Jumat, November 04, 2011

Guru GTT Vs Guru Sertifikasi



Berbicara GTT maupun guru sertifikasi sudah menjadi rahasia umum dalam sector pendidikan. Setelah kami analisa, dalam sebuah realita praktis di lapangan banyak terjadi sebuah penyimpangan baik dalam sebuah beban kerjanya, insentifnya dll. Sadarkah wahai semua guru?
Sesaat berdiskusi dengan teman-teman, banyak yang mengartikan bahwa Secara beban kerja, guru GTT sebagai “sapi perah” dengan dalih mengabdi yang menjadi senjata bagi para guru-guru sertifikasi untuk mau melakukan segala urusan administrative kependidikan atau dengan alasan sudah “sepuh”. Sehingga guru GTT yang menjadi tumpuanya dalam menjalankan roda pendidikan. Selain menjadi guru yang bepredikat “sapi perah” di lihat dari sisi insetifnya, guru GTT juga menyandang gelar yang funtustik yaitu “Guru Tingak Tinguk”. Sungguh malang dan kasihan,dikala wajah seri dan senyum mengumbar bagi guru sertifikasi.guru GTT hanya “tingak-tinguk” hanya mampu berbekal kata “sabar” ketika gaji hari H penerimaan gaji sudah tiba.apakah ini bagian dari formulasi kebijakan?
Saya kira tidak, setahu saya dalam formulasi kebijakan tidak ada yang namanya guru GTT. Tapi keberadaan GTT, juga tidak dipermasalahkan, namun hanya kesadaran realita yang perlu idealis. Seharusnya kinerja bagi guru Sertifikasi sebanding dengan insentif yang diterimanya. Dilain sisi, budaya yang berkembang dalam ranah masyarakat bahwa guru GTT menjadi bagian langkah awal untuk menuju guru PNS. Sekali lagi saya belum mengetahui formulasi kebijakan yuridis bahwa bagi guru yang akan menjadi PNS harus mengabdi dulu untuk mendapat gelar “sapi perah” dan “guru tingak-tenguk”. Dan jikalau jika diaplikasikan juga tiada masalah. Namun dimana keadilan jikalau hal ini menjadi budaya?
Seharusnya jikalau berdalih hanya untuk membantu, hanya untuk latihan dan pengalaman. Seharusnya bagi guru yang sertifikasi harus sadar diri bahwa segala beban kinerjanya tidak semata-mata diri sendiri yang mengerjakan jadi perlunya ada kesadaran untuk memberi keiklhasan sekian persen atas kinerja bagi guru GTT. Selain itu, apresiasi tidak hanya dalam wujud ranah berbicara “kehidupan”. Namun dalam ranah akademika, guru sertifikasi seharusnya memberi kebebasan bagi guru GTT untuk berkreatifitas dalam penerapan metode,konsep dalam proses pembelajaran sesuai dengan SK /KD sehingga pembelajaran tidak monoton. Sehingga diharapkan, guru GTT dan sertifikasi mampu berkolaborasi untuk mewujudkan idealitas pendidikan dengan kesadaran diri dan kebebasan dalam prosesnya (acuanya tetap SK /KD).
Hendri Unduh
Jl Cemara Karangsari, RT 02 / 02 kec kebumen, kab kebumen

0 comment:

Posting Komentar