Selasa, Mei 08, 2012

Reinterpretasi PAI

PERSATUAN UKHUWAH ISLAMIYAH
WACANA DIMUAT Suara Merdeka

04 Mei 2012



Dinamika peradaban semakin ketat. Kompetensi semakin kuat, namun bukan halnya seiring dengan aktualisasi nilai-nilai kontekstual pemahaman pendidikan agama Islam (PAI), justru sebaliknya mereduksinya akhlak, moral etika bangsa yang mulai hilang dari akar budaya bangsa yang erat kaitanya moralitas agama.

Ini memang sedang menjadi pekerjaan rumah sendiri bagi para pendidik, khususnya Kemdikbud dalam merevitalisasi cerminan pendidikan melalui internalisasi pendidiakan berbasis afektifitas (karakter).

Kalau kita analisis, minimnya karakter bangsa akibat mereduksinya pemahaman kontekstual dari pendidikan agama serta rendahnya pengamalan aktualitas dari ilmu yang telah di pelajari. Sehingga secara tidak langsung perlunya revitalisasi yang berimplikasi pada reinterprestasi pola pikir, pemahaman dan paradigma semua siswa pada pendidikan agama Islam.

Contoh, revitalisasi pemahaman haram dan halal dalam ilmu fiqh haram tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan penanaman secara tektualitas doktrinal klasikal seperti bangkai, babi, dan lainnya.
Namun perlunya revitalisasi pemahaman ulang dengan membubuhi contoh kontekstual sebagaimana yang menjadi erat hubunganya dalam keseharian. Contoh, haram hukumnya menerobos lampu merah saat berkendara.
Hal ini sah-sah saja. Kenapa haram? Difinisinya berdampak tidak hanya berimplikasi vertikal, namun horisontal seperti merugikan orang lain, rawan kecelakaan, dan sebagainya yang intinya banyak mudharat (kerugiannya).

Contoh lain, makna adzan bagi pendidik tidak hanya bersifat ibadah mahdoh namun relevansi jiwa spirit optimisme pada dasarnya sudah tersirat setelah pengamalan ibadah. Contoh, ketika muadzin mengucapkan lafadz ”haiyya ‘ala shalat” ini ajakan fundamen dalam kehidupan kita perlu adanya komunikasi vertikal secara formalis sebagai aktualisasi realitas, kemudian berucap lafadz ”haiyya Ă«ala falah” ini ajakan nilai-nilai spiritisme, optimisme dan motivasi.

Bahwa ketika kita telah melaksanakan shalat, penanaman optimisme dalam meraih kemenangan perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagi bukti aktualisasi ibadah vertikal. Sehingga kemalasan, kestagnanisasian, kejumudan bukan dari Islam.

Namun spiritisme berbasis pembumian nilai-nilai katauhidan pada dasarnya konsep dasar makna spiritisme, pembumian akhlak, moral bangsa yang menjadi bibit utama dalam pendidikan karakter.
Sehingga dalam mengembangkan sebuah konsep nyata, perlunya difinisi prinsipal yang mempunyai relevansi utama dalam kehidupan sehari-hari, tidak lepas dari esensi utama.

Sehingga kami harapkan para pendidik perlu reinterprestasi pendidikan agama Islam tidak hanya pemahaman doktrinal tektualitas, namun sebagai ranah kontekstualitas sebagai upaya penanaman nilai, karakter dan kepribadian sebagai wujud dasar dalam membangun pribadi bangsa.

Hendri unduh N
Mahasiswa Stainu Kebumen
Jl Cemara RT 02/02 Desa Karangsari
Kebumen 54351
087837850461

0 comment:

Posting Komentar