita melintas jika rambu lalu lintas berwanarna hijau (dianjurkan dan hadiah keselamatan). Inilah yang seharusnya kita pahami bersama, pemaknaan pendidikan keagamaan secara komprehensif-dialogis secara kontekstual. Tentunya jika hal ini diterapkan, maka semakin banyak keteraturan yagn tercipta dalam keseharian hidup.
Yang ketiga, sentrifugalitas pendidikan perlu kita ciptakan bersama. Maksudnya, dalam memahami sebuah pendidikan keagamaan seharusnya bersifat keluar dari jalur doktrinal semata, namun esensi pendidikanya tidak kita lupakan. Sebagaimana kita pahami pada statment diatas. Jika kita berbicara jujur, dalam survai dan pengamatan yang kita lakukan, berbicara haram halal bukanlah pada regulasi keteraturan hidup, melainkan kepada doktrinal agama semata.
Tiga item di atas tentunya bagian dari kelemahan pendidikan keagamaan di Indonesia yang perlu kita pikirkan bersama dan kita lakukan perbandingan pendidikan keagamaan dengan negara tetangga, tanpa sebuah perbandingan dalam memahami multikultural dan ethnis sebuah kebudayaan dan keagamaan tentunya kita tidak mampu untuk mengaplikasikan sebuah otoritas bijak dan pemahaman pluralisme kehidupan yang perlu kita aplikasikan dalam bingkai firmaNYA yang berbunyi toleransi bersama.
Jika kita lirik negara-negara yang memiliki nilai-nilai demokratisasi kehidupan dengan menjujung nilai-nilai pluralitas kehidupan, ada beberapa sebuah makna yang akan kita sampaikan ambil sebagai komplementaritas keberagaman bersama, di antaranya:
Negara malaysia.
Negara malaysia dapat dikatakan negara yang menganut paham religiusitas tinggi dalam bingkai negara demokratis, setiap tatanan kehidupan di malaysia tidak lepas dari sebuah unsur penjiwaan keagamaan.
Dilihat dari otoritasnya, Saranan Kementerian Pendidikan untuk menetapkan 60 peratus pelajar aliran sains di universiti tempatan dan 40 peratus lagi oleh pelajar aliran agama dan sastera adalah rasional dalam usaha negara menuju kearah kemajuan sains dan teknologi. Jadi, lebih ramai lagi sumber manusia yang berasaskan sains dan teknologi dapat dihasilkan dimasa depan. Namun, kita tidak seharusnya terlepas pandang mengenai 40 peratus kuota bagi aliran sastera dan agama. Ianya menyentuh pengubal kurikulum Pendidikan Islam dalam merevolusikan sistem yang ada agar terbina jambatan antara kurikulum ukhrawi dan yang bersifat duniawi agar mereka juga berpeluang untuk didedahkan dengan sains dan teknologi diperingkat tinggi
Di indonesia
Membentuk ulama yang berpengetahuan dalam dan berpendirian luas serta mempunyai semangat dinamis. Hanya ulama yang seperti itulah yang bisa menjadi pendidik yang sebenarnya dalam masyarakat.” Pendidikan Islam di Indonesia selalu dihadapkan pada tantangan-tantangan serius yang membutuhkan perhatian ekstra dari pemerintah dan kalangan yang berkecimpung di dunia pendidikan. Dewasa ini, pendidikan Islam setidaknya menghadapi empat tantangan pokok. Pertama, konformisme kurikulum dan sumber daya manusia; kedua, implikasi perubahan sosial politik; ketiga, perubahan orientasi; dan keempat, globalisasi. Semua tantangan pendidikan Islam tersebut terkait satu sama lain.
Jadi dengna penjelasan singkat di atas dapat dikatakan bahwa, pendidikan islam di indonesia belum menemui jalur lurus dengan perkembangan saintisme, walaupun di cantumkan dalam firmaNYA, namun aplikasinya masih di ambang batas kehidupan.


0 comment:

Poskan Komentar

Pendidikan (up to date)

Loading...