Jumat, Desember 09, 2011

Kemdikbud Vs Kemendiknas


( di Muat di Koran Suara Merdeka)

Indonesia adalah negara heterogen, pluralis dalam bingkai sosialis-nasionalis yang terkenal dengan budaya gotong royong, kemandirian, demokrasinya dan multikultur sebagai substansi adanya keragaman multietnis bangsa. Ditengah gencarnya transisitas penanaman pendidikan karakter, pemerintah seakan membuat sesuatu lebih heboh lagi dengan meleburkan dua dirjen menjadi satu padu. Ada beberapa alasan yang perlu kita analisa, diataranya :
Pertama, realitas bangsa yang mulai jauh dengan akar budaya bangsa. Kedua, minimnya moralitas para penghuni negeri (koruptor), perampokan dll dan masih banyak lagi alasan fundamen lainya. Dalam hal ini, tentunya bagian penegasan eksistensi dari pendidikan yang tidak tercerabut dari nilai Kultur desa yang terakumulasikan dalam peleburan kultur bangsa. Namun, perlu kita analisa juga, sebelum adanya kemdikbud, produk-produk buatan kemendiknas yang masih mengakar dalam pendidikan dengan standarisasi  nasional (SSN), SBI (sekolah berstandar internasional) masih belum jelas standarisasinya. Bukan berarti penulis menegasikan untuk menghilangkan, meniadakan anak pinak dari kemendiknas dengan melebur menjadi anak pinak kemedikbud, semisal sekolah berbasis budaya bangsa (SSBB) walaupun belum ada dan belum jelas, atau belum dirumuskan anak pinak dari kemdikbud. Namun bagaimana meleburkan dua anak pinak kemendiknas (SSN, SBI) dengan kemdikbud. Yang menjadi pertanyaan, apa anak pinak perpanjangan untuk mengeksistensikan budaya dalam ranah aplikasi di tingkat bawah? Belum ada, dan masih baru. Oleh karena itu, perlu kaji bersama, peleburan kemendiknas menjadi kemdikbud, semoga tiada penghapusan anak pinak dari produk kemendiknas. Namun bagaimana meleburkan kedua anak pinak yang menjadi bagian otoritasnya, untuk menciptakan siswa yang mempunyai pola pikir berbasis internasional namun pola sikap masih membumi sesuai kultur bangsa. Dengan hal ini, kesadaran masyarakat menjadi hal penting untuk menyikapi transisitas ini dalam menciptakan masyarakat think globally, act locally. Sehingga tidak terjebak untuk saling menghapuskan produk satu sama lainya, namun saling melengkapinya.semua ada kelebihan dan ada kekuranganya, tinggal bagaimana komplementarnya.

Hendri Unduh N (Mahasiswa STAINU Kebumen)
Jl Cemara Rt 02 / 02 Ds karangsari, Kec Kebumen, Kab Kebumen 54351
087 837 850 461

0 comment:

Posting Komentar